Tadi malam, tepatnya Senin (20/10/2014), aku menyempatkan diri online di warnet. Sekalian pulang dari kerja. Untung nggak terlalu malam, tapi di warnetnya nggak berani lama2 karena khawatir dicari orangtua.
Mau pesan oriflame di HP tadi lagi lowbat banget sementara pesanan harus dipesan secepatnya, takut kehabisan. Jadilah saya mampir ke warnet sekalian buka2 facebook untuk follow up prospek.
Tiba2 ada yang menyapaku di inbox FB. Temanku semasa SMA, Trisnawati. Dia sekarang berdomisili di Jepang, mengikuti suaminya yang bekerja di sana. Dia juga konsultan Oriflame. Dia bergabung lebih dulu dariku, sekitar setahun sebelumku, namun dia sempat vakum beberapa bulan karena sibuk mengurus kepindahannya ke Jepang.
Aku masih ingat, beberapa bulan lalu kami pernah chatting juga di FB. Saat itu levelnya masih sama denganku, 3 persen. Tadi malam, saat dia chatting denganku, dia bilang levelnya sudah 9 persen, sementara aku masih 3 persen.
Pikirku hebat juga ni dia. Katanya, dia selalu Oriflamean kapan saja. Di kala mengurus rumah tangganya, mengurus suami dan anaknya yang masih bayi, dia masih menyempatkan waktu untuk mengurus bisnis online-nya.
Mencuci baju, memasak, beres-beres rumah, menyusui anak bahkan saat sedang online memesan barang atau memprospek dia sambil ngemong anak. Dia akan lebih leluasa online ketika anaknya sudah tidur dan saat malam. Malam pun di kala online, dia masih harus direpotkan dengan anaknya yang sering terbangun. Namun semua itu dijalaninya dengan penuh semangat. Prinsipnya sih Man Jadda Wajada (pepatah Arab yang populer banget di Indonesia, artinya siapa yang bersungguh-sungguh dia pasti berhasil). Dia bahkan pernah menantangku untuk reunian di London tahun depan.
Aku penasaran bagaimana caranya dia bisa menjalankan bisnisnya walau siang malam di rumah saja dan di negara orang pula. Setahuku dia hanya keluar rumah jika harus menemani sang buah hati bermain atau pergi bersama suaminya.
Ternyata, dia di Jepang hanya mengandalkan gadget-nya, online. Online baik untuk promo barang, menawarkan barang, memesan, membayar dan memprospek. Sementara pembelinya adalah teman, keluarga dan tetangga2nya di Indonesia. Paketan dikirim ke alamat orangtuanya di Cilacap, Jawa Tengah. Terus, pemesannya yang kemudian mengambil barang ke rumah orangtuanya.
"Murni online aja, Yu. Aku bayar2 juga dari Jepang," demikian tulisnya.
Aku benar2 takjub. Jadi lebih semangat. Benar2 keren ya Oriflame, segala fasilitasnya lengkap baik offline maupun online. Urusan bayar2 kan bisa online ya seperti yang dilakukan temanku ini, jarak jauh aja dari negerinya para samurai. Tapi semua bisa tetap dijalankannya.
Memang harus fokus ya menjalankan bisnis ini. Mengingat selama ini aku yang bekerja sebagai jurnalis, jam kerja tak jelas. Terkadang harus berangkat pagi-pagi jika ada tugas liputan, terkadang siang baru berangkat dan yang pasti pulangnya malam terus. Bahkan jika ada liputan artis yang tampilnya di diskotek, aku terpaksa harus pulang menjelang subuh karena acaranya wajib dihadiri sebab suasana konsernya harus hidup digambarkan di berita. Sering juga berangkat sebelum pukul 7 pagi dan pulang menjelang pukul 12 malam.
Untuk Oriflame, jika sedang sibuk banget terpaksa hanya bisa sebar2 katalog atau online di media jejaring sosial, sekadar sebar2 slide atau flyer, walaupun nggak ada yang merespon ya nggak apa2 lah heheheee. Yang penting kan sudah usaha. Terkadang, di sela-sela obrolan dengan teman-teman di kantor atau sesama jurnalis, aku iseng2 aja mengajak mereka bergabung walau hanya dengan kalimat pendek dan sambil lalu: Mau gabung Oriflame nggak? nanti aku daftarin. Gitu aja kata2nya dan setelah itu langsung ditolak hahahaa...
Sering juga, karena saking lelahnya dan badan sedang sakit, aku libur dulu oriflame-an. Murni istirahat saja di rumah, atau jika sedang jenuh banget dan fisik lagi memungkinkan, kabur aja ke mall atau bioskop nonton film komedi atau horor Hollywood. Aneh memang, film horor selalu sukses bikin galau atau lelahku berkurang.
Awal bergabung di bisnis ini karena ingin segera berhenti dari pekerjaan jadi wartawan dan ingin bisa fokus menulis karena sejak masih imut2 dulu memang bercita2 banget jadi penulis selain karena hobi juga. Plus pengen banget bisa jalan2 keluar negeri. Walaupun aku suka dan menikmati banget jadi pemburu berita di lapangan, namun jika mengingat tekanan kerjanya, luar biasa makan hati. Sudah capek di lapangan, balik ke kantor harus bertemu dengan teman2 atau atasan yang suka marah2 dan kata2nya menyakitkan. Memang harus banyak bersabar.
Mengerjakannya pun menurutku belum maksimal. Belum terlalu fokus. Berkaca pada pengalaman temanku ini, jadi malu sendiri. Memang harus semangat yaaaa... apalagi jika benar2 diseriusi insya Allah nggak akan sia2.Tinggal maksimalkan otak kanan kita untuk bisa mengatur waktu dengan baik agar semua urusan bisa tertangani dengan baik juga.
Dan alhamdulillah, masih bisa menyempatkan waktu untuk Oriflame an dan menulis walaupun terkadang waktunya hanya beberapa menit dan menulisnya hanya bisa sealinea berisi 2-3 kalimat pendek. Seringnya tengah malam setelah sampai rumah menjelang tidur, sempatkan waktu dulu buat pesan barang dan menulis. Untuk urusan menulis, alhamdulillah salah satu novel yang sudah kuhasilkan dan kutulis di sela-sela kelelahanku beraktifitas ini, telah berhasil masuk 100 besar lolos seleksi awal sebuah lomba menulis novel tingkat nasional.
Berkaca dari pengalaman temanku tadi, terpenting adalah KEMAUAN UNTUK SUKSES di sini dan keyakinan bahwa kita PASTI BISA. Buktinya, dia yang sehari2nya disibukkan dengan urusan rumah tangga dan mengurus anak yang masih bayi, tinggal jauh di Jepang sana bahkan jauh banget dari kantornya Oriflame di sini, tetap bisa menjalankan bisnis ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar