“Bebe gue
mana??!!” Teriakan Nisa kencang sekali, membuat pekak telinga mamanya. “Apa
sih, Sa?” tanya sang mama bingung yang langsung menghentikan kegiatannya
mengiris bawang merah di dapur. Si Nisa pagi-pagi sudah ribut.
“Ma, lihat
bebe Nisa, gak?” Nisa tampak panik. Wajahnya memerah dan cemberut. “Nggak tuh,
emang kamu taruh dimana?” tanya mamanya lagi.
Nisa
gelisah. Kepalanya yang tak gatal pun digaruk-garuknya. Seluruh perkakas di
kamarnya di obrak-abriknya demi mencari benda kesayangannya itu, BlackBerry
Gemini Curve 8250 warna putih.
“Coba kamu
ingat-ingat lagi. Mungkin kamu lupa menaruhnya dimana,” saran mamanya.
Nisa lantas
melongok-longokkan kepalanya ke kolong meja. Tak ada juga. Siapa tahu saja
malah ada di situ. Tiap ada tumpukan barang diperiksanya. Kantung celana dan
jaketnya yang sudah kotor dan hendak dicuci pagi itu pun diceknya juga. Masih
nggak ketemu juga. Hampir satu jam dia begitu terus.
“Sa, sudah
nanti biar mama atau si bibi yang mencarikan. Kamu sarapan dulu, terus berangkat
sekolah. Lihat sudah jam berapa tuh, hampir pukul 7,” seru mamanya.
Nisa tambah
cemberut. Dia makin uring-uringan dan gelisah. “Tapi, masa iya ke sekolah nggak
bawa Bebe, nggak seru ah! Ntar nggak bisa BBMan sama teman-teman Nisa,” keluh Nisa. Sekarang, mukanya makin
terlipat karena kesal.
“Memangnya
kamu mau BBMan sama teman kamu yang dimana sih? Yang masih satu sekolah dan
sekelas kan? Ya sudah, nggak pake Bebe sehari juga nggak papa kan masih bisa ketemu di sekolah. Gimana sih ni
anak! Nggak pegang Bebe sedetik aja kayak dunia udah mau kiamat!” mamanya jadi
kesal. Dan Nisa makin bête dibuatnya.
Sepanjang
perjalanan menuju ke sekolahnya, Nisa hanya diam di jok belakang mobil papanya.
Siswi SD kelas V ini masih kepikiran Bebe tercintanya. Dia mencoba
mengingat-ingat, kapan terakhir kali dia memegang Bebenya itu.
Kemarin
sore, pulang les matematika, di genggamannya masih ada Bebenya. Lalu dia masuk
ke rumah, menuju kamarnya di lantai dua, menaruh tasnya dan Bebenya
diletakkannya di meja belajarnya. “Eh, nggak. Salah, salah! Perasaan gue lempar
ke kasur deh? Tapi pas gue bobo tadi malam, perasaan nggak ada Bebe gue di
situ,” terawangnya.
Pak Hari
yang sejak tadi menyupirkan mobil itu, sudah beberapa kali melirik ke belakang.
Dia bingung melihat anak bosnya yang dari tadi bengong dan seperti lagi banyak
pikiran itu. “Ada apa sih, Neng? Kok dari tadi kayak orang stres saja?” ujar
Pak Hari bingung.
“Bebe gue mana ya?” gumam Nisa sembari menerawang tanpa
menghiraukan pertanyaan Pak Hari. Dan Pak Hari makin bingung. “Apa, Neng?”
tanya Pak Hari yang merasa tidak mendengar jelas ucapan Nisa tadi.
“Pak Hari
lihat Bebe Nisa nggak?” tanya Nisa. Pak Hari sejenak mengernyitkan keningnya.
“Bebe? BlackBerry eneng maksudnya? Nggak tuh, Neng. Memangnya kenapa? Hilang?”
tanya Pak Hari. Nisa mengangguk pelan sambil wajahnya masih cemberut.
“Kalau nanti
lihat, kasih tahu ya,” pinta Nisa. Pak Hari mengangguk. “Siap, Neng,” kata Pak
Hari.
Siangnya,
waktu istirahat, semua teman sekelas Nisa keluar ruangan. Mereka bertebaran di
mana saja di sekolah itu. Ada yang di kantin, di taman hingga di musala.
Rata-rata, semuanya memegang BlackBerry. Walaupun tidak dipencet-pencet, paling
tidak ada di genggaman atau di saku seragam.
“Sa, lo
ngapain aja sih dari tadi? BBM gue kok gak dibalas-balas. Gue PING lo
berkali-kali, tetap aja lo cuekin,” si Dana, teman seangkatan Nisa namun beda
kelas bertanya ke Nisa ketika mereka bertemu di kantin sekolah siang itu. “Bebe
gue nggak tahu sekarang lagi dimana. Dari tadi pagi gue nyari-nyari nggak
ketemu juga. Kayaknya gue lupa naruh deh,” kata Nisa.
“Ya elah,
Sa. Gue kan BBM lo penting, mau nanya bahan ulangan matematika hari ini,”
sambut Dana. “Kenapa nggak lo telpon aja ke rumah gue? Lo punya kan nomor
telepon rumah gue?” tanya Nisa. Dana jadi mewek mendengarnya. “Hmmm…sekarang tu
zamannya BlackBerry, BBM,” seloroh Dana sembari berlalu kesal.
Nisa masih
cemberut saja dari tadi. Tangannya gatal, bukan karena habis digigit nyamuk
atau ada biang keringat, namun karena dari tadi nggak pegang Bebe. “Bête yah
kalau sehari saja tidak BBMan atau browsing, kan di sekolah ada Wifi gretongan
(gratis),” seloroh Nisa sambil menyeruput teh botolnya.
Teman
sekelasnya yang saat itu semeja dengannya di kantin, Ina, menatap Nisa.
Mulutnya terkatup rapat. Dari tadi mi ayam yang dipesan Ina tak juga
disentuhnya. “Sa, memangnya harga Bebe sekarang berapa sih?” tanyanya.
Menurut
Nisa, jutaan. “Punya gue itu belinya setahun yang lalu, sekitar Rp 2,3 juta.
Sekarang kayaknya sudah Rp 1 jutaan sekian deh, di bawah Rp 2 juta kayaknya.
Kenapa? Lo mau beli ?” seloroh Nisa.
Ina
mengangguk lemas. “Pengen, tapi babe gue nggak bisa beliin, mahal katanya,” Ina
berkata pelan. Kedua matanya kemudian jelalatan ke sekelilingnya, banyak
temannya maupun kakak kelasnya asyik memegang Bebe. Bahkan, Mang Urip, satpam
di sekolahnya juga punya Bebe. Kemarin sore, ketika dia dan beberapa teman di
sekitar rumahnya jalan-jalan ke mall, rata-rata mereka memegang Bebe.
Malamnya,
usai salat magrib, Ina sekeluarga berkumpul di dapur sekaligus ruang makan
mereka. Rumah keluarga Ina hanya kecil,
sangat jauh dengan rumah Nisa yang gedongan. Maklum saja, ayah Nisa itu
pengusaha sukses di negeri ini. Sementara ayah Ina hanya seorang tukang ojek
yang penghasilannya tak menentu. Ibunya hanya buruh cuci dan setrika baju yang
penghasilannya juga tak banyak.
“Be, kapan?”
tanya Ina ke babenya yang sedang menyantap makan malamnya. Babenya mengangkat
kepalanya, menatap anak sulungnya itu. “Apa sih, Na? BlackBerry?” Ina
mengangguk cepat.
Babenya
menghela nafas. “Babe nggak punya duit banyak, Na. Gimana mau beliin elu Bebe?
Sekarang barang-barang serbamahal, jangankan buat beli Bebe, kita sekeluarga bisa
makan sekali sehari aja udah syukur,” terang babenya.
Tak jauh
dari situ, Nyak yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan bapak dan anaknya
ini menimpali. “Elu itu, Na, gaya pengen punya Bebe juga. Kayak nyak ma babe lo
ini orang gedongan aje. Kalau teman-teman elu kayak si Nisa, Dana, itu sih anak
konglomerat kan wajar kalau hapenya canggih dan mahal. Nah elo anak
kolongmelarat, pake mimpi segala pengen beli Bebe. Emang duitnye ade,” cerocos
Nyak. Ina hanya diam, manyun sambil
mengaduk-aduk nasinya hingga berantakan.
“Pikir dulu,
Na. gimana duitnye babe. Di rumah ini, nggak cuma elu yang perlu babe pikirin
biaya hidup, tapi nyak lo, adek-adek lo. Emangnye Bebe murah? Gini-gini, babe
juge tau tu hape harganye berape,” tambah babenya lagi.
“Tapi, punya
Bebe itu kan keren. Beliin ya, Be?” Ina masih merengek-rengek. Dia memasang
muka memelas, mulut manyun. Babenya hanya menghela nafas dan tak ingin
berbicara lagi. Ina terus merengek-rengek sampai Babenya bosan.
Sementara
Nyak dari tadi hanya mengomel-ngomel. Dia juga menasehati Ina agar jangan
gampang terpengaruh dengan teman-temannya. Kalau teman-temannya di sekolah
memang banyak yang anak orang kaya, mereka mampu membeli Bebe semahal apa pun.
“Nah, Babe lo, Na, emangnye orang kaye? Loe pikir dong, Ina! Belum lagi nanti
perlu berapa duit buat ngaktifin BBMnya? Kan mahal tuh,” seru Nyak. Dan Ina
hanya terdiam sambil mengaduk-aduk nasi dan lauknya tanpa berminat memakannya.
Namun Ina
seperti pantang menyerah. Dia terus memohon bahkan merengek ke Babenya supaya
permintaannya itu dikabulkan. Akhirnya, dengan terpaksa Babenya membelikannya
juga sebuah BlackBerry.
Ina girang
bukan kepalang. BlackBerry itu barang bekas alias tangan kedua. Dulu milik
seorang teman bermainnya di sekitar rumahnya, si Gugun. Karena orangtua Gugun
perlu duit, akhirnya itu HP dijualnya Rp 800.000 ke Babe Ina. Babenya
membayarnya secara cicilan. Konon, Bebe milik Gugun itu barang gelap, black
market dari Batam. Namun tetap saja Ina senang, yang penting kan BlackBerry.
Dia pun
membuat perjanjian dengan orangtuanya, kalau untuk biaya paket BlackBerry,
diusahakannya sendiri. Beli pulsanya pakai uang jajannya sendiri. Karena merasa
kurang mampu, Ina terpaksa harus menabung dan menghemat uang jajannya demi bisa
membeli paket Bebe harian seharga Rp 5.000. Orangtuanya enggan bertanggungjawab
soal itu karena merasa keberatan dan Ina pun menyanggupi perjanjian itu. Lagi
pula, agar Ina lebih mandiri dan merasa bahwa mencari uang itu tak mudah.
Sekarang,
banyak temannya di sekolah melirik-lirik ke Ina ketika dia mengeluarkan Bebenya
dari tas lusuhnya. “Cieeeee, Ina ya. Pake Bebe juga loe, Na?” sapa Dana di
kantin sekolah mereka, pada suatu hari. Ina pastinya senyam-senyum bangga. “Bagi
PINnya dong,” pinta Dana. Mereka lantas saling bertukar PIN Bebe.
Namun Ina
tak bisa berlama-lama di kantin. Perutnya lapar sekali tetapi dia tak bisa
membeli makanan di sana. Uang jajannya tinggal Rp 7.000 dan dia harus
menyisakan Rp 5.000 untuk membeli paket Bebe buat besok. Dia hanya bisa menelan
ludahnya melihat teman-temannya yang sedang asyik menyantap makan siang mereka.
Pulang
sekolah, Nisa, duduk termangu di jok belakang mobil papanya. Bebenya yang
hilang beberapa pekan lalu sudah ditemukan dua hari silam. Ternyata ada di saku
celananya dan parahnya lagi, dia lupa mengeluarkannya. Hasilnya, malah masuk ke
mesin cuci bersama baju-baju kotornya. Jadilah Bebe itu rusak, digiling mesin
cuci dan itu sukses membuatnya bête setengah mati.
Namun dia
sudah meminta dibelikan lagi Bebe ke papanya. Tetapi, papanya tak bisa segera
membelikannya karena sedang berada di luar negeri. Kalau mamanya tak berani
membelikan karena harus menunggu kedatangan papanya dulu.
“Bete ya
nggak ada BBMan sehari saja. Si Ina yang bokapnya cuma tukang ojek aja sekarang
bisa punya Bebe,” rutuknya manyun. Nisa
cuma diam. Dia merasa jika keberadaan Bebe telah berhasil menguasai hidupnya.
Kebetean
yang sama ternyata juga dirasakan oleh Ina. Di rumahnya, siang itu, Ina tampak
uring-uringan. Charger Bebenya rusak sementara Bebenya lowbat. Tambah kesal
lagi, uang jajannya habis banyak hanya untuk menghidupi paket Bebe. Mau minta
duit sama Babe atau Nyak pasti nggak dikasih soalnya tarikan Babe lagi sepi.
Dia manyun
saja dan merutuki Bebenya yang barang black market. Kualitas baterenya juga
diakuinya tidak bagus-bagus amat. “Masa baru seminggu beli chargernya sudah
rusak,” keluhnya. Ina membanting kesal Bebe dan chargernya ke kasur kapuknya
yang tampak sudah usang.
Seharian ini
dia tampak uring-uringan saja. Dia penasaran setengah mati ingin tahu ada
gambar apa saja lagi yang dibagikan teman-temannya di grup BBM. Biasanya,
banyak teman di sekolahnya membagikan berbagai gambar ke grup, semuanya jadi
bahan bercanda mereka dan Ina selalu senang berinteraksi dengan mereka di sana.
Semacam autis Bebe gitu deh kalau dia sudah asyik BBMan, sampai lupa segalanya.
Tidak bisa
BBMan, dia tetap setia memencet-mencet Bebenya. Kemana pun dibawanya, sekadar
untuk main permainan. Itu bebe bahkan selalu berada di genggamannya kemana pun
dia pergi. Ke kamar mandi aja juga dibawa.
“Gimana
nggak rusak tu charger ma baterenya, kemana-mana dibawa trus dipencet-pencet
melulu. Dipakai terus jelas aje baterenye cepat abis,” omel si Babe melihat
kelakuan Ina yang asyik terus dengan Bebenya.
Ina tampak
cuek, masih asyik dengan smartphone-nya itu. Babenya manyun aja dicuekin anaknya. “Dasar
anak sekarang, HP mahal dibawa kemana-kemana. Dipegang aja, ditaruh
sembarangan. Emang duit segepok buat beli HP sekarang murah ya?” rutuknya dalam
hati melihat kebiasaan Ina yang suka menaruh Bebenya sembarangan, seperti di
atas kasur, di bawah selimut atau bantal, di atas meja, kursi, dan lain-lain.
Waktu terus
berlalu dan autisnya makin menjadi. Dia bahkan sampai suka cuek ke siapa saja
yang di sekitarnya. Sepupu dan saudara-saudara jauhnya yang sudah lama tak
bertemu, ketika datang ke rumahnya pun dicuekin. Dia tenggelam dalam dunia bebenya.
“Ampun dah ni anak. Itu pada sibuk di dapur lagi banyak saudara, dia masih aja
sibuk BBMan. Nyak banting aja deh ya tu bebe,” ucap Nyak geram. Dengan gerakan
cepat, Nyak langsung menyambar bebe Ina dan membantingnya ke lantai. Ina kaget
dan langsung histeris. “Bebe gueeeee,” tangisnya.
Di rumah
Nisa, ternyata kejadian yang sama juga terjadi. Beberapa hari lalu, papanya
pulang dan membelikannya bebe baru.
Saking
senangnya punya bebe baru lagi, autis bebenya kambuh lagi, membuat mamanya
gerah dan marah-marah saja. Nisa hanya manyun di depan mamanya yang sejak tadi
ngomel-ngomel gara-gara Nisa dipanggil berkali-kali tak juga menyahut. Ternyata
dia asyik BBMan sama browsing internet.
Nisa hanya
terduduk lesu di depan bebenya yang sekarang sudah hancur. Tadi, dibanting
mamanya. “Tidak ada lagi bebe!” seruan mamanya itu masih tergiang di
telinganya.
Hari-hari
selanjutnya, kedua anak ini terpaksa harus menelan ludah pahit ketika melihat
teman-teman mereka di sekolah asyik BBMan. Mereka berdua pun saling curhat.
“Bebe
benar-benar mencuri hidup gue, Na. Menyita semua pikiran gue, otak gue, tangan
gue, mata gue, dan semua anggota badan gue. Bahkan jantung dan hati gue.
Rasanya, kalau nggak ada bebe, seperti pengen mati aja, hampa, bête, kesannya
nggak gaul en kampungan gitu,” keluh Nisa kepada Ina, suatu hari di taman
sekolah usai sekolah bubar.
“Ho oh, gue
jadi kaya hidup sendiri pas lagi asyik sama bebe. Nggak peduli lagi sama yang
di sekitar, sampai nyak babe gue marah-marah terus. Kasihan juga sih mereka, capek-capek
kerja buat ngebeliin gue bebe, eh guenya malah kayak gitu. Autis!” sahut Ina. Nisa
hanya diam mendengar ucapan Ina itu, menerawang, merenungi kesalahannya selama
ini.
Mereka
lantas terdiam untuk beberapa lama. Tak lama, Ina membuka mulut. “Sa, nanti
sore, ke rumah gue yuk! Gue sudah janjian sama teman-teman gue, mau main gobak
sodor. Daripada bengong terus bête nggak punya bebe lagi, mendingan kita
rame-rame main gobak sodor,” seru Ina.
Mata Nisa
membelalak penasaran. “Gobak sodor? Apaan tuh?” “Udah, pokoknya ntar datang
aja. Gue tunggu jam 3 di lapangan bola dekat rumah gue,” ajak Ina. Nisa
mengangguk setuju, sebelum akhirnya kedua anak itu pulang ketika diteriaki Mang
Diman, penjaga sekolah mereka karena gerbang sekolah hendak segera digembok. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar