Selasa, 14 April 2015

Sang Tamu




            Para tetangga tampak ramai mengelilingi tukang sayur. Seperti biasa, aktifitas harian pagi para ibu. Anak-anak kecil asyik bermain di sekeliling mereka. Tak jauh dari situ, sekelompok lelaki berkumpul di warung kopi Haji Madun menikmati pagi dengan sepiring gorengan dan kopi panas yang masih mengepul. Mereka asyik membicarakan pergolakan politik yang lagi ramai di ranah negeri ini.
            Mak Dijah kembali ke dapur, memeriksa perbendaharaan sayur mayur dan lauk pauk milik keluarganya. “Segini mana cukup! Di tukang sayur malah pada habis.” Dia terpana memandangi berasnya yang hanya tersisa ½ liter, 3 butir telur ayam kampung, seikat kecil bayam, dan 2 siung bawang putih. Dia ke kamar, memeriksa dompetnya dan dompet suaminya, melongok-longok dan menyerusup-nyerusupkan jemari kurusnya di sela-sela susunan bajunya di lemari. Yang ditemukannya hanya selembar uang lima ribuan. Ditengoknya ke luar jendela. Dia semakin sedih dan gusar ketika melihat suaminya asyik menikmati gorengan dan secangkir kopi panas. Pasti berhutang lagi! Kegusarannya semakin menjadi ketika melihat ruang tamunya yang sempit tiba-tiba jadi berantakan karena putra bungsunya si Dayat yang berusia 5 tahun membongkar mainannya di sana.
            “Mak!” Ipung, anak sulungnya yang sudah SMP, masuk. “Mak, kemarin Ipung lupa, Mak. Ada pesan dari Bu Guru kalau SPP Ipung harus dilunasi akhir bulan ini.” Mak Dijah menghela nafasnya pelan-pelan. Masalah ekonomi yang sering menghampiri keluarga-keluarga kaum pinggiran seperti keluarganya memang selalu tak ada habisnya. Pertanyaan itu selalu tak pernah berubah. Selalu sulit dicarikan jawabannya yang pas dan jitu : mengapa orang-orang miskin itu selalu diakrabi oleh kantong-kantong uang yang selalu kempis? Sudah berusaha susah payah membanting tulang dan memeras keringat hingga kering tapi kantong-kantong uang itu tak juga kunjung menggelembung? Kalau tak ada iman di dada, mungkin dia akan mengasah golok suaminya tajam-tajam untuk mengundang Sang Maut.  
            “Pung, kamu yang sabar ya, Nak. Untuk sementara ini bapak sama emak belum punya uang untuk bayar SPP kamu. Nanti malam pamanmu sekeluarga akan datang mengunjungi kita. Emak tidak enak kalau tidak menghormati kedatangan mereka. Mereka itu saudara kita. Kita harus berbuat baik pada saudara kita sendiri. Lagi pula mereka datang dari jauh.” Ipung ikut terhenyak melihat kenyataan ini. Sempat terlintas di pikirannya untuk putus sekolah saja setamat SD dulu, tapi orang tuanya menentang. Mereka ingin anak-anaknya berpendidikan, walaupun nantinya akan tetap miskin juga. Setidaknya, mereka punya anak yang lebih baik dari orang tuanya. Tetapi, besok saudara ayahnya akan datang dan mereka harus dijamu. Sedangkan keluarganya tidak punya bahan makanan yang cukup untuk dimasak.
            “Ya sudah, Mak. Kalau begitu, Ipung akan ke bengkelnya Bang Yayan dulu. Siapa tahu Ipung bisa bantu-bantu di sana dan upahnya bisa buat membeli bahan makanan untuk menjamu paman sekeluarga besok. Ipung pergi dulu ya, Mak.”
            Mak Dijah menghampiri suaminya yang sedang asyik mengobrol di warung Kopi Haji Madun. Suaminya mendekat. “Bang, daripada nongkrong nggak jelas di sana mendingan Abang cari kerja lah! Kita nggak punya bahan makanan yang cukup untuk mereka besok. Lakukan apa saja lah, Bang! Yang penting besok kita bisa menjamu mereka dengan sebaik-baiknya.” “Kerja apa sih, Dik? Cari kerja zaman sekarang susah!” jawab suaminya sekenanya. Mak Dijah semakin gusar. “Dasar Abang pemalas!”
            Mak Dijah berlalu dengan wajah sendu. Beberapa orang tetangganya yang melihatnya bertanya-tanya dan menghampirinya. Mereka merasa prihatin mengetahui nasib tetangga mereka yang satu ini. Tanpa diminta, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing dan mengeluarkan bahan makanan apa saja yang mereka punya untuk diberikan pada Mak Dijah, walaupun mereka sendiri juga bukan orang-orang kaya yang punya makanan berlimpah.  
            “Ayo, teman-teman! Kita harus cepat. Nanti keretanya pergi,” Rojak, anak yang sebaya dengan Dayat, memimpin teman-temannya, termasuk Dayat sendiri, untuk mengumpulkan mainan-mainan mereka. Setelah itu, mereka berbondong-bondong pergi ke stasiun kereta api dekat perkampungan mereka. “Ayo, Pak, Bu! Sayang anak! Sayang anak! Beli goceng dapat tiga! Murah! Murah!” Suara-suara kecil mereka terdengar mendominasi suasana tenang di gerbong-gerbong kereta api AC Express itu. Mereka terbagi dua. Satu kelompok menjajakan mainan-mainan itu di gerbong-gerbong kereta yang datang dan satu lagi menggelar jualan mereka di peron stasiun.  
            “Berapa, Yat?” tanya Rika. “Kalau lima ribunya ada lima, berapa, Ka?” tanya Dayat. Rika yang lebih pandai berhitung karena sering membantunya ibunya berjualan, mulai berpikir dan menggerak-gerakkan jari-jarinya. “Dua puluh lima ribu, Yat!” serunya berbinar-binar. Rojak dan teman-temannya yang lain juga tampak senang mendengarnya. Menjelang sore, Dayat menghampiri emaknya. “Mak, ini, Mak! Ada telur sekilo sama sayur-sayuran. Dari Dayat dan teman-teman. Buat paman sekeluarga nanti malam,” serunya. Mak Dijah takjub dan sangat terharu setelah tahu apa yang dilakukan oleh putra bungsunya dan teman-temannya di stasiun.    
             Malam itu, gubuk kecil Mak Dijah tampak ramai. Banyak tetangganya yang sibuk membantunya memasak. Sesekali dia melirik kesal pada suaminya yang pemalas dan lebih senang berkumpul dan mengobrol saja dengan teman-teman nongkrongnya. Dia bertambah sedih ketika melihat karung beras sumbangan dari para tetangganya tumpah berserakan karena ulah ayam-ayam yang sering berkeliaran di sekitar rumahnya. Dia merasa tidak enak meminta lagi pada para tetangganya. Apalagi dia juga tahu, beras-beras itu adalah beras-beras terakhir mereka.
            “Mak, Ipung datang, Mak! Maaf, Mak, Ipung telat. Tadi pelanggan Bang Yayan banyak banget. Karena Ipung sudah banyak membantunya, beliau kasih upah yang lumayan sekali. Ipung jadi bisa beli beras sekarung!” seru Ipung berbinar-binar. Tak terkira lagi bersyukurnya Mak Dijah pada Allah. Memiliki orang-orang seperti mereka ini bagaikan memiliki harta karun tak ternilai harganya, bahkan tak bisa terbeli oleh surga tujuh lapis sekali pun.
            Tepat pukul 8 malam, tamu agung yang telah dinantinya itu tiba. Mereka sangat senang dan merasa terhormat sekali dengan sambutan sang tuan rumah, Mak Dijah sekeluarga. Karena saking banyaknya makanan mereka malam itu, dan demi menghargai semua jerih payah para tetangganya, Mak Dijah mengajak mereka makan bersama malam itu dan menikmati indahnya kebersamaan ini ramai-ramai.
            Ketika mereka asyik makan, suami Mak Dijah terkejut melihat istrinya sedang sibuk menyiapkan kamar tidur untuk para tamu mereka. “Yaaa, kok spreinya yang ini sih? Aku dulu sudah bersusah payah kerja menarik becak dan menabung untuk membeli ini. Ini kan sprei sutra mahal khusus buat malam pertama Ipung kalau dia menikah nanti!” Mak Dijah memandang lekat pada suaminya. “Bang, belum pernah dengar sabda Nabi ya? Bahwa kita harus memuliakan tamu yang datang ke rumah kita. Kita memang bukan orang-orang yang pintar agama, tapi setidaknya kita harus memperlakukan tamu seperti raja!” Mak Dijah berlalu meninggalkan suaminya yang hanya terdiam dan membenarkan ucapan istrinya itu.
Selesai
              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar