Writer’s Profile
My name is Yayu Fathilal. I am a fanatic of Shaheer Sheikh. I like
writing and making stories. I am a journalist, work in a local news paper
company in Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia.
I love one of Shaheer’s tweet in his Twitter. It says that Shaheer had
already received many gifts from his fans, instead of giving him gifts, it
would be better to do some good deeds or constructive for our society as a gift
for him. And if you do that, tweet it with hashtag #love & respect.
I love this tweet so much coz it makes me more motivated to be a better
one. It is like waking up my consciousness about constructing my society to be
better. And I do that everyday, whenever I do something good, I tweet it in my
Twitter account with that hashtag, considering those tweets as a reminder to me
to always be a good person. I also happy to be your fanatic because I think you
have some good aura that make me always remember Allah. I don’t know why, but
it happened to me and it can make me better personally as a muslim. Thank you
Shaheer for tweeting that. May Allah always bless you and protect you, make you
to be the best muslim in front of Allah.
I make this story for you. It is a kind of fan fiction story about you.
Fan fiction nowadays is very popular in Indonesia. The writers make a story
about their idols and of course with the idol as the main character. It is a
way to express their love to their idols, as a gift for their idols instead of giving things. So,
I make it for you, as a gift for you. I
make it in 2 languages, Bahasa Indonesia and English so you can understand the
plot. Sorry if the
English translation is a little messy coz there are so many words to translate
and I use Google Translate with some editing by me, coz the google doesn’t
support Indonesian slank words I often use in this story. But I hope you will like it.
By the way, i am confuse about the
title. If you wanna give this story a title, just go ahead. You can give the
title whatever you like.
Tokoh:
- Diba: Seorang gadis remaja, usia 17 tahun. Siswi di sebuah SMA di Jakarta. Perawakan pendek, kurus, tak suka berdandan, agak tomboy, wajahnya biasa saja. Dia sangat lemah dalam banyak pelajaran sehingga nilainya sering anjlok, namun beruntung dia tak pernah tinggal kelas. Dia gampang marah namun baik dan senang menolong yang sedang kesusahan. Dia cerewet dan agak ceroboh. Satu-satunya manusia yang paling dibencinya di seantero sekolahnya adalah Shaheer.
- Shaheer: Seorang remaja, usia 17 tahun. Teman sekelas Diba. Dia ganteng dan seorang pemain sinetron remaja ternama di Indonesia. Pintar dan selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Dia arogan dan sering membanggakan ketenarannya, khususnya di depan Diba. Dia anak orang kaya dan sering memamerkan mobil mewahnya. Diba sangat membencinya, namun Shaheer diam-diam menyukai Diba. Shaheer sering mengejek Diba dan selalu ingin dekat dengannya.
- Ira dan Irma: Teman Diba
- Adi: Adik Diba yang senang narsis
PAGI sekali, Diba
berangkat ke sekolah. Wajahnya masih sembab karena kurang tidur. Hari ini dia ada ujian dan
tadi malam dia begadang untuk belajar. Dia seperti melamun dan mimik wajahnya
tampak bloon.
Ira: Diba! Woi! Bangun luuu…ngelindur
lu? Jalan kok sempoyongan kayak orang mabuk gitu?
Diba: ….??
Ira: Diba! (sambil
menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Diba. Diba tetap nggak peduli).
Ya elah ni bocah udah tua kayaknya. (Ira melengos pergi).
Diba terus berjalan ke kelasnya.
Masih dengan ekspresi tanpa rasa. Shaheer melihatnya dan memandangnya sinis.
Shaheer: Gue tahu lu pasti habis
begadang kan sampai muka lo kayak gitu? Percuma lo begadang tetap aja ntar
nilai lo anjlok. Nilai tertinggi pasti tetap gue yang punya.
Diba (menoleh kesal ke Shaheer):
Songong lo! Iya gue begadang mati-matian biar ulangan Matematika gue hari ini
sukses. Emang kenapa? Nggak boleh??
Shaheer (tersenyum menghina): Eh
nggak percaya dibilangin.
Bel sekolah berbunyi. Guru mereka
masuk dan ulangan dimulai. Diba sudah gugup setengah mati karena ini mata
pelajaran yang paling susah baginya.
Shaheer: Ssttt…sssttt…lo pasti gugup
kan? Gue kok yang ntar dapat nilai tertinggi. Gue gitu loh, artis sinetron remaja
paling top saat ini.
Diba (melirik kesal ke Shaheer,
berbisik): Diam lo! Dasar songong!
Besoknya, nilai ujian Matematika
diumumkan. Dan hasilnya, nilai Diba paling jelek, terbaik adalah Shaheer.
Shaheer: Gue bilang juga apa?
Gueeee….
Diba: Apa?? Lo artis remaja paling
ngetop sekarang?? Nggak ada hubungannya ma nilai ulangan lo (terus melengos
pergi, kesal, bete)
Bel sekolah berbunyi. Sekarang
saatnya pelajaran Bahasa Indonesia. Guru mereka memberi tugas kelompok dan
parahnya lagi, Shaheer dan Diba satu kelompok dan mereka cuma berdua.
Irma: Ciye ciyeeeee…Diba ma Shaheer
kok satu kelompok melulu ya? Kemarin tugas kelompok Kimia sekelompok, terus
kerja kelompok IPS juga sama Shaheer. Sekarang Bahasa Indonesia.
Diba (dengan muka bete): Tahu tuh,
bete gue. Bu Sari kenapa sih demen amat ngelompokin gue ma artis songong sok
terkenal dan sok kecakepan itu!
Irma (menggoda): Ciye ciyeeeee…Diba,
Shaheer…eheeeemmmm
Diba: Apa sih lo, Irma?
Sorenya, Shaheer dan Diba janjian
ketemuan di rumah Shaheer mau ngerjain tugas kelompok Bahasa Indonesia. Mereka
mengerjakan soal bareng. Sejak awal, Diba sibuk terus membuka-buka Kamus Bahasa
Indonesia. Shaheer bingung.
Shaheer: Kok dari tadi lo buka-buka
kamus melulu sih?
Diba: Nggak apa-apa kok, pengen aja.
Emang kenapa? Nggak boleh?
Shaheer: Ya aneh aja. Soalnya gampang
banget kok, ngapain kok buka-buka kamus. Atau jangan-jangan lo nggak ngerti
Bahasa Indonesia ya?
Diba (sedikit sewot): Enak aja,
sembarangan lo! Gini-gini Bahasa Indonesia gue bagus tauuuuu
Shaheer (memandang tajam penuh
selidik ke Diba): Masa? Kok gue ragu ya?
Diba tak memedulikan ledekan Shaheer.
Dia terus sibuk membuka kamusnya. Lamaaaaa banget sampai Shaheer heran
melihatnya. Shaheer tak sengaja melihat sebuah kata dilingkari Diba di buku
Bahasa Indonesianya dan dia langsung tertawa keras.
Shaheer: Lo nggak ngerti kata ini
sampai buka-buka kamus gitu?? Lo tu orang mana sih sebenarnya? Lo waktu SD
lulus nggak sih ujian Bahasa Indonesia?
Diba: ..… (diam, kesal sekaligus
malu)
Shaheer (memandangi Diba dengan penuh
ejekan sambil tertawa keras): Lo beneran nggak ngerti artinya maksud? Serius lo??
Diba: … (masih terdiam)
Shaheer: wkwkwkwkwkkk….lo kalau ujian
Bahasa Indonesia dapat nilainya biasanya berapa sih?
Diba (makin geram, menahan kesal):
Nol. Puas lo??
Shaheer (makin tergelak):
Hahahahahaaaaa…. Pantesan … cocok lah …
Diba (makin kesal): Udah ngeledeknya?
Puas lo? Omong-omong, maksud
lo cocok apaan??
Shaheer: Laaah, itu ngomong maksud.
Berarti lo ngerti dong artinya?
Diba (masih kesal): Iya sekarang gue
ngerti abis lihat di kamus. Puas lo??
Shaheer: hahahaaa….dasar lo otak ayam
Diba: aaaaarrrrggghhhh !! Gue ada
dosa apa sih sekelompok melulu ma elo?? Lo dekat-dekat gue pasti gue ketiban
sial!
Shaheer: …. (baru mangap, belum
sempat ngomong)
Diba:Tau gue lo mau jawab apa. Gue
ini kan artis terkenal, sinetron gue meledak dimana-mana. Pasti lo mau ngomong
gitu kan?? Lo tu sok artis tau nggak?? Sebel gue ma elo!
Tugas kelompok hari itu selesai. Diba
pulang dengan hati yang kesal sekaligus malu. Ketahuan deh kalau
Bahasa Indonesianya jelek.
Dia sampai berpikir dia punya dosa apa ya kok bisa sial terus diketemukan sama
Shaheer melulu. Cowok yang paling songong, sok kegantengan, sok artis, sok pede
dan sok terkenal banget gitu.
Shaheer: … (bengong)
Beberapa saat kemudian dia baru
menyadari kalau Diba tak sengaja meninggalkan dompetnya di rumah Shaheer. Namun
Diba sudah keburu pergi. Besoknya, pulang sekolah Shaheer langsung menuju
lokasi syuting dan dia baru ingat dompet Diba masih ada di dia. Dia menelpon
Diba agar mengambilnya di lokasi syuting. Akhirnya, jadilah Diba berangkat ke
lokasi syuting Shaheer, padahal dia masih enggan bertemu cowok itu setelah
kejadian kemarin.
Di lokasi
syuting.
Diba (sambil colek Shaheer dengan
muka malas ketemu): Dompet gue, cepetan!
Shaheer (kaget): Yaelaaah ni bocah
bikin kaget aja. Salam dulu kek.
Diba: Nggak usah pakai salam-salaman
ah. Malas gue ketemu elo. Lagian ngapain dompet gue pake ketinggalan segala di
elo? Cepetan, mana?
Shaheer: Di tas gue tu di mobil. Gue
dirias dulu nih, abis tu baru gue ambilin. Sabar ya.
Diba (mulai kesal): Lama nggak? Gue
mau pulang ni.
Shaheer: Ya sabar dong, paling 10
menit.
10 menit berlalu, Shaheer masih
dirias sama make up artist-nya, bikin Diba makin resah. Akhirnya dia
mencak-mencak minta Shaheer segera ambilkan dompetnya. Ketika sedang
marah-marah, dia didekati sutradara sinetron ini.
Sutradara: Ya ampun, kamu kok belum
siap-siap sih? Yono, cepetan ni cewek didandani, bentar lagi syuting mulai! (sambil
memanggil Yono, make up artist lainnya)
Yono: Siap, Pak!
Diba dengan wajah bengong langsung
dibawa Yono ke ruang rias. Diba kaget sambil berkata dia bukan pemain sinetron ini tetapi Yono
nggak percaya. Beberapa saat kemudian, Diba beres didandani dengan sangat
berantakan karena ternyata sang sutradara mengira dia yang jadi pemeran orang
gila di sinetron ini.
Sutradara: Ingat ya, akting kamu
harus bagus. Benar-benar seperti orang gila sedang ngamuk. Kamu ceritanya
sedang kejar-kejar Shaheer. Paham?
Diba (dengan wajah masih
kebingungan): Tapi…Pak, saya bukan ….
Shaheer (diam tapi sambil mau ketawa,
nggak kuat lihat muka jelek Diba).
Sutradara: Aaaaahh udah, nggak usah
banyak omong dah. Siap ya, camera rolling! Action!
Diba (masih bengong, kamera sudah
menyala): ….
Sutradara: Action!!
Shaheer (setengah berbisik ke Diba):
Psssttt, ayooo kejar gue!
Diba memandang Shaheer sebentar. Ini
adalah kesempatan bagus buatnya untuk mengerjai Shaheer. Akhirnya, jadilah Diba
berlagak seperti orang gila beneran, mengejar-ngejar Shaheer hingga membuat
Shaheer benar-benar ketakutan. Parahnya lagi, adegan itu walau sebentar
ternyata harus diulang beberapa kali karena Shaheer sengaja lupa dialognya.
Padahal dia hanya ingin mengerjai Diba. Akhirnya, syuting satu adegan ini
berlangsung dari siang hingga malam. Belum lagi Diba sering diomeli sutradara. Dan
ini sukses bikin Diba kesal setengah mati.
Beres syuting, hampir tengah malam.
Shaheer (dengan wajah puas berhasil
ngerjain Diba): Ni dompet lo
Diba (dengan wajah kesal, cepat
menyambar dompetnya): Gue tahu lo sengaja lupa dialognya kan? Lo mau ngerjain
gue kan?? Awas aja ya besok, tunggu pembalasan gue.
Sinetron itu tak lama ditayangkan di
TV. Pemirsa banyak yang menyukai adegan Shaheer dikejar-kejar orang gila itu karena
benar-benar tampak alami. Banyak yang berpendapat, tampak ada kedekatan di
antara mereka. Gara-gara ini, pemirsa mulai banyak yang mencari informasi
tentang pemeran orang gila itu. Akhirnya mereka tahu bahwa namanya Diba dan dia
teman satu kelas Shaheer di sekolah. Diba langsung terkenal dan namanya
menghiasi kolom-kolom komentar di halaman media sosial Shaheer maupun
pemberitaan di media cetak dan online.
Para pengomentar itu bahkan
menjodoh-jodohkan mereka, ada juga yang membenci mereka namun ada juga yang
netral. Mereka yang menjodoh-jodohkan bahkan membuat banyak
sekali kelab penggemarnya dan Shaheer dengan berbagai nama. Nama ShaDi FC,
DiSha, ShaBa, dan sebagainya. Ada juga yang berkomentar tak sopan bahkan
cenderung mengurusi urusan pribadinya. Diba sering dongkol membaca komentar-komentar miring dan
nggak sopan dari mereka. Namun dia tak bisa berbuat banyak untuk
memprotes mereka.
Shaheer (sambil menunjukkan berbagai
komentar dan berita di ponselnya ke Diba): Ciyeeeee….ada yang lagi terkenal ni
sekarang. Gara-gara gue tuh…hihihihiiii.
Diba (mendelik kesal): Iya, makasih
ya gara-gara elo gue sekarang bisa seterkenal elo. Sekarang kita sama. Jadi, lo
nggak ada alasan lagi sekarang buat meledek gue.
Diba melengos pergi. Puas dia bisa
membanggakan diri di depan Shaheer.
Shaheer: Eeeehhh…mulai songong
sekarang ni cewek ya.
Pulang sekolah, Diba dicegat beberapa
orang tak dikenal, cewek-cewek ABG, usia sekitar 13-15 tahun. Dia kaget,
ternyata mereka itu adalah para penggemarnya dan Shaheer.
Penggemar 1: Mbak Diba ya. Mbak,
aktingnya jadi orang gila kok keren banget sih. Aku penggemar Mbak lho. Semoga
mbak senang sama hadiahku ini.
Penggemar 2: Mbak, aku juga ada
hadiah buat mbak. Foto bareng ya mbak.
Penggemar 3: Ya mbak. Foto-foto dulu
ya.
Diba dengan wajah bengong, bingung,
kaget sekaligus senang karena dia sekarang memiliki penggemar, mau saja
menerima hadiah mereka dan diajak foto bareng. Setelah mereka berlalu, dia
pulang dengan wajah yang masih kaget.
Tak hanya cewek
penggemarnya, yang cowok juga banyak. Diba sampai kaget tapi dia merasa senang
banget karena sekarang hidupnya dikelilingi banyak cowok. Ada yang sopan, namun
tak sedikit pula yang menyebalkan bahkan nyosor main peluk aja ke dia. Bikin
dia jadi takut. Gara-gara ini, Diba jadi stres dan terganggu banget. Kehidupan
pribadinya sekarang banyak disorot orang dan itu membuat ruang geraknya
terbatas. Hanya satu cowok di kepalanya yang selalu dibencinya: Shaheer. Ya,
semua ini menimpanya gara-gara Shaheer.
Bel pulang
sekolah berbunyi. Hujan lebat sekali dan petir menggelegar nyaring. Diba
terpaksa harus bertahan dulu di sekolahnya menunggu hujan reda. Hujannya awet,
bikin Diba bete lama-lama.
Shaheer:
Nungguin hujan reda ya? Mending ikut gue aja gue antarkan pulang.
Tiba-tiba Shaheer
nongol di depan Diba sambil menenteng-nenteng kunci mobil mewah kesayangannya.
Diba langsung tambah bete.
Diba: Tahuuu
gueee...lo paling-paling mau pamerkan mobil mewah lo itu kan?? Gue tahu gue
miskin, nggak kayak lo. Nggak usah sok pamer deh lo!
Shaheer:
Hujannya awet lho. Yakin nggak mau ikut gue?
Diba mengangguk
pasti.
Shaheer: OK. Gue
cabut. Selamat berlama-lama di sekolah ya. Tuh lihat, paman penjaga sekolah aja
udah nggak ada. Guru-guru sudah pada pulang. Hati-hati ya, tu di toilet pojok
sana kabarnya pintunya suka gerak-gerak sendiri kalau pas hujan dan suasana
sepi begini.
Shaheer langsung
pergi. Wajah Diba sangat ketakutan mendengarkan kata-kata Shaheer.
Diba (sambil
berlari kencang menyusul Shaheer): Aaaaah lo ngebetein gue aja sih. Shaheer,
tunggu! Gue ikuuuuutt!
Shaheer
(terbahak-bahak): Dasar penakuuuut!
Hujan lebat
banget. Petir masih menggelegar. Mobil dikemudikan Shaheer dengan kecepatan tinggi.
Tak dinyana, dia malah menabrak sebuah becak berpenumpang yang sedang jalan.
Penumpangnya seorang ibu hamil bersama seorang pria. Nahasnya, ibu hamil itu
ternyata hendak melahirkan dan sedang menuju ke rumah sakit bersalin.
Shaheer dan Diba
benar-benar panik. Korban tabrakan mereka benar-benar terluka parah. Akhirnya
korban dibawa ke rumah sakit. Mereka menunggui korban dengan cemas. Apalagi si
ibu hamil jadi mengalami perdarahan hebat dan pria yang ternyata suaminya tadi
sempat pingsan, sementara si abang becaknya hanya luka ringan. Diba memilih
istirahat di kantin sementara Shaheer mondar-mandir cemas di depan ruang
bersalin, menunggui si ibu hamil yang sedang berjuang untuk melahirkan.
Tak lama, dokter
mengabarkan sang bayi telah lahir dan ibunya selamat. Shaheer langsung menelpon
Diba.
Shaheer: Cepat
sini! Bayinya sudah lahir.
Diba (bergegas
ke ruang bersalin) : Ibunya??
Shaheer:
Selamat.
Diba (lega) :
Alhamdulillah. Gue udah deg-degan, jantung rasanya mau copot.
Shaheer (Lega
juga): Sama gue juga. Duuuuh, rasanya plong ya. Itu dengar bayinya menangis
kencang banget.
Diba (dengan
wajah senang) : Ho ooohh
Tak lama, suster
keluar sambil menggendong sang bayi. Saking senangnya, Shaheer dan Diba meminta
izin untuk menggendong bayi itu. Bayinya tampak lucu dan anteng. Saking
senangnya karena bayi dan ibunya selamat, mereka berdua kemudian menari-nari
bak anak kecil sambil menggendong bayi itu di depan ruang bersalin. Mereka
loncat-loncat dan menari-nari, tampak gembira sekali.
Segala urusan
rumah sakit hari itu beres. Ayah sang bayi pun sudah siuman dan syukurnya tak
mengalami patah tulang, hanya luka-luka. Shaheer dan Diba pulang dengan
perasaan lega. Di sepanjang perjalanan, mereka jadi lebih ceria dan akrab,
seakan tak ada permusuhan di antara mereka. Diba tiba-tiba merasa heran dengan
keakraban mereka yang mendadak ini.
Diba: Kok kita
jadi akrab banget begini sih? Padahal gue kan masih sebal banget sama elo.
Shaheer (dengan
wajah cuek): Tahu tuh, gue juga heran. Elonya aja kali yang kegeeran bisa
dekat-dekat sama gue. Gue kan artis terkenal gitu.
Diba (mulai
sebal lagi dengan Shaheer): Beeeeuuuuuhhhh....mulai lagi deh lo! Songong lo!
Diba memalingkan
mukanya, muak melihat tingkah Shaheer yang kambuh lagi sok artis terkenalnya. Sementara
Shaheer malah senyam senyum.
Besoknya adalah
Minggu. Sekolah libur dan Diba senang bisa bangun lebih lambat hari ini setelah
seharian kemarin dibuat sebal oleh Shaheer. Lagi asyik-asyiknya molor, dia
tiba-tiba dibangunkan oleh adiknya, Adi.
Adi : Kak, Kak!
Cepat bangun! Kakak ada di TV.
Diba (masih
dengan mata 5 wat): Apaan sih??
Adi: Cepetan
lihat TV. Ada kakak di TV.
Diba (masih
pengen molor, nggak percaya) : Ngigau ya lo lihat gue di TV??
Adi (sambil
menarik-narik Diba): Yaelaaaah benaran tuh.
Diba terpaksa
bangun. Dengan rambut dan muka masih berantakan dia beranjak ke ruang tengah, buat
menonton TV yang katanya Adi ada dia.
Dan benar saja,
ada dia di TV pagi itu, namun tak sendiri. Ada Shaheer juga di situ. Di
tayangan video itu tampak Shaheer sedang mondar-mandir di depan ruang bersalin.
Tak lama ada adegan Diba dan Shaheer sedang berjoget-joget sambil menggendong
seorang bayi di depan ruang bersalin.
Pembawa acara
infotainment: Ternyata ya, kabar kedekatan artis sinetron remaja Shaheer Sheikh
dan seorang cewek bernama Diba yang juga lawan mainnya di sinetron tak sekadar
isapan jempol. Rupanya, kedekatan mereka benar-benar intim. Buktinya, di video
amatir kiriman penonton setia kami tadi, Shaheer dan Diba sedang senang banget
tuh menggendong seorang bayi di depan ruang bersalin sebuah rumah sakit di
Jakarta. Hmmmm....boleh juga tuh masih muda sudah jadi orangtua. Lantas
bagaimana tanggapan para penggemar mereka yang kebetulan memergoki kemesraan
mereka itu? Yuk, kita simak tayangannya.
Diba (syok):
Aaaaaaaaarrrrrrggggghhhhh !!! Shaheer, semua ini gara-gara eloooo!!
Adi (loncat-loncat
senang): Yeeeee aku punya keponakan !!
Diba bertambah
sebal ketika melihat komentar-komentar para penggemar dan pembenci mereka di
kolom komentar beberapa media online terkait berita mereka ini. Rata-rata
mereka menghujatnya karena mereka mengira Shaheer dan Diba berzina. Tak lama,
rumah Diba dipenuhi para wartawan yang ingin mengonfirmasi kebenaran berita
ini. Dan Diba masih dibuat pusing dengan hal ini. Belum lagi ketika dia melihat
tingkah Adi yang sok narsis karena masuk TV.
Di rumah Shaheer.
Cowok ini tak kalah kagetnya dengan Diba. Namun dia senang digosipkan begini
karena dia jadi bisa memiliki lebih banyak kesempatan untuk dekat-dekat dengan
Diba. Tak lama ponselnya berbunyi. Telpon masuk dari Diba.
Diba (dengan
suara kencang) : Woi, cepat lo ke rumah gue. Pusing gue banyak wartawan di
sini. Semua ini gara-gara elo gue jadi ketiban sial begini. Cepetan! Gue
tunggu! Awas lo nggak datang.
Telpon dimatikan
Diba. Shaheer senyam senyum senang.
Shaheer (bicara
sendiri): Siaaaappp heheheheeee.....
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar