JUMAT, 16
November 2012 pagi, Nina terbelalak membaca status BlackBerry Messenger alias
BBM temannya, Andri. Di situ lengkap sekali dituliskan sebuah jadwal menonton
sebuah film di bioskop. Perasaannya mengatakan itu jadwal tayang film The
Twilight Saga Breaking Dawn Part 2 hari itu.
“Itu jadwal
Twilight ya?” tanya Nina di BBM.
“Yup,” balas
Andri singkat.
“Mau nonton
hari ini ya?” tanya Nina lagi.
“Ya, nanti
malam sih rencananya. Nonbar sama teman-temanku,” sahut Andri.
“Sama, tapi
aku siang ini sih, nonbar juga sama teman-temanku,” sahut Nina.
Andri
terbahak sendiri membaca BlackBerry Messenger alias BBM dari Nina.
Nina
bengong. “Emang kenapa?” balas Nina di BBMnya. Andri lama tak membalas karena
BBM Nina pending, maklum jaringan lagi lemot.
Siangnya,
Nina sibuk saja telponan dengan Puput,
satu di antara empat temannya yang bakal nonton bareng Twilight siang itu
sementara dia baru saja menyelesaikan tugasnya di kantor menyetor foto hasil
liputannya tadi pagi sebelum ditagih-tagih redakturnya.
Dia enggan nanti siang
waktunya menikmati wajah ganteng Robert Pattinson di film itu terganggu oleh
telpon dan SMS redakturnya hanya untuk menanyakan foto.
Puput dan
temannya satu lagi, Siska yang hari itu libur bertugas ngantre membeli tiket di
bioskop.
“Penuh tauuuu,” ucap Puput di telpon.
“Asli, Put?
Penuh banget?” tanya Nina.
“Bangeeeet,
panjang sekali sampai dinding di depan loket. Aku aja nggak bisa lewat. Kalau
mau lewat harus nyelip-nyelip dulu. Yang antre si Siska. Dia baru nyampe tengah
antrean aja katanya tiketnya sudah habis. Ada sih yang malam jam 10 tapi sisa
barisan depan? Mau?” jelas Puput panjang lebar.
Nina diam.
Mikir.
“Kalau aku
sama Siska sih ogah nonton paling depan, pusing lihatnya. Kalau Nina, Restu
sama Frans nggak mau juga, aku sama Siska mau beli tiket Skyfall. Gimana?”
berondong Puput.
Nina masih
diam, masih mikir. “Hmmm, ya sudah deh nggak jadi aja. Ogah ah nontonnya malam
banget kalau jam segitu,” kata Nina.
“Ya sudah,
Put telpon Restu sama Frans ya, bilang rencana nonbar kita hari ini batal,” kata Puput. Tak lama telepon putus dan Nina
melanjutkan aktifitasnya di kantor.
Usai salat
zuhur dan makan siang, redakturnya SMS memintanya memantau antusiasme para
Twihard (penggemar film Twilight) di bioskop. Setelah tiba di bioskop, Nina
bengong. “Anjriiit, penuh banget,” serunya.
Bagaimana
tidak bengong, ada banyak manusia, ratusan kali, tua dan muda di depannya
memenuhi bioskop. Mereka sepakat membentuk barisan panjang di depan loket tiket
dan kebanyakan berniat menonton itu film. Sebuah pemandangan luar biasa dan
langka terjadi di bioskop itu. Maklum saja, ini Banjarmasin bro, bioskopnya
cuma satu. Sepenuh-penuhnya ini tempat, belum pernah Nina melihat yang sebanyak
ini.
Mereka
benar-benar berjubel, walaupun masih ada sedikit ruang kosong untuk bergerak.
“Benar kata Puput, penuh banget,” batinnya.
Dia lalu celingak celinguk mencari Puput dan Siska tetapi tidak ada
juga. Tampaknya itu anak sudah asyik nonton film James Bond itu, Skyfall.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 13.00 dan Nina mendengar banyak gerutuan pengunjung bioskop.
“Tiketnya habis, masih ada yang malam tapi sisa barisan depan,” gerutu seorang
pengunjung yang tampaknya gagal mendapatkan tiket.
“Nukar
(beli) bajakannya aja deh,” gerutu pengunjung lainnya sembari keluar dari
antrean. “Kita karokean aja yuk, daripada di sini balawasan antre lapah unda
(daripada di sini lama sekali antre, lelah saya),” sahut yang lain dalam Bahasa
Banjar.
Dia lantas
duduk lesehan menyandar di salah satu dinding di bioskop itu. Dilihatnya, ada
balasan BBM dari Andri. Dan itu membuat Nina makin bengong.
“Aku nonton
Breaking Dawn nanti malam jam 10,” kata Andri.
“Emang kamu
sudah dapat tiket? Aku lagi di bioskop ni, nggak dapat tiket. Habis katanya,
ada yang malam tapi di depan,” sahut Nina.
“Aku tertawa
banget baca BBM kamu tadi pagi. Aku yang ngantre tadi pagi pukul 10 aja
dapatnya yang jam 10 malam,” sebut Andri.
Nina
bengong, terperanjat. Mulutnya terbuka lebar. “Bujuran kah, Ndri (benarkah,
Ndri)? Aku cari gocengan (goceng= Rp 5.000, maksudnya film bajakannya seharga
Rp 5.000)nya aja kalau kayak gitu,” balas Nina. Dan Andri hanya membalasnya
dengan mengirimkan banyak emoticon terbahak-bahak.
Nina tak
membalasnya lagi. Dia hanya diam dan bengong melihat kerumunan manusia di depannya.
Para Twihard yang menggerutu gara-gara kehabisan tiket itu film. Ada juga yang
berwajah semringah setelah lama mengantre akhirnya dapat juga tiketnya dan
betapa luar biasanya antusiasme mereka.
Dia beranjak dan mewawancarai beberapa
pengunjung juga petugas tiket di sana. Semua itu lantas diketiknya dalam
beritanya.
Dia di sana
hingga sore. Maklum, sambil nongkrong mengawasi kerumunan itu dia sambil
mengetik berita di BBnya. BB lowbat, dia lantas mencari sudut-sudut tertentu
yang ada colokan di bioskop itu. Colokan terdekat masih dipakai seorang remaja
putri mencolok BBnya. Dia lantas beranjak ,celingak celinguk mencari colokan
nganggur dan akhirnya dapat juga di lorong sepi dekat pintu keluar Studio 3 di
lantai satu bioskop itu.
Sambil
mengetik, dia sering sekali mendengar teriakan cewek-cewek dari dalam Studio 3
itu. Tak lama, mereka keluar sambil mengomentari film yang baru mereka tonton.
Sekilas didengarnya judulnya, Paranormal Activity. Nina hanya menggeleng. “Film
itu? Apa seramnya? “ katanya mengomentari dalam hati karena menurutnya itu film
horror Hollywood nggak keren dengan akhir menggantung yang tanggung banget
sehingga jadi aneh.
Menurutnya, ini satu lagi contoh antusiasme luar biasa
masyarakat terhadap film Amrik, walaupun masih kalah jauh dengan Twilight.
Pukul 4 sore
itu, dia beres mengetik dan sudah mengirim beritanya di milis. Dia keluar
bioskop namun sebelumnya, pandangan matanya tertohok ke sebuah pengumuman di
meja loket karcis.
“Tiket
nonton film Breaking Dawn Part 2 sudah habis,” demikian isi pengumuman itu.
Nina bengong. Didekatinya sang petugas tiket. Katanya, yang di kursi barisan
depan untuk waktu tayang jam 10 malam pun sudah ludes. Nina makin bengong dan
lemas.
Menjelang
magrib, Restu menelponnya hendak meminjam uang Rp 100.000. katanya, dia mau
membayar utang ke teman satu kosnya karena telah mengutanginya uang membeli
tiket film Breaking Dawn. Nina bengong. “Cepetaaan! Ini sudah jam berapa? Aku
nonton jam 7 ini,” seru itu cewek cempreng.
Usai magrib,
Nina pulang dari kantornya dan bertemu
Restu di bawah dekat mesin absen. Usai meminjaminya uang, Nina mencubiti
temannya itu gemas. Dia agak kesal karena Restu bisa dapat tiket nonton itu
film. Kata Restu, ada teman satu kosnya yang membeli beberapa tiket untuk
teman-temannya dan ternyata ada dua orang yang batal nonton. “Jadi, dua tiket
sisa itu buat aku sama Rina,” katanya sambil menyebutkan nama Rina, sahabat
Restu dan Nina yang mantan wartawan televisi lokal.
Besoknya,
dia membuka akun Facebooknya. Ada kiriman komentar dari Andri berupa gambar 11
lembar tiket Breaking Dawn yang belum disobek.
“Rame kah?
Tanya Nina.
“Bangeeeeet?”
jawab Andri.
Tak lama,
sebuah pesan BBM dari Andri masuk ke BB Nina. “Puas nontonnya,” seru Andri. “Ya
kah? Aku cari gocengan aja deh,” balas Nina yang kemudian berpikir menonton
nanti saja atau tak menonton sama sekali juga tak apa-apa. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar