Cinta menggeliat. Sudah pagi. Entah jam berapa. Kamarnya tampak lengang dan
berantakan. Matanya masih sepat ketika mentari pagi menerobos jendelanya.
Wajahnya tampak lesu. Jelas saja lesu, jam 04.15 pagi baru tidur. Cinta kembali
menarik selimutnya. Senyumnya mengembang. Kelebatan memori indah tadi malam
memenuhi ruang pikirannya.
Jalan Raya Puncak tampak agak lengang malam itu. Hujan lebat mengguyur. Ado
dan Cinta memutuskan untuk berhenti sambil menunggu hujan reda. Udaranya dingin
sekali. Sudah hampir jam 10. Seharian berpesta di rumah Tasya di Bandung memang
banyak menyita tenaga mereka.
“Cinta
chayang, enaknya kita ngapain ya sekarang? Bete neeeh nunggu begini terus. Mana di luar hujan deras lagi, ga bisa
kemana-mana.”Cinta hanya diam, seakan tak mendengarkan Ado. Ado melirik dan
memanggil cintanya itu. Alisnya turun naik beberapa kali dan senyumnya nakal
ketika Cinta menolehnya. Cinta tersenyum. “Why not? Bawa ga?” tanya Cinta. “So pasti donk say. Ado geto loh,” sahut Ado
sambil menepuk-nepuk kantong celananya. Di sana ada Fiesta rasa duren kesukaan Cinta.
Pukul
10.30 malam. Di luar dinginnya minta ampun, tapi Ado dan Cinta masa bodoh.
Mereka asyik dengan kehangatan suasana di dalam mobil goyang itu. Dua sejoli
yang masih kelas 1 SMU itu benar-benar tak memikirkan apa-apa lagi selain
nikmat semu ini. Hingga pukul 01.00 menjelang, hujan sudah reda. Mereka pun
pulang.
Cinta
masih mengembangkan senyumnya. Ia menjadi penganut free sex sejak kenal Ado beberapa bulan yang lalu. Tadi malam
adalah kali yang ke-10 dalam waktu 6 bulan hubungan Cinta mereka. Orang tua
mereka tidak ada yang tahu tentang hal ini. Mereka adalah broken home victims. Ayah Ado katanya ada di Aussie dan mamanya
yang tante girang itu sering keluyuran entah kemana. Papa dan mama Cinta
masing-masing punya selingkuhan. Akhirnya hubungan mereka berakhir di meja
hijau alias cerai. Ini adalah kenyataan yang membekaskan luka dan frustasi yang
dalam di benak Cinta dan Ado. Bagi mereka, menjadi penganut free sex adalah solusi terbaik.
Sudah
sebulan. Cinta lagi mumet dengan soal-soal Fisika. Bete bangeeet. Mana Ado lagi
nggak ada. Doi lagi nyusul papanya di Aussie, katanya sih papanya mau nikah
gitu sama bule sana. Baru sehari ditinggal Ado, tapi Cinta merasa seperti
kehilangan banget. Cinta melirik jam kecil di samping tempat tidurnya. Jam 9
lewat sedikit, tau deh lewat berapa, Cinta lagi nggak mood banget.
Cinta
mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Sebuah benda panjang, masih
terbungkus plastik. Dibolak-baliknya benda itu dengan agak sedikit ragu. Selang
5 menit, dia melangkah ke kamar mandi. Dilihatnya ke bawah sudah sepi. Mamanya
belum pulang. Wajah Cinta semakin tampak bete.
5
menit kemudian, di kamar mandi. Test pack
itu masih di genggamannya. Buliran bening membanjiri wajahnya. Sesekali ia
terisak. Tangannya yang memegang test
pack tampak gemetar. “Masak sih? Nggak mungkin banget! Gue nggak mungkin
hamil!”
Cinta jadi histeris, padahal test pack itu belum lagi dipakai. Haidnya memang telat 3 minggu, dan ini
membuat Cinta gundah setengah mati. Dipandanginya test pack itu. Masih agak ragu memakainya. Ia takut jika
perasaannya dan kenyataannya akan sama. Cinta menggumam, “Semoga negatif,
semoga negatif.”
Pagi
menjelang. Ia menutup kasar tirai jendela kamarnya. Di luar tampak mamanya baru
pulang dalam keadaan mabuk, cekikikan dan meracau tak karuan. Seorang lelaki
muda setengah mabuk berusia sekitar 20 tahunan memapahnya masuk. Lelaki muda
itu juga tampak agak mabuk. Cinta benar-benar muak habis melihatnya. Dia pasti
seorang gigolo. Kemarin lusa dengan si Teddy, pacar baru mamanya. Kemarin lagi
entah dengan siapa, Cinta tak kenal, kayaknya sih om-om gatal gitu. Sesaat
Cinta tampak emosi. Lalu bayi dalam perutnya ini harus bagaimana? Cinta benar-benar
bete. Ia menangis sejadi-jadinya.
Di
bulan berikutnya, Ado belum balik juga. Ia belum tahu apa-apa tentang bayi ini.
Cinta bingung setengah mati, tetapi di sekolah dia selalu berusaha tampak
tenang dan ceria. Hal ini tidak bleh tersebar, apalagi sampai diketahui Kepala
Sekolah. Sempat berkali-kali ia berpikir untuk aborsi, tetapi ditahannya karena
ia ingin Ado tahu dulu. Sebulan, dua bulan lagi ditunggunya. Tak ada sedikit
pun kabar dari Ado. Perutnya sudah tampak besar. Beribu kali ia berpikir untuk
aborsi, tetapi selalu tidak jadi. Ia sering merasakan adanya suatu denyut
kehidupan baru yang tulus dan suci dari janinnya. Dan ia merasa sayang.
Akhirnya, Cinta memutuskan untuk pindah sekolah, berhenti sementara hingga ia
melahirkan. Seraya juga menunggu Ado.
Keputusan
final Cinta membuat mamanya gusar. Ia tak mau sudah harus jadi nenek di usianya
yang diakuinya masih muda dan body-nya
yang masih tampak oke. Papa Cinta di Manado pun tak kalah gusar. Ia malah
menuduh mama Cinta yang tak becus mengurus anak. Hal ini kontan saja membuat
mereka ribut, tetapi Cinta tak goyah. Ia harus bertahan demi kelangsungan hidup
calon bayinya ini.
Perut
Cinta sudah membesar, sudah 6 bulan. Batinnya masih resah. Ado belum pulang
juga dan tak ada kabar sama sekali.
Cinta benar-benar mengharapkan Ado ada di sisinya. Hp-nya berbunyi,
tulisannya “Ado Memanggil.” Cinta tak percaya, masak sih Ado? Cinta bahagia
banget…ternyata Ado sudah ada di Indonesia…di rumahnya. Mereka janji bertemu
besok. Cinta tersenyum bahagia. Ia membayangkan reaksi Ado besok ketika melihat
badan Cinta sekarang.
Cinta melirik jam di hp-nya.
Jam 12.00, bete banget. Padahal udara sangat cerah hari ini. Tetapi tidak hati
Cinta. Ado memutuskannya dan tak mau bertanggung jawab sama sekali atas kehamilan
Cinta. Ado malah menuduh Cinta hamil dengan laki-laki lain selama Ado di
Aussie. Cinta sudah bersumpah dan berlutut mati-matian di depan Ado bahwa itu
tidak benar. Tetapi Ado tetap bersikeras putus. Cinta terduduk lunglai dan Ado
berbalik meninggalkannya tanpa menoleh sedetik pun.
Cinta
menarik nafas lega. Ia merapikan semua buku pelajaran di depannya. Sesaat ia
menggeliat lelah dan melirik si kecil Refan yang sudah terlelap. Melihat wajah
kecilnya yang imut-imut membuat Cinta terhibur. Refan benar-benar duplikatnya
Ado. Walaupun begitu, Cinta benar-benar bersyukur karena memiliki Refan adalah
sebuah anugrah terindah dari Allah. Malam ini ia harus tidur yang cukup agar
bisa tahajjud dan besok pagi pikirannya bisa segar untuk menjawab soal-soal
ujian masuk perguruan tinggi.
Sesaat
Cinta memandangi wajah Refan dan tersenyum kecil pada bocah berusia dua tahun
itu. Ado sendiri sudah tidak ada kabarnya lagi sejak ia memutuskan Cinta. Cinta
dengar gossip-gosip bahwa Ado kembali ke Aussie sehari setelahnya. Sakit
memang, tapi ia harus melupakan cowok itu. Sekarang yang dipikirannya hanya
masa depannya dan Refan.
Cinta
menuruni tangga. Di bawah, mamanya yang masih tampak lesu tersenyum kecut
padanya. “He, Cinta! Kamu pikir dengan baju dan jilbab panjangmu yang lebar dan
kedodoran itu akan ada laki-laki yang senang sama kamu?! Mana rok mini dan tank
top-mu dulu? Mama kangen melihatnya.” Cinta yang sudah rapi berhenti di tengah
tangga. “Eh, mama…pagi, Ma. Tumben pagi-pagi sudah bangun. Cinta ‘kan mau
pergi, Ma. Lagian Cinta sekarang lebih senang pakaian seperti ini, lebih
menutup aurat, Ma. Omong-omong, mama pulang jam berapa, Ma? Sama siapa?”
Mamanya meliriknya kesal dan kembali ke kamarnya untuk tidur. Cinta menggeleng.
Tampak Bi Dijah keluar dari dapur. “Bik, saya sarapan di luar saja, buru-buru
nih. Nanti kalau Refan bangun, tolong diurusi ya.” “Iya, Neng. Beres.”
Cinta
baru saja membuka pintu depan rumahnya dan mengucap salam, Refan sudah
menyambutnya dengan tangisan. Refan berlari dan memeluk Cinta erat-erat. Di
belakangnya ada Bik Dijah. Cinta heran, “Ada apa, Bik? Kenapa dengan Refan?”
Bik Dijah menjawab, “Itu Neng, si Nayla dan adiknya Rivana. Tadi ‘kan Refan
ingin ikut main sama mereka tapi nggak boleh. Mereka memaki-maki Refan itu anak
haram lalu Refan didorong sampai jatuh ke tanah. Tapi syukurlah nggak sampai
luka atau benjol.” Cinta terhenyak dan segera memeluk erat Refan. “Ya
Allah…anakku…anak haram?” hatinya terasa perih. Refan masih tersedu di
pelukannya. Dengan suara cadelnya dia mengadu ini dan itu pada Cinta. Cinta
membelainya lembut dan menghiburnya.
“Bik,
mama mana?” tanya Cinta. “Aduh, Neng Cinta…seperti biasa…tadi…kira-kira satu
jam yang lalu ada yang jemput.” Cinta menghembuskan nafas dengan keras. Akalnya
sering buntu jika menghadapi mamanya yang seperti itu. Tapi ia harus berbuat
sesuatu. “Oya, Neng! Tadi ada telpon dari papanya Neng Cinta di Manado.
Katanya, uangnya sudah dikirim tadi pagi. Bapak juga nanyain Den Refan, katanya
kangen.” Cinta tersenyum, setidaknya ada kabar gembira juga hari ini. Beberapa
universitas negri dan swasta telah coba dimasukinya, tetapi hasilnya nihil.
Sekarang, harapannya tinggal satu, kampus dekat rumahnya, besok.
Mamanya pulang dengan seorang
lelaki asing. Cinta tak kenal dengannya, dan memang tak pernah mau kenal dengan
mereka yang selalu mengantar pulang mamanya. Setelah cipika cipiki dengan
lelaki itu mamanya masuk ke rumah. Cinta menyambutnya dengan senyuman di
ruang tamu. “Assalamu’alaikum, Ma. Yang tadi itu siapa, Ma?” tanya Cinta. Mama
menjawab dengan puas dan bahagia di wajahnya. “Oooh, itu Barly, gigolo papan
atas di Indonesia
ini. Cinta, kapan-kapan kamu juga
mesti sama dia dooong, jangan terkurung melulu dalam gamismu yang kedodoran dan
kampungan, nggak ngetren dan nggak on
fashion itu!” Cinta tersentak mendengarnya. “Mama! Masya Allah! Istigfar,
Ma! Masak mama ngomong begitu? Oya, Ma, tadi sore Pak Agus mengundang mama ke
kantornya besok. Ada ta’lim ba’da zuhur di…,” “He Cinta! Kamu itu kayak nggak
tahu aja sih! Mama kamu ini ‘kan sehari-harinya selalu sibuk. Kalau nggak clubbing, hanging out, dan having fun
sama cowok-cowok hebat itu ya ‘kan mama juga mesti ke butik. Kalau bukan mama
yang urus terus siapa lagi? Kalau kamu juga nggak mungkin. Kamu itu yang
diurusi pengajian terus! Ya rohislah, ya inilah, ya itulah. Bilangin ya sama
bos kamu itu, mama nggak punya waktu buat begituan!!!” mama membanting pintu
kamarnya. Cinta terdiam.
Pak Agus itu bos Cinta. Beliau pemilik sebuah toko perlengkapan muslim. Letaknya
di sebuah ruko tidak jauh dari rumah Cinta. Beliau juga masih tetangga Cinta
yang dulu menawarinya pekerjaan sebagai kasir di tokonya. Cinta senang sekali
karena ia memang sedang butuh dana lebih untuk membeli keperluan bayi untuk
Refan. Uang dari papanya setiap bulan memang selalu lebih dari cukup. Tetapi
Cinta merasa sangat bahagia jika bisa menafkahi Refan dari hasil jerih payahnya
sendiri. Untuk ini, Cinta merasa sangat berhutang budi pada Pak Agus. Apalagi,
Pak Agus selalu mendukung usahanya untuk membimbing mamanya ke jalan yang
benar.
Azan
zuhur berkumandang dari masjid di kampus itu, Universitas At-Tirmidzy, tempat
Cinta akan kuliah nanti. Cinta mengajak Refan ke masjid. Cinta melihat-lihat ke sekelilingnya, mencari-cari tempat
duduk. Tiba-tiba ia terkejut. Ia seakan melihat sekilas sosok seseorang yang
sangat dikenalnya. Dadanya berdegup kencang. Tapi, antara yakin dan tidak, ia
seperti melihat...Ado. Masak sih Ado??? Bukankah dia di Aussie??? Tapi, rasanya
mustahil kalau yang dilihatnya tadi adalah Ado, karena gayanya seperti seorang
ikhwan, sangat jauh dari gaya Ado yang selama ini dikenalnya.
Pandangan
Cinta tanpa sengaja tertuju lagi ke ikhwan itu yang dikiranya Ado. Dadanya
berdegup kencang lagi. Ia perhatikan lagi ikhwan itu dengan baik. Ikhwan itu
sedang melangkah dari tempat wudhu ke dalam masjid. Benarkah itu Ado? Tinggi
badan memang kurang lebih saja tapi Ado lebih kurus dari ikhwan itu. Rambut?
Kalau Ado gaya rambutnya memang agak urakan dan selalu berubah-ubah sesuai
tren. Beda dengan ikhwan itu, ia rapi dan rambutnya pendek, juga disisir rapi.
Cinta juga melihat di dahi ikhwan itu ada bekas sujudnya yang menghitam dan
helaian jenggot agak lebat di dagunya. Satu lagi, ikhwan itu pakai baju koko.
Kalau Ado? Mana mau dia. Cinta agak ragu. Sepertinya itu bukan Ado. Tidak
mungkin Ado, tidak mungkin! Cinta tersadar dan segera mengalihkan pandangannya.
Sementara si ikhwan tersebut, menoleh sebentar ke samping, merasa seperti
diperhatikan seseorang, tapi tampaknya tidak ada. Cinta hanya menunduk dan
melirik sekilas. ”Kayaknya dia nyadar deh. Semoga dia bukan Ado, semoga bukan!”
Mama bersikap dingin-dingin
saja, bahkan tanpa ekspresi sama sekali ketika mendengar berita kelulusan
Cinta. Universitas At-Tirmidzy??? Mama mendengus kesal. Mendengar namanya saja
mama sudah sinis, apalagi jika melihat penampilan sebagian besar mahasiswanya
yang terkesan kuno, kampungan, tidak fashionable,
tidak ngetren. ”What an unstyled people!!!”
dengusnya. ”Cinta! Ngapain sih kamu gaul sama anak-anak seperti itu! Mau jadi
apa kamu?! Lagian, ni baju kedodoran begini! Jangan sok alim kamu, Anak Mama
Sayang! Kamu itu sudah tidak gadis lagi, kamu tu dah kotor. Mengerti kamu!!!”
mama pergi meninggalkan Cinta dengan kesal. Cinta hanya menunduk. Ia menangis
dan di saat-saat seperti ini, andaikan ada seseorang yang menemani dan
menasehatinya.
Ini hari pertama Cinta ikut
syuro. Kali ini agendanya membahas program kerja anak-anak DKM dan perkenalan
anggota baru. Para ikhwan juga berkumpul di tempat sholat pria. Udaranya yang
enak menebarkan angin semilir. Hijab di masjid agak terbuka sedikit karena
tiupan angin. Tanpa sengaja Cinta menoleh ke arah kumpulan ikhwan. Jantungnya
berdegup kencang. Ikhwan yang tempo hari itu! Yang dikiranya mirip Ado!
Syuro selesai. Cinta dan
beberapa akhwat senior bertugas mengurusi keputrian. ”Ukhti Cinta, insya Allah
keputrian kita akan berjalan mulai bulan depan. Pesertanya lumayan banyak ya,
jadi kayaknya kita perlu dokumentasi juga. Untuk ini kita bisa minta bantuan
ikhwan. Antum bisa?” Ukhti Mira bertanya. ”Insya Allah. Tapi ana mesti menghubungi
akhi siapa ya?” tanya Cinta. ”Siapa saja. Tapi yang sering membantu dalam hal
ini biasanya Akhi Ado.”
Deg! Jantung Cinta seperti
langsung berhenti berdetak. Nyawanya seakan langsung melayang. Dengan agak
lemas dan bibir agak bergetar Cinta memberanikan diri untuk bertanya. Semoga
saja bukan ikhwan yang sering dilihatnya mirip Ado itu. ”Ukhti, Akhi Ado
itu...yang...mana?” ”Itu orangnya.” Ukhti Mira menunjuk ke arah belakang Cinta.
Cinta semakin tergetar. Perlahan ia menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya
benar-benar terbelalak ketika melihat sesosok ikhwan sedang membaca buku yang
dipanggil Ado itu. Jadi, benar itu Ado yang dulu...? yang pernah...? Masya
Allah! Luka lama itu tersobek kembali.
Seringnya
beraktivitas di masjid dan kampus membuat Ado dan Cinta sering bertemu. Biasanya
hanya sebatas urusan Dakwah Kampus. Ado juga menyadari anak baru itu adalah
Cintanya yang dulu. Dia sudah tahu tentang Cinta dan Refan bahkan sejak setahun
yang lalu. Dia juga yang memohon-mohon pada pihak universitas untuk meluluskan
Cinta. Dia juga sudah meminta bantuan Ukhti Mira untuk menyampaikan ini pada
Cinta, dengan harapan Cinta akan memaafkannya. Di hadapan umum, Ado tampak
menjaga sikap dengan Cinta. Terkadang ini membuat Cinta sedih. Selama ini dia
berharap setelah Ado tahu tentang Refan, ia akan bertanggung jawab. Cinta tidak
berharap dinikahi tetapi hanya nafkah bulanan untuk jundi kecilnya.
Suatu
hari Cinta mengatakan ini pada Ado. Ado hanya menunduk di balik kain hijab di
masjid kampus. Masjid tampak agak sepi hari itu. Maklum hari minggu. Hanya ada
beberapa ikhwan dan akhwat yang sedang beres-beres di halaman masjid. Mereka
baru saja selesai melakukan kajian bulanan. Suasana sepi ini semakin mendukung
kesepian Ado. Ado tampak sedang memikirkan sesuatu. Tak lama ia angkat bicara.
Kali ini benar-benar membuat Cinta terperangah, kaget tapi juga bahagia. Ado
mengkhitbahnya! Tetapi dia juga jujur tentang keadaan dirinya. Dulu setelah
lepas dari Cinta, selama di Aussie, ia masih menjadi penganut sejati free sex. Pacarnya di sana sudah tak
terhitung, mulai dari gadis baik-baik, pelacur, sampai yang homo, lesbian dan
gay pun dia punya. Hingga setahun yang lalu dia berhenti dan benar-benar
bertobat setelah AIDS menderanya. Dia kembali ke Indonesia dan mulai bergaul
dengan lingkungan yang islami. AIDS-nya sudah parah dan rasanya sebentar lagi
Izrail akan menjemputnya. Selama ini dia ragu untuk menghubungi Cinta lagi
karena dia tahu Cinta pasti akan marah. Tapi sekarang tekadnya sudah bulat. Di
akhir hayatnya, dia ingin memenuhi separuh dien-nya karena Allah. Ia juga ingin
bertanggung jawab pada Refan yang selama ini ia abaikan. Dia telah membuat
surat wasiat untuk Cinta dan Refan.
Cinta
tak kuat menahan desakan tangis di hatinya. Ado dengan hati-hati menanyakan kembali
kesediaan Cinta untuk dinikahinya. Di tengah isakannya Cinta menyatakan
kesediaannya, demi Allah, demi cintanya pada Rabb-nya dan jundi kecilnya Refan.
Di
rumah sakit, sebulan kemudian. Suasana malam itu tampak lengang. Hanya ada
beberapa perawat jaga yang tampak hilir mudik. Di salah satu ruangannya, tampak
Ado terbaring lemas di pembaringan. Banyak selang mengelilingi tubuhnya. Tidak
jauh dari situ ada Cinta yang tertidur di sofa. Sudah beberapa hari ini ia
menginap di sana menemani sang suami yang sedang menderita.
Beberapa
saat yang lalu mama Ado datang menjenguk. Ado tampak sedih melihat mamanya yang
masih hobi mengincar para gigolo. Cinta juga miris melihatnya karena gigolo
yang tadi diajak mama Ado ke rumah sakit adalah langganan mamanya juga.
Menjelang tidur, Ado masih memikirkan nasib buruk mamanya hingga kantuk
menderanya.
Jam
dua dini hari. Ado membangunkan Cinta untuk tahajjud. Usai tahajjud, Ado ingin
mengatakan sesuatu pada Cinta. Cinta menggenggam erat tangan Ado. Ya Allah!
Dingin sekali tangannya! Apakah...ini sudah saatnya? Udara malam yang dingin,
hembusan angin malam dan gemerisik dedaunan semakin membuat keheningan
menjadi-jadi.
”Cinta...khumairahku...aku
tidak akan lama lagi. Nanti kalau aku sudah pergi...jagalah Refan. Bilang padanya...bahwa
abi sangat sayang padanya dan jadilah anak yang berbakti pada umi dan agama.
Untuk mama...bilang padanya untuk segera bertobat. Ajal bisa datang kapan pun.
Dan untukmu Cinta...khumairahku...istriku...maafkan aku yang telah membuatmu
menderita selama ini. Jika aku sudah tiada nanti, tetaplah istiqomah di
jalan-Nya, jangan pernah berpaling. Kau istri yang sholehah. Semoga Allah
mempertemukan kita kembali di jannah-Nya. Sampaikan pula maafku pada orang
tuamu, Bik Dijah, dan semua teman-teman di kampus. Aku menanti kalian semua di
jannah-Nya.” Kalimat Ado terhenti sejenak. Cinta merasa saatnya sudah dekat.
Isakannya semakin menjadi. Ia mencoba membimbing Ado mengucapkan syahadatain.
Jam
menunjukkan pukul 02.30, ketika Sang Izrail menjemput Ado. Ado pun menyambut
kedatangannya dengan wajah tenang dan senyum menyungging di akhir syahadatnya.
Cinta masih terisak dan tahu bahwa suaminya telah dijemput. Melihat wajah Ado
yang tenang dan tersenyum ia pun bangga bahwa suaminya telah khusnul khotimah.
Sekarang ia benar-benar puas walaupun sebagai pengantin baru ia hanya bisa
mereguk indahnya bulan madu di rumah sakit. Tapi nanti, akan bulan madu
selamanya di jannah-Nya. Insya Allah.
***Selesai***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar