Para tetangga tampak ramai
mengelilingi tukang sayur. Seperti biasa, aktifitas harian pagi para ibu. Anak-anak
kecil asyik bermain di sekeliling mereka. Tak jauh dari situ, sekelompok lelaki
berkumpul di warung kopi Haji Madun menikmati pagi dengan sepiring gorengan dan
kopi panas yang masih mengepul. Mereka asyik membicarakan pergolakan politik
yang lagi ramai di ranah negeri ini.
Mak Dijah kembali ke dapur,
memeriksa perbendaharaan sayur mayur dan lauk pauk milik keluarganya. “Segini
mana cukup! Di tukang sayur malah pada habis.” Dia terpana memandangi berasnya
yang hanya tersisa ½ liter, 3 butir telur ayam kampung, seikat kecil bayam, dan
2 siung bawang putih. Dia ke kamar, memeriksa dompetnya dan dompet suaminya,
melongok-longok dan menyerusup-nyerusupkan jemari kurusnya di sela-sela susunan
bajunya di lemari. Yang ditemukannya hanya selembar uang lima ribuan. Ditengoknya
ke luar jendela. Dia semakin sedih dan gusar ketika melihat suaminya asyik
menikmati gorengan dan secangkir kopi panas. Pasti berhutang lagi! Kegusarannya
semakin menjadi ketika melihat ruang tamunya yang sempit tiba-tiba jadi
berantakan karena putra bungsunya si Dayat yang berusia 5 tahun membongkar mainannya
di sana.
“Mak!” Ipung, anak sulungnya yang
sudah SMP, masuk. “Mak, kemarin Ipung lupa, Mak. Ada pesan dari Bu Guru kalau
SPP Ipung harus dilunasi akhir bulan ini.” Mak Dijah menghela nafasnya
pelan-pelan. Masalah ekonomi yang sering menghampiri keluarga-keluarga kaum
pinggiran seperti keluarganya memang selalu tak ada habisnya. Pertanyaan itu
selalu tak pernah berubah. Selalu sulit dicarikan jawabannya yang pas dan jitu
: mengapa orang-orang miskin itu selalu diakrabi oleh kantong-kantong uang yang
selalu kempis? Sudah berusaha susah payah membanting tulang dan memeras
keringat hingga kering tapi kantong-kantong uang itu tak juga kunjung
menggelembung? Kalau tak ada iman di dada, mungkin dia akan mengasah golok
suaminya tajam-tajam untuk mengundang Sang Maut.
“Pung, kamu yang sabar ya, Nak.
Untuk sementara ini bapak sama emak belum punya uang untuk bayar SPP kamu. Nanti
malam pamanmu sekeluarga akan datang mengunjungi kita. Emak tidak enak kalau
tidak menghormati kedatangan mereka. Mereka itu saudara kita. Kita harus
berbuat baik pada saudara kita sendiri. Lagi pula mereka datang dari jauh.”
Ipung ikut terhenyak melihat kenyataan ini. Sempat terlintas di pikirannya
untuk putus sekolah saja setamat SD dulu, tapi orang tuanya menentang. Mereka
ingin anak-anaknya berpendidikan, walaupun nantinya akan tetap miskin juga.
Setidaknya, mereka punya anak yang lebih baik dari orang tuanya. Tetapi, besok
saudara ayahnya akan datang dan mereka harus dijamu. Sedangkan keluarganya
tidak punya bahan makanan yang cukup untuk dimasak.
“Ya sudah, Mak. Kalau begitu, Ipung
akan ke bengkelnya Bang Yayan dulu. Siapa tahu Ipung bisa bantu-bantu di sana
dan upahnya bisa buat membeli bahan makanan untuk menjamu paman sekeluarga
besok. Ipung pergi dulu ya, Mak.”
Mak Dijah menghampiri suaminya yang
sedang asyik mengobrol di warung Kopi Haji Madun. Suaminya mendekat. “Bang,
daripada nongkrong nggak jelas di sana mendingan Abang cari kerja lah! Kita
nggak punya bahan makanan yang cukup untuk mereka besok. Lakukan apa saja lah,
Bang! Yang penting besok kita bisa menjamu mereka dengan sebaik-baiknya.”
“Kerja apa sih, Dik? Cari kerja zaman sekarang susah!” jawab suaminya sekenanya.
Mak Dijah semakin gusar. “Dasar Abang pemalas!”
Mak Dijah berlalu dengan wajah
sendu. Beberapa orang tetangganya yang melihatnya bertanya-tanya dan
menghampirinya. Mereka merasa prihatin mengetahui nasib tetangga mereka yang
satu ini. Tanpa diminta, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing dan
mengeluarkan bahan makanan apa saja yang mereka punya untuk diberikan pada Mak
Dijah, walaupun mereka sendiri juga bukan orang-orang kaya yang punya makanan
berlimpah.
“Ayo, teman-teman! Kita harus cepat.
Nanti keretanya pergi,” Rojak, anak yang sebaya dengan Dayat, memimpin
teman-temannya, termasuk Dayat sendiri, untuk mengumpulkan mainan-mainan
mereka. Setelah itu, mereka berbondong-bondong pergi ke stasiun kereta api
dekat perkampungan mereka. “Ayo, Pak, Bu! Sayang anak! Sayang anak! Beli goceng
dapat tiga! Murah! Murah!” Suara-suara kecil mereka terdengar mendominasi
suasana tenang di gerbong-gerbong kereta api AC Express itu. Mereka terbagi
dua. Satu kelompok menjajakan mainan-mainan itu di gerbong-gerbong kereta yang
datang dan satu lagi menggelar jualan mereka di peron stasiun.
“Berapa, Yat?” tanya Rika. “Kalau
lima ribunya ada lima, berapa, Ka?” tanya Dayat. Rika yang lebih pandai
berhitung karena sering membantunya ibunya berjualan, mulai berpikir dan
menggerak-gerakkan jari-jarinya. “Dua puluh lima ribu, Yat!” serunya
berbinar-binar. Rojak dan teman-temannya yang lain juga tampak senang
mendengarnya. Menjelang sore, Dayat menghampiri emaknya. “Mak, ini, Mak! Ada
telur sekilo sama sayur-sayuran. Dari Dayat dan teman-teman. Buat paman
sekeluarga nanti malam,” serunya. Mak Dijah takjub dan sangat terharu setelah
tahu apa yang dilakukan oleh putra bungsunya dan teman-temannya di stasiun.
Malam itu, gubuk kecil Mak Dijah tampak ramai.
Banyak tetangganya yang sibuk membantunya memasak. Sesekali dia melirik kesal
pada suaminya yang pemalas dan lebih senang berkumpul dan mengobrol saja dengan
teman-teman nongkrongnya. Dia bertambah sedih ketika melihat karung beras
sumbangan dari para tetangganya tumpah berserakan karena ulah ayam-ayam yang
sering berkeliaran di sekitar rumahnya. Dia merasa tidak enak meminta lagi pada
para tetangganya. Apalagi dia juga tahu, beras-beras itu adalah beras-beras
terakhir mereka.
“Mak, Ipung datang, Mak! Maaf, Mak,
Ipung telat. Tadi pelanggan Bang Yayan banyak banget. Karena Ipung sudah banyak
membantunya, beliau kasih upah yang lumayan sekali. Ipung jadi bisa beli beras
sekarung!” seru Ipung berbinar-binar. Tak terkira lagi bersyukurnya Mak Dijah
pada Allah. Memiliki orang-orang seperti mereka ini bagaikan memiliki harta
karun tak ternilai harganya, bahkan tak bisa terbeli oleh surga tujuh lapis sekali
pun.
Tepat pukul 8 malam, tamu agung yang
telah dinantinya itu tiba. Mereka sangat senang dan merasa terhormat sekali
dengan sambutan sang tuan rumah, Mak Dijah sekeluarga. Karena saking banyaknya
makanan mereka malam itu, dan demi menghargai semua jerih payah para
tetangganya, Mak Dijah mengajak mereka makan bersama malam itu dan menikmati
indahnya kebersamaan ini ramai-ramai.
Ketika mereka asyik makan, suami Mak
Dijah terkejut melihat istrinya sedang sibuk menyiapkan kamar tidur untuk para
tamu mereka. “Yaaa, kok spreinya yang ini sih? Aku dulu sudah bersusah payah
kerja menarik becak dan menabung untuk membeli ini. Ini kan sprei sutra mahal
khusus buat malam pertama Ipung kalau dia menikah nanti!” Mak Dijah memandang
lekat pada suaminya. “Bang, belum pernah dengar sabda Nabi ya? Bahwa kita harus
memuliakan tamu yang datang ke rumah kita. Kita memang bukan orang-orang yang
pintar agama, tapi setidaknya kita harus memperlakukan tamu seperti raja!” Mak
Dijah berlalu meninggalkan suaminya yang hanya terdiam dan membenarkan ucapan istrinya
itu.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar