Senin, 10 November 2014

Something Happened on October 15th

Sejak beberapa minggu lalu aku sudah koar2 di akun twitter dan facebookku tentang ini, yaitu keikutsertaanku di Lomba Menulis Novel Inspiratif (LMNI) Indiva 2014. Tapi semua itu kutuliskan tersirat dalam statusku.  Biar teman-teman di kantor nggak heboh. Tahu sendiri lah kalau hebohnya mereka itu berbahaya. Banyak fitnah ntar...bikin malas jadinya.
Terus hari ini, Rabu (15/10/2014) sangat kunantikan. Sebab, ini adalah hari pengumuman lombanya. Aku buka website penerbit yang mengadakan lomba ini, yaitu Indiva Media Kreasi. Dan ternyataaaaa eh ternyataaaa....pengumuman diundur sodara sodaraaaa....
Awalnya, tenggat waktu pengiriman naskahnya 31 Agustus 2014 dan pengumumannya 15 Oktober 2014. Ternyata, waktunya diundur. Naskah masih bisa diterima hingga 30 September 2014 dan otomatis pengumuman juga diundur jadi 1 Desember 2014.
Hhmmm...nggak apa2 lah yaaaa...

Ini nih diyaaaa aku capture pengumumannya di web Indiva. Ternyata diundur jadi 1 Desember 2014 pengumumannya.

Aku yang tadinya sudah deg2an setengah mati menanti hasilnya ternyata belum bisa mengetahuinya hari ini. 1 Desember cuuuuyyyy
Tapi yang jelas ada yang bikin aku pengen jingkrak2 tadi. Mau tahu apa? Namaku dinyatakan sebagai salah satu peserta yang lolos seleksi tahap awal, yaitu seleksi administrasi. Aku ada di urutan ke 77 dari 100 lebih peserta yang lolos.
Tahu nggak? Pas melihat daftarnya aku sempat deg2an.karena sudah di urutan ke sekian puluh namaku belum nongol juga.
Eeeeehhh akhirnya ada juga di urutan ke 77. Senyam senyum terus sampai aku screen capture tuh halaman webnya. Kan onlinenya pakai hp.
Tapi nggak aku bikin status di fb sih. Takutnya rame ntar. Kan baru lolos seleksi administrasi. Aku cuma share di twitter dan path. Soalnya di situ aman hehehe.
Screen capture nya sampai aku sunting dan percantik lho pake aplikasi photogrid biar keren heheee. Niiii kalo mau lihat buktinya....ada fotonya tuuu ....


Tuuuh lihat sendiri kan? nomor 77 yang aku limgkari merah2 tuh. Nama siapa tuuuh? ahaaaayyyy!
Btw...aku selama ini menganggap novelku yg kukirim untuk lomba ini bersejarah banget. Penuh kenangan hidupku karena sebagiannya adalah kisah nyata. Judulnya Cinta 2 Masa.
Ini capture sebelum kusunting di Photogrid
Terus proses pembuatannya perlu waktu yang lamaaaaa banget. Dari 2008 hingga Desember 2013 baru rampung. Lama nian yaaaaaa
Ceritanya niiii pada 2008 lalu aku kembali jadi pengangguran. Sebelumnya aku stres banget sama kerjaanku sebagai guru di SDIT Attaufik, Bogor.
Aku nggak suka kerja yang waktunya tertentu dan di ruangan terus. Aku ini berjiwa petualang,  sukanya pekerjaan yang menantang dan di lapangan. Plus hobi banget menulis.

Di saat stres aku suka menghilangkan kejenuhanku dengan menulis fiksi. Ketika aku menulis rasanya puas dan menyenangkan sekali. Beban hidupku terasa menguap jauh melambung ke angkasa.
Setelah 2, 5 tahun jadi guru, akhirnya di medio 2008 aku memutuskan berhenti jadi guru. Aku resign dan ingin jadi penulis saja. Namun karena pengangguran dan uang pesangonku belum juga cair, aku stres banget. Nggak tega ngomong sama orangtua dan kakakku kalau aku benar2 bokek. Duit di dompetku hanya beberapa ribu rupiah. Untung saja aku masih tinggal di rumah kakakku di Bogor sehingga tak perlu pusing soal makan.
Di sela2 kegiatanku nganggur, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk menulis. Ya novel ini nih hasilnya.
Sempat beres sekitar 50% ketika kemudian, di medio 2009 aku memutuskan untuk pulang ke Banjarmasin dan bekerja di kota ini saja. Kasihan juga orangtuaku waktu itu tinggal berdua saja di rumah dan mereka sudah tua.
Setelah pulang ke Banjarmasin, aku masih menganggur dan masih berkutat dengan novelku ini. Di Desember 2009 aku mendapat panggilan kerja sebagai wartawan di harian Banjarmasin Post.
Sejak resmi jadi wartawan,  waktuku benar-benar tersita untuk pekerjaan. Jadi wartawan,  apalagi di media besar anaknya Kompas Gramedia Group ini menuntut para wartawannya harus selalu standby dan kerja keras. Maklum,  kami menyuplai berita untuk tiga media cetak dan satu media online. Dulu lebih parah lagi ketika ada media digital sebelum tak laku dibaca dan radio sebelum diambil alih oleh Radio Sonora miliknya Kompas.
Aku sejak itu pulang kerja tengah malam terus. Jam kerja nggak jelas. Terkadang pagi-pagi sudah harus standby di kantor. Pulang ke rumah sudah capek. Tak jaranh lhooo aku tidur di rumah lupa lepas kaus kaki,  ganti baju dan lepas jilbab.  Langsung ngeblek aja di kasur.
Otomatis waktuku untuk menulis jadi sangat terbatas. Keinginanku untuk kembali menulis fiksi dan merampungkan novelku ini kembali menggeliat ketika aku dipindah ke desk Gaya,  Budaya dan Hiburan di akhir 2011.
Redakturku, Siti Hamsiah, benar2 menyebalkan. Galak, sensitif, mudah tersinggung,  pemarah, pendendam, hobi berburuk sangka sama anak buah sehingga membuat semua anak buahnya stres dan tak akrab dengannya.  Dia paling sensitif ke perempuan.
Dia juga kaku dan senang menyuruh2. Bossy banget. Anak buah harus siap bos terus, nggak boleh bahkan susah membantah perintahnya.

Dia kalau sudah dibuat marah, dendamnya bisa berbulan2. Gawatnya,  dia sering berburuk sangka ke aku. Padahal aku hanya ingin berkoordinasi ketika ada kendala.

Dia seperti ini ternyata nggak cuma ke aku tetapi ke semua anak buahnya. Aku jadi sering sakit. Sebabnya karena tekanan batin dan lelah karena tenagaku terus diperasnya.

Pernah pas liputan di malam tahun baru. Angin dan hujan kencang banget nggak berhenti2. Aku terjebak hujan di Taman BBudaya Kalsel sementara kondisi badanku demam. Aku nggak bisa pulang dan hanya tiduran di musalanya.

Saat itu dia SMS aku, disuruhnya liputan penampilan teater Sanggar Titian Barantai Universitas Islam Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dalam rangka peringatan tahun baru. Acaranya tengah malam boooo. Parahnya lagi aku nggak punya kontak mereka.

Aku benar2 nggak bisa mikir gimana caranya supaya bisa liputan via telpon aja. Akhirnya,  ketika hujan reda aku datang juga ke kampus itu. Asli kalau lagi sakit nggak bisa mikir waras ya.

Akibatnya,  kondisi fisikku makin menurun. Akhirnya tepar juga. Plus maag ku kambuh, radang usus dan lambungku lecet. Akibatnya,  aku sering muntah dan muntahku berdarah beku.

Sering lho aku ngalami kejadian nggak enak kyk gini. Waktu seakan berlalu hanya untuk bekerja. Bahkan, di waktu luang aku lebih memilih untuk beristirahat atau mengerjakan hal lainnya yang bersifat having fun. Ibaratnya me time lah sehingga waktuku menulis makin terbatas.

Benar2 tekanan batin dan hal ini kerap terjadi...tapi untung sakitnya nggak sering kambuhnya. Cuma sesekali. Tapi yang jelas, kejutekannya itu hampir tiap hari.

Nggak cuma ke aku dia begitu, tapi ke yang lain juga, yang anak buahnya aja. Lama-lama aku baru ngerti kalau dia itu tipenya gampang stres dan terlalu kaku terhadap aturan. Dia kerap menghadapi masalah sesepele apa pun dengan emosi. Padahal santai za kaleeeee...tapi dia nggak bisa kayak gitu.

Foto narasumber pecah dikit aja dia sudah stres. Padahal, santai aja kali ya. Kayaknya di pikirannya itu sudah berkecamuk berbagai hal atau prasangka macam2, semacam sugesti negatif lah sehingga dia jadi stres sendiri. Buntutnya, dia marah2 nggak jelas dan berburuk sangka ke anak buah. Terus, anak buah yang nggak ngerti apa2, tiba-tiba diperlakukan senewen kayak gitu ya langsung kaget. Belum lagi dia langsung berkata-kata yang nggak sopan atau tiba2 marah dan mengirim emoticon setan di bbm. Gimana orang nggak kaget? kan kasar banget. Dan yang pasti orang ya langsung marah digituin....

Hmmm....macam2 aja punya bos kayak gitu...Dan solusinya cuma satu: cuekin aja dia kalau lagi stres gitu, ntar juga adem sendiri. Kalau pun perlu amenjawab ya seadanya ajah. Cukup bilang YA atau anggukkan kepala saja.

Orangnya nggak suka bergaul dan terlalu sok islami. Yang di pikirannya hanya kerja dan kerja. Dia nggak suka jalan2, melewatkan waktu bersama teman2 walau sekadar makan bersama atau nonton di bioskop. Dari pagi sampai hampir tengah malam dia di kantor melulu, duduk aja di depan komputernya....KERJA. Dia menghilang dari tempat semedinya itu cuma pas makan atau salat atau ke toilet.

Yaaaah gitu deh...hal2 ini di awal2 aku di desk hiburan sangat bikin aku stres. Belum lagi, dia yang suka numpuki aku kerjaan membuatku keteteran dan pulangnya malam terus. Di saat libur aja aku tetap diberinya tugas liputan. Terus nyuruh2nya kasar pula. Lama2 aku jadi berani berantem sama dia kalau dia ganggu2 liburku lagi. Capek boooo ni badan tepar. Pas jadwal masuk kerja diperas banget, pas jadwal libur tetap dikasih kerjaan. Kasihan mama gue ditinggal terus. Akhirnya, dia nggak berani juga ma aku gara2 aku pernah marah2 pas off ku diganggu2. Aku jadi tegas ke dia kalau aku libur atau SMSnya sama sekali nggak kubalas dan aku nggak ngerjain sama sekali perintahnya pas aku libur. hahahhaaa bandel yaaaa...

Aku berpikir kalau hidupku seperti ini terus, lantas kapan aku punya waktu untuk mewujudkan banyak impianku yang lain. Aku ingin menjadi penulis keren, karya2ku disukai banyak orang, ingin punya royalti yang cukup bgt untukku dan keluargaku. Terus ingin keliling dunia gara2 menulis seperti penulis2 hebat macam Asma Nadia.


Akhirnya, aku jadi berpikir untuk wajib menyisihkan waktuku barang 5 menit untuk menulis. Walau pun hanya 2-3 kalimat pendek sealinea ya nggak apa2. Yang penting menulis dan novelku Cinta 2 Masa ini selesai terus dikirim ke penerbit.

Jadilah akhirnya berusaha untuk meluangkan waktuku sepulang kerja, tiap tengah malam, untuk menulis novel ini. Capek banget badan ini, tapi aku sudah bertekad harus kuselesaikan.

Aku mencoba memberikan tenggat waktu penyelesaiannya. Harus begitu, agar semua terencana. Aku menargetkan minimal akhir 2013 harus rampung.

Dan akhirnyaaaaa....bisa tepat waktu juga. Beberapa hari menjelang tahun baru 2014, akhirnya novel ini bereeeeeesssss.....

Huuufffttthhhh....leganyaaaa sangat bangaaaatttt sekaliiiii heheheheheee....pas sudah beres kupandangi lama2 tiap babnya. Terkadang kubaca2 ulang....sambil menghela nafas lega dan mimik wajah terharu penuh kebanggaan luar biasa gituuuuu....hihihihihiii....

Teruuuusss...aku secara nggak sengaja, pas itu iseng main2 sambil cuci mata plus liputan ke bookfair di Lapangan Murjani,  Banjarbaru. Ketemu gitu sama beberapa penulis keren dari Kalsel di acara peluncuran novel Galuh Hati karya bang Randu Alamsyah.  Ada bang Sandy Firly sama Harie Insani Putra juga di situ. Oyaaa ada Ananda Rumi juga, temanku sesama penulis dan jurnalis. 

Mereka baca novelku ini yg draft-nya aku simpan selalu di aplikasi dropbox di hpku. Kata mereka bagus dan disarankan kirim ke sebuah penerbit baru yang sedang nyari naskah. Naskah yg mrka cari sesuai bgt ma novelku ini, islami. 

Terus aku dikasih nopeeditornya yg ternyata orang Banjarbaru.  Trus kontak2an deh sama editornya. Namanya Nurul Asmayani.

Setelah dikirim dan dpt hasilnya. Ternyata DITOLAK hanya gara2 ada kata anjrit dalam dialognya. Sebagai novel islami nggak boleh kyk gitu, kata mbak Nurul. Gue baca2 novel2 terbitan penerbit itu ternyata gaya bahasanya nggak novel gue banget.

Bahasanya serius dan mendayu2 menurutku. Sementara novelku ini, ngepop abiiiis pas di bagian Rayshad dan Riko karena menyesuaikan latar waktunya yaitu Jakarta tahun 2000an. Terus gaya bahasa yg kupilih di bab2 tentang Rahma yang ceritanya hidup di era 1800an full sastra, banyak metafora dan kiasan2 gitu.

Hmmm ya sdh deh mungkin belum rejekiku di penerbit itu. Tapi novelku kemudian kurevisi jd lebih bagus...ada penambahan di alurnya dan latar tempatnya di bagian Rahma, lebih dipertegas gituuuu....

Gitu deh ceritanya sebelum akhirnya aku mendengar ada LMNI ini. Walau ada kekurangan tapi aku pede aja ngirim. Dan hasilnyaaaaa....jeng jeng jeeeeeng....lihat sendiri deh di foto ini heheheee


Bagiku...yg seumur2 menganggap prestasi terbesarku selama ini adalah berhasil juara 1 lomba menulis puisi antarkelas pas takhasus di Punggawan dulu (padahal itu mewakili kelas bukan pribadi), pas lolos seleksi awal LMNI ini adalah sesuatu yang berharga banget. Ini tingkat nasional booooo....walaupun baru lolos administrasi dan belum tentu jadi juaranya. ...ya ngga pa2 lah....

Asli ini berkah banget. Dan bisa banget kubanggakan ke seantero jagat raya....ihiiiiiyyyy...#duuuuh_bangganyaaaa

But, anyway....


Harapan terbesarku ikut lomba ini adalah novelku bisa diterbitkan dan dijual luas di Nusantara ini. Plus bisa dinikmati pembaca dan bisa jadi inspirasi mereka. ...amiiiiin.


Daaaaannnn hasilnya adalaaaahhhh....
Hari ini, Jumat (20/2/2015) baru ngeblog lagi saya. Hasilnya, aku nggak menang. Cuma jadi finalis. Tapi mbak Tami nyemangati aku katanya jadi finalis aja sudah merupakan prestasi besar, udah oke banget.

Heheheheee....iya, nggak apa2 ya, yg penting ttp semangat. 

Minggu, 09 November 2014

Lomba menulis cerpen

Suamiku, aku mengizinkanmu untuk menikah hingga empat kali. Pertama menikahiku. Lalu menikahiku. Menikahiku. Dan terakhir, menikahiku

(Sayap-sayap Sakinah by Afifah Afra & Riawani Elyta)

Minggu, 02 November 2014

Me and Celebrity Part 2

Foto bareng Cakra Khan usai jumpa penggemar dan wawancara Cakra di Foodcourt Duta Rasa, Duta Mall, Banjarmasin. Kalau nggak salah di 2013 ni, bulan ma tanggalnya lupa.

Sabtu, 01 November 2014

Me and Celebrity Part 1

Foto ini kuambil saat liputan konser puncak Soundrenalin 2013 di Stadion Maguwoharjo, Sleman,  Yogyakarta. Banyak artis yang tampil. Ada band Gigi, Kotak, dll.
Di antaranya ada ex vokalis band Seurieus ini, Candil.  Ketemu dia usai jumpa pers di tenda jurnalis di tempat acara.
Lucu banget pas lagi berfoto bareng dia. Yang memoto orang lain. .. minta bantuan gitu deh.
Aku pasang senyum manis. Poseku biasa aja menurutku. Terus aku nggak lihat lagi posenya si Candil seperti apa. Beres foto dia kayak jaim gitu.
Aku bilang terima kasih ke dia terus dia balas sama2. Terus aku lihat hasil fotonya,  aku langsung ngakak. Upppssss dalam hati aja sih ngakaknya. Kan malu di situ lagi banyak orang. Kebayang kan kalo aku tiba2 ngakak sendiri nggak jelas gitu. Ntar aku dikira gila deh hahaha. ...
Lihat sendiri deh pose dan mimik wajahnya Candil di foto ini. Asli bikin ngakak. Wkwkwkwkwk....

Selasa, 21 Oktober 2014

Sebuah Renungan, Biar Tambah Semangat Jalankan Bisnis Oriflame

Tadi malam, tepatnya Senin (20/10/2014), aku menyempatkan diri online di warnet. Sekalian pulang dari kerja. Untung nggak terlalu malam, tapi di warnetnya nggak berani lama2 karena khawatir dicari orangtua.

Mau pesan oriflame di HP tadi lagi lowbat banget sementara pesanan harus dipesan secepatnya, takut kehabisan. Jadilah saya mampir ke warnet sekalian buka2 facebook untuk follow up prospek.

Tiba2 ada yang menyapaku di inbox FB. Temanku semasa SMA, Trisnawati. Dia sekarang berdomisili di Jepang, mengikuti suaminya yang bekerja di sana. Dia juga konsultan Oriflame. Dia bergabung lebih dulu dariku, sekitar setahun sebelumku, namun dia sempat vakum beberapa bulan karena sibuk mengurus kepindahannya ke Jepang.

Aku masih ingat, beberapa bulan lalu kami pernah chatting juga di FB. Saat itu levelnya masih sama denganku, 3 persen. Tadi malam, saat dia chatting denganku, dia bilang levelnya sudah 9 persen, sementara aku masih 3 persen.

Pikirku hebat juga ni dia. Katanya, dia selalu Oriflamean kapan saja. Di kala mengurus rumah tangganya, mengurus suami dan anaknya yang masih bayi, dia masih menyempatkan waktu untuk mengurus bisnis online-nya.

Mencuci baju, memasak, beres-beres rumah, menyusui anak bahkan saat sedang online memesan barang atau memprospek dia sambil ngemong anak. Dia akan lebih leluasa online ketika anaknya sudah tidur dan saat malam. Malam pun di kala online, dia masih harus direpotkan dengan anaknya yang sering terbangun. Namun semua itu dijalaninya dengan penuh semangat. Prinsipnya sih Man Jadda Wajada (pepatah Arab yang populer banget di Indonesia, artinya siapa yang bersungguh-sungguh dia pasti berhasil). Dia bahkan pernah menantangku untuk reunian di London tahun depan.

Aku penasaran bagaimana caranya dia bisa menjalankan bisnisnya walau siang malam di rumah saja dan di negara orang pula. Setahuku dia hanya keluar rumah jika harus menemani sang buah hati bermain atau pergi bersama suaminya.

Ternyata, dia di Jepang hanya mengandalkan gadget-nya, online. Online baik untuk promo barang, menawarkan barang, memesan, membayar dan memprospek. Sementara pembelinya adalah teman, keluarga dan tetangga2nya di Indonesia. Paketan dikirim ke alamat orangtuanya di Cilacap, Jawa Tengah. Terus, pemesannya yang kemudian mengambil barang ke rumah orangtuanya.

"Murni online aja, Yu. Aku bayar2 juga dari Jepang," demikian tulisnya.

Aku benar2 takjub. Jadi lebih semangat. Benar2 keren ya Oriflame, segala fasilitasnya lengkap baik offline maupun online. Urusan bayar2 kan bisa online ya seperti yang dilakukan temanku ini, jarak jauh aja dari negerinya para samurai. Tapi semua bisa tetap dijalankannya.

Memang harus fokus ya menjalankan bisnis ini. Mengingat selama ini aku yang bekerja sebagai jurnalis, jam kerja tak jelas. Terkadang harus berangkat pagi-pagi jika ada tugas liputan, terkadang siang baru berangkat dan yang pasti pulangnya malam terus. Bahkan jika ada liputan artis yang tampilnya di diskotek, aku terpaksa harus pulang menjelang subuh karena acaranya wajib dihadiri sebab suasana konsernya harus hidup digambarkan di berita. Sering juga berangkat sebelum pukul 7 pagi dan pulang menjelang pukul 12 malam.

Untuk Oriflame, jika sedang sibuk banget terpaksa hanya bisa sebar2 katalog atau online di media jejaring sosial, sekadar sebar2 slide atau flyer, walaupun nggak ada yang merespon ya nggak apa2 lah heheheee. Yang penting kan sudah usaha. Terkadang, di sela-sela obrolan dengan teman-teman di kantor atau sesama jurnalis, aku iseng2 aja mengajak mereka bergabung walau hanya dengan kalimat pendek dan sambil lalu: Mau gabung Oriflame nggak? nanti aku daftarin. Gitu aja kata2nya dan setelah itu langsung ditolak hahahaa...

Sering juga, karena saking lelahnya dan badan sedang sakit, aku libur dulu oriflame-an. Murni istirahat saja di rumah, atau jika sedang jenuh banget dan fisik lagi memungkinkan, kabur aja ke mall atau bioskop nonton film komedi atau horor Hollywood. Aneh memang, film horor selalu sukses bikin galau atau lelahku berkurang.

Awal bergabung di bisnis ini karena ingin segera berhenti dari pekerjaan jadi wartawan dan ingin bisa fokus menulis karena sejak masih imut2 dulu memang bercita2 banget jadi penulis selain karena hobi juga. Plus pengen banget bisa jalan2 keluar negeri. Walaupun aku suka dan menikmati banget jadi pemburu berita di lapangan, namun jika mengingat tekanan kerjanya, luar biasa makan hati. Sudah capek di lapangan, balik ke kantor harus bertemu dengan teman2 atau atasan yang suka marah2 dan kata2nya menyakitkan. Memang harus banyak bersabar.

Mengerjakannya pun menurutku belum maksimal. Belum terlalu fokus. Berkaca pada pengalaman temanku ini, jadi malu sendiri. Memang harus semangat yaaaa... apalagi jika benar2 diseriusi insya Allah nggak akan sia2.Tinggal maksimalkan otak kanan kita untuk bisa mengatur waktu dengan baik agar semua urusan bisa tertangani dengan baik juga.

Dan alhamdulillah, masih bisa menyempatkan waktu untuk Oriflame an dan menulis walaupun terkadang waktunya hanya beberapa menit dan menulisnya hanya bisa sealinea berisi 2-3 kalimat pendek. Seringnya tengah malam setelah sampai rumah menjelang tidur, sempatkan waktu dulu buat pesan barang dan menulis.  Untuk urusan menulis, alhamdulillah salah satu novel yang sudah kuhasilkan dan kutulis di sela-sela kelelahanku beraktifitas ini, telah berhasil masuk 100 besar lolos seleksi awal sebuah lomba menulis novel tingkat nasional.

Berkaca dari pengalaman temanku tadi, terpenting adalah KEMAUAN UNTUK SUKSES di sini dan keyakinan bahwa kita PASTI BISA. Buktinya, dia yang sehari2nya disibukkan dengan urusan rumah tangga dan mengurus anak yang masih bayi, tinggal jauh di Jepang sana bahkan jauh banget dari kantornya Oriflame di sini, tetap bisa menjalankan bisnis ini.

Jumat, 17 Oktober 2014

Kangen Udara Sejuk Merapi

Kali ini aku cerita ttg serunya pengalamanku di Gunung Merapi, Jawa Tengah.  Sekitar Juli 2014 lalu,  di tengah puasa Ramadan 1435 Hijriyah.
Udaranya sejuk banget. Kayaknya bakal betah tinggal di sini.
Aku memang penyuka udara pegunungan.  Di foto ini rombongan yg berjumlah sekitar 20an orang sedang bersiap-siap menuju Musium Mini yang menyimpan berbagai koleksi benda korban letusan Merapi pada 2010 lalu. Terus kami ke bunker juga yg dibangun Pemkab Sleman untuk wisatawan.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Happy Rocktober

Senangnya join oriflame ituuuu

Bisa dpt ky gini niiiihhh

Kalo aku sih buat investasi masa depan ku....sip bgt kok ini

Ini iklan nggak sih? Hahaha

Jumat, 03 Oktober 2014

Famtrip 2 Yogyakarta with Garuda Indonesia Airlines

Happy trip
Nggak berasa kerja gue selama dinas luar kota di Yogyakarta
Juli 2014 lalu....tanggal nya lupa hehehe
3 hari di sana
Capek bgt naik2 gunung Merapi juga
Sukses bikin aku nggak puasa 2 hari hahaaay
Itulah enaknya jadi wartawan
Jalan2 refreshing gratis dibayarin sama bapak2 Garuda hehehe
Kalo foto ini sih trip hari terakhir sebelum bertolak ke Bandara Adi Sutjipto menuju Bandara Syamsuddin Noor, Kalsel.
Ini habis mengunjungi Candi Ratu Boko

Ketemu Mas Gola Gong Sang Penulis Fiksi

My 1st blog ever after my old blog is off

Nice 2 blog again

This is me with Gola Gong, 1 of the greatest author in Indonesia
I met him in an event in Taman Budaya Kalsel last September 2014