Selasa, 14 April 2015

Twilight Oh Twilight




JUMAT, 16 November 2012 pagi, Nina terbelalak membaca status BlackBerry Messenger alias BBM temannya, Andri. Di situ lengkap sekali dituliskan sebuah jadwal menonton sebuah film di bioskop. Perasaannya mengatakan itu jadwal tayang film The Twilight Saga Breaking Dawn Part 2 hari itu.  


“Itu jadwal Twilight ya?” tanya Nina di BBM.

“Yup,” balas Andri singkat.

“Mau nonton hari ini ya?” tanya Nina lagi.

“Ya, nanti malam sih rencananya. Nonbar sama teman-temanku,” sahut Andri.

“Sama, tapi aku siang ini sih, nonbar juga sama teman-temanku,” sahut Nina.

Andri terbahak sendiri membaca BlackBerry Messenger alias BBM dari Nina.
Nina bengong. “Emang kenapa?” balas Nina di BBMnya. Andri lama tak membalas karena BBM Nina pending, maklum jaringan lagi lemot.

Siangnya, Nina sibuk  saja telponan dengan Puput, satu di antara empat temannya yang bakal nonton bareng Twilight siang itu sementara dia baru saja menyelesaikan tugasnya di kantor menyetor foto hasil liputannya tadi pagi sebelum ditagih-tagih redakturnya. 


Dia enggan nanti siang waktunya menikmati wajah ganteng Robert Pattinson di film itu terganggu oleh telpon dan SMS redakturnya hanya untuk menanyakan foto.
Puput dan temannya satu lagi, Siska yang hari itu libur bertugas ngantre membeli tiket di bioskop.

“Penuh  tauuuu,” ucap Puput di telpon.

“Asli, Put? Penuh banget?” tanya Nina.

“Bangeeeet, panjang sekali sampai dinding di depan loket. Aku aja nggak bisa lewat. Kalau mau lewat harus nyelip-nyelip dulu. Yang antre si Siska. Dia baru nyampe tengah antrean aja katanya tiketnya sudah habis. Ada sih yang malam jam 10 tapi sisa barisan depan? Mau?” jelas Puput panjang lebar.
Nina diam. Mikir. 

“Kalau aku sama Siska sih ogah nonton paling depan, pusing lihatnya. Kalau Nina, Restu sama Frans nggak mau juga, aku sama Siska mau beli tiket Skyfall. Gimana?” berondong Puput.

Nina masih diam, masih mikir. “Hmmm, ya sudah deh nggak jadi aja. Ogah ah nontonnya malam banget kalau jam segitu,” kata Nina.

“Ya sudah, Put telpon Restu sama Frans ya, bilang rencana nonbar kita hari ini batal,”  kata Puput. Tak lama telepon putus dan Nina melanjutkan aktifitasnya di kantor.

Usai salat zuhur dan makan siang, redakturnya SMS memintanya memantau antusiasme para Twihard (penggemar film Twilight) di bioskop. Setelah tiba di bioskop, Nina bengong. “Anjriiit, penuh banget,” serunya.

Bagaimana tidak bengong, ada banyak manusia, ratusan kali, tua dan muda di depannya memenuhi bioskop. Mereka sepakat membentuk barisan panjang di depan loket tiket dan kebanyakan berniat menonton itu film. Sebuah pemandangan luar biasa dan langka terjadi di bioskop itu. Maklum saja, ini Banjarmasin bro, bioskopnya cuma satu. Sepenuh-penuhnya ini tempat, belum pernah Nina melihat yang sebanyak ini.

Mereka benar-benar berjubel, walaupun masih ada sedikit ruang kosong untuk bergerak. “Benar kata Puput, penuh banget,” batinnya.  Dia lalu celingak celinguk mencari Puput dan Siska tetapi tidak ada juga. Tampaknya itu anak sudah asyik nonton film James Bond itu, Skyfall.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan Nina mendengar banyak gerutuan pengunjung bioskop. “Tiketnya habis, masih ada yang malam tapi sisa barisan depan,” gerutu seorang pengunjung yang tampaknya gagal mendapatkan tiket.

“Nukar (beli) bajakannya aja deh,” gerutu pengunjung lainnya sembari keluar dari antrean. “Kita karokean aja yuk, daripada di sini balawasan antre lapah unda (daripada di sini lama sekali antre, lelah saya),” sahut yang lain dalam Bahasa Banjar.

Dia lantas duduk lesehan menyandar di salah satu dinding di bioskop itu. Dilihatnya, ada balasan BBM dari Andri. Dan itu membuat Nina makin bengong.

“Aku nonton Breaking Dawn nanti malam jam 10,” kata Andri.
“Emang kamu sudah dapat tiket? Aku lagi di bioskop ni, nggak dapat tiket. Habis katanya, ada yang malam tapi di depan,” sahut Nina.

“Aku tertawa banget baca BBM kamu tadi pagi. Aku yang ngantre tadi pagi pukul 10 aja dapatnya yang jam 10 malam,” sebut Andri.

Nina bengong, terperanjat. Mulutnya terbuka lebar. “Bujuran kah, Ndri (benarkah, Ndri)? Aku cari gocengan (goceng= Rp 5.000, maksudnya film bajakannya seharga Rp 5.000)nya aja kalau kayak gitu,” balas Nina. Dan Andri hanya membalasnya dengan mengirimkan banyak emoticon terbahak-bahak.

Nina tak membalasnya lagi. Dia hanya diam dan bengong melihat kerumunan manusia di depannya. Para Twihard yang menggerutu gara-gara kehabisan tiket itu film. Ada juga yang berwajah semringah setelah lama mengantre akhirnya dapat juga tiketnya dan betapa luar biasanya antusiasme mereka. 

Dia beranjak dan mewawancarai beberapa pengunjung juga petugas tiket di sana. Semua itu lantas diketiknya dalam beritanya.  


Dia di sana hingga sore. Maklum, sambil nongkrong mengawasi kerumunan itu dia sambil mengetik berita di BBnya. BB lowbat, dia lantas mencari sudut-sudut tertentu yang ada colokan di bioskop itu. Colokan terdekat masih dipakai seorang remaja putri mencolok BBnya. Dia lantas beranjak ,celingak celinguk mencari colokan nganggur dan akhirnya dapat juga di lorong sepi dekat pintu keluar Studio 3 di lantai satu bioskop itu.
Sambil mengetik, dia sering sekali mendengar teriakan cewek-cewek dari dalam Studio 3 itu. Tak lama, mereka keluar sambil mengomentari film yang baru mereka tonton. Sekilas didengarnya judulnya, Paranormal Activity. Nina hanya menggeleng. “Film itu? Apa seramnya? “ katanya mengomentari dalam hati karena menurutnya itu film horror Hollywood nggak keren dengan akhir menggantung yang tanggung banget sehingga jadi aneh. 

Menurutnya, ini satu lagi contoh antusiasme luar biasa masyarakat terhadap film Amrik, walaupun masih kalah jauh dengan Twilight.
Pukul 4 sore itu, dia beres mengetik dan sudah mengirim beritanya di milis. Dia keluar bioskop namun sebelumnya, pandangan matanya tertohok ke sebuah pengumuman di meja loket karcis. 


“Tiket nonton film Breaking Dawn Part 2 sudah habis,” demikian isi pengumuman itu. Nina bengong. Didekatinya sang petugas tiket. Katanya, yang di kursi barisan depan untuk waktu tayang jam 10 malam pun sudah ludes. Nina makin bengong dan lemas.
Menjelang magrib, Restu menelponnya hendak meminjam uang Rp 100.000. katanya, dia mau membayar utang ke teman satu kosnya karena telah mengutanginya uang membeli tiket film Breaking Dawn. Nina bengong. “Cepetaaan! Ini sudah jam berapa? Aku nonton jam 7 ini,” seru itu cewek cempreng.


Usai magrib,   Nina pulang dari kantornya dan bertemu Restu di bawah dekat mesin absen. Usai meminjaminya uang, Nina mencubiti temannya itu gemas. Dia agak kesal karena Restu bisa dapat tiket nonton itu film. Kata Restu, ada teman satu kosnya yang membeli beberapa tiket untuk teman-temannya dan ternyata ada dua orang yang batal nonton. “Jadi, dua tiket sisa itu buat aku sama Rina,” katanya sambil menyebutkan nama Rina, sahabat Restu dan Nina yang mantan wartawan televisi lokal. 


Besoknya, dia membuka akun Facebooknya. Ada kiriman komentar dari Andri berupa gambar 11 lembar tiket Breaking Dawn yang belum disobek. 


“Rame kah? Tanya Nina.

“Bangeeeeet?” jawab Andri.

Tak lama, sebuah pesan BBM dari Andri masuk ke BB Nina. “Puas nontonnya,” seru Andri. “Ya kah? Aku cari gocengan aja deh,” balas Nina yang kemudian berpikir menonton nanti saja atau tak menonton sama sekali juga tak apa-apa. (*)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar