Selasa, 14 April 2015

Cintanya Cinta



              Cinta menggeliat. Sudah pagi. Entah jam berapa. Kamarnya tampak lengang dan berantakan. Matanya masih sepat ketika mentari pagi menerobos jendelanya. Wajahnya tampak lesu. Jelas saja lesu, jam 04.15 pagi baru tidur. Cinta kembali menarik selimutnya. Senyumnya mengembang. Kelebatan memori indah tadi malam memenuhi ruang pikirannya.
            Jalan Raya Puncak tampak agak lengang malam itu. Hujan lebat mengguyur. Ado dan Cinta memutuskan untuk berhenti sambil menunggu hujan reda. Udaranya dingin sekali. Sudah hampir jam 10. Seharian berpesta di rumah Tasya di Bandung memang banyak menyita tenaga mereka.
            “Cinta chayang, enaknya kita ngapain ya sekarang? Bete neeeh nunggu begini terus. Mana di luar hujan deras lagi, ga bisa kemana-mana.”Cinta hanya diam, seakan tak mendengarkan Ado. Ado melirik dan memanggil cintanya itu. Alisnya turun naik beberapa kali dan senyumnya nakal ketika Cinta menolehnya. Cinta tersenyum. “Why not? Bawa ga?” tanya Cinta. “So pasti donk say. Ado geto loh,” sahut Ado sambil menepuk-nepuk kantong celananya. Di sana ada Fiesta rasa duren kesukaan Cinta.
            Pukul 10.30 malam. Di luar dinginnya minta ampun, tapi Ado dan Cinta masa bodoh. Mereka asyik dengan kehangatan suasana di dalam mobil goyang itu. Dua sejoli yang masih kelas 1 SMU itu benar-benar tak memikirkan apa-apa lagi selain nikmat semu ini. Hingga pukul 01.00 menjelang, hujan sudah reda. Mereka pun pulang.
            Cinta masih mengembangkan senyumnya. Ia menjadi penganut free sex sejak kenal Ado beberapa bulan yang lalu. Tadi malam adalah kali yang ke-10 dalam waktu 6 bulan hubungan Cinta mereka. Orang tua mereka tidak ada yang tahu tentang hal ini. Mereka adalah broken home victims. Ayah Ado katanya ada di Aussie dan mamanya yang tante girang itu sering keluyuran entah kemana. Papa dan mama Cinta masing-masing punya selingkuhan. Akhirnya hubungan mereka berakhir di meja hijau alias cerai. Ini adalah kenyataan yang membekaskan luka dan frustasi yang dalam di benak Cinta dan Ado. Bagi mereka, menjadi penganut free sex adalah solusi terbaik.
            Sudah sebulan. Cinta lagi mumet dengan soal-soal Fisika. Bete bangeeet. Mana Ado lagi nggak ada. Doi lagi nyusul papanya di Aussie, katanya sih papanya mau nikah gitu sama bule sana. Baru sehari ditinggal Ado, tapi Cinta merasa seperti kehilangan banget. Cinta melirik jam kecil di samping tempat tidurnya. Jam 9 lewat sedikit, tau deh lewat berapa, Cinta lagi nggak mood banget.
            Cinta mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Sebuah benda panjang, masih terbungkus plastik. Dibolak-baliknya benda itu dengan agak sedikit ragu. Selang 5 menit, dia melangkah ke kamar mandi. Dilihatnya ke bawah sudah sepi. Mamanya belum pulang. Wajah Cinta semakin tampak bete.
            5 menit kemudian, di kamar mandi. Test pack itu masih di genggamannya. Buliran bening membanjiri wajahnya. Sesekali ia terisak. Tangannya yang memegang test pack tampak gemetar. “Masak sih? Nggak mungkin banget! Gue nggak mungkin hamil!”
            Cinta jadi histeris, padahal test pack itu belum lagi dipakai. Haidnya memang telat 3 minggu, dan ini membuat Cinta gundah setengah mati. Dipandanginya test pack itu. Masih agak ragu memakainya. Ia takut jika perasaannya dan kenyataannya akan sama. Cinta menggumam, “Semoga negatif, semoga negatif.”
            Pagi menjelang. Ia menutup kasar tirai jendela kamarnya. Di luar tampak mamanya baru pulang dalam keadaan mabuk, cekikikan dan meracau tak karuan. Seorang lelaki muda setengah mabuk berusia sekitar 20 tahunan memapahnya masuk. Lelaki muda itu juga tampak agak mabuk. Cinta benar-benar muak habis melihatnya. Dia pasti seorang gigolo. Kemarin lusa dengan si Teddy, pacar baru mamanya. Kemarin lagi entah dengan siapa, Cinta tak kenal, kayaknya sih om-om gatal gitu. Sesaat Cinta tampak emosi. Lalu bayi dalam perutnya ini harus bagaimana? Cinta benar-benar bete. Ia menangis sejadi-jadinya.
            Di bulan berikutnya, Ado belum balik juga. Ia belum tahu apa-apa tentang bayi ini. Cinta bingung setengah mati, tetapi di sekolah dia selalu berusaha tampak tenang dan ceria. Hal ini tidak bleh tersebar, apalagi sampai diketahui Kepala Sekolah. Sempat berkali-kali ia berpikir untuk aborsi, tetapi ditahannya karena ia ingin Ado tahu dulu. Sebulan, dua bulan lagi ditunggunya. Tak ada sedikit pun kabar dari Ado. Perutnya sudah tampak besar. Beribu kali ia berpikir untuk aborsi, tetapi selalu tidak jadi. Ia sering merasakan adanya suatu denyut kehidupan baru yang tulus dan suci dari janinnya. Dan ia merasa sayang. Akhirnya, Cinta memutuskan untuk pindah sekolah, berhenti sementara hingga ia melahirkan. Seraya juga menunggu Ado.
            Keputusan final Cinta membuat mamanya gusar. Ia tak mau sudah harus jadi nenek di usianya yang diakuinya masih muda dan body-nya yang masih tampak oke. Papa Cinta di Manado pun tak kalah gusar. Ia malah menuduh mama Cinta yang tak becus mengurus anak. Hal ini kontan saja membuat mereka ribut, tetapi Cinta tak goyah. Ia harus bertahan demi kelangsungan hidup calon bayinya ini.
            Perut Cinta sudah membesar, sudah 6 bulan. Batinnya masih resah. Ado belum pulang juga dan tak ada kabar sama sekali.  Cinta benar-benar mengharapkan Ado ada di sisinya. Hp-nya berbunyi, tulisannya “Ado Memanggil.” Cinta tak percaya, masak sih Ado? Cinta bahagia banget…ternyata Ado sudah ada di Indonesia…di rumahnya. Mereka janji bertemu besok. Cinta tersenyum bahagia. Ia membayangkan reaksi Ado besok ketika melihat badan Cinta sekarang.
Cinta melirik jam di hp-nya. Jam 12.00, bete banget. Padahal udara sangat cerah hari ini. Tetapi tidak hati Cinta. Ado memutuskannya dan tak mau bertanggung jawab sama sekali atas kehamilan Cinta. Ado malah menuduh Cinta hamil dengan laki-laki lain selama Ado di Aussie. Cinta sudah bersumpah dan berlutut mati-matian di depan Ado bahwa itu tidak benar. Tetapi Ado tetap bersikeras putus. Cinta terduduk lunglai dan Ado berbalik meninggalkannya tanpa menoleh sedetik pun.
            Cinta menarik nafas lega. Ia merapikan semua buku pelajaran di depannya. Sesaat ia menggeliat lelah dan melirik si kecil Refan yang sudah terlelap. Melihat wajah kecilnya yang imut-imut membuat Cinta terhibur. Refan benar-benar duplikatnya Ado. Walaupun begitu, Cinta benar-benar bersyukur karena memiliki Refan adalah sebuah anugrah terindah dari Allah. Malam ini ia harus tidur yang cukup agar bisa tahajjud dan besok pagi pikirannya bisa segar untuk menjawab soal-soal ujian masuk perguruan tinggi.
            Sesaat Cinta memandangi wajah Refan dan tersenyum kecil pada bocah berusia dua tahun itu. Ado sendiri sudah tidak ada kabarnya lagi sejak ia memutuskan Cinta. Cinta dengar gossip-gosip bahwa Ado kembali ke Aussie sehari setelahnya. Sakit memang, tapi ia harus melupakan cowok itu. Sekarang yang dipikirannya hanya masa depannya dan Refan.
            Cinta menuruni tangga. Di bawah, mamanya yang masih tampak lesu tersenyum kecut padanya. “He, Cinta! Kamu pikir dengan baju dan jilbab panjangmu yang lebar dan kedodoran itu akan ada laki-laki yang senang sama kamu?! Mana rok mini dan tank top-mu dulu? Mama kangen melihatnya.” Cinta yang sudah rapi berhenti di tengah tangga. “Eh, mama…pagi, Ma. Tumben pagi-pagi sudah bangun. Cinta ‘kan mau pergi, Ma. Lagian Cinta sekarang lebih senang pakaian seperti ini, lebih menutup aurat, Ma. Omong-omong, mama pulang jam berapa, Ma? Sama siapa?” Mamanya meliriknya kesal dan kembali ke kamarnya untuk tidur. Cinta menggeleng. Tampak Bi Dijah keluar dari dapur. “Bik, saya sarapan di luar saja, buru-buru nih. Nanti kalau Refan bangun, tolong diurusi ya.” “Iya, Neng. Beres.”
            Cinta baru saja membuka pintu depan rumahnya dan mengucap salam, Refan sudah menyambutnya dengan tangisan. Refan berlari dan memeluk Cinta erat-erat. Di belakangnya ada Bik Dijah. Cinta heran, “Ada apa, Bik? Kenapa dengan Refan?” Bik Dijah menjawab, “Itu Neng, si Nayla dan adiknya Rivana. Tadi ‘kan Refan ingin ikut main sama mereka tapi nggak boleh. Mereka memaki-maki Refan itu anak haram lalu Refan didorong sampai jatuh ke tanah. Tapi syukurlah nggak sampai luka atau benjol.” Cinta terhenyak dan segera memeluk erat Refan. “Ya Allah…anakku…anak haram?” hatinya terasa perih. Refan masih tersedu di pelukannya. Dengan suara cadelnya dia mengadu ini dan itu pada Cinta. Cinta membelainya lembut dan menghiburnya.
            “Bik, mama mana?” tanya Cinta. “Aduh, Neng Cinta…seperti biasa…tadi…kira-kira satu jam yang lalu ada yang jemput.” Cinta menghembuskan nafas dengan keras. Akalnya sering buntu jika menghadapi mamanya yang seperti itu. Tapi ia harus berbuat sesuatu. “Oya, Neng! Tadi ada telpon dari papanya Neng Cinta di Manado. Katanya, uangnya sudah dikirim tadi pagi. Bapak juga nanyain Den Refan, katanya kangen.” Cinta tersenyum, setidaknya ada kabar gembira juga hari ini. Beberapa universitas negri dan swasta telah coba dimasukinya, tetapi hasilnya nihil. Sekarang, harapannya tinggal satu, kampus dekat rumahnya, besok.
Mamanya pulang dengan seorang lelaki asing. Cinta tak kenal dengannya, dan memang tak pernah mau kenal dengan mereka yang selalu mengantar pulang mamanya. Setelah cipika cipiki dengan lelaki itu mamanya masuk ke rumah. Cinta menyambutnya dengan senyuman di ruang tamu. “Assalamu’alaikum, Ma. Yang tadi itu siapa, Ma?” tanya Cinta. Mama menjawab dengan puas dan bahagia di wajahnya. “Oooh, itu Barly, gigolo papan atas di Indonesia ini. Cinta, kapan-kapan kamu juga mesti sama dia dooong, jangan terkurung melulu dalam gamismu yang kedodoran dan kampungan, nggak ngetren dan nggak on fashion itu!” Cinta tersentak mendengarnya. “Mama! Masya Allah! Istigfar, Ma! Masak mama ngomong begitu? Oya, Ma, tadi sore Pak Agus mengundang mama ke kantornya besok. Ada ta’lim ba’da zuhur di…,” “He Cinta! Kamu itu kayak nggak tahu aja sih! Mama kamu ini ‘kan sehari-harinya selalu sibuk. Kalau nggak clubbing, hanging out, dan having fun sama cowok-cowok hebat itu ya ‘kan mama juga mesti ke butik. Kalau bukan mama yang urus terus siapa lagi? Kalau kamu juga nggak mungkin. Kamu itu yang diurusi pengajian terus! Ya rohislah, ya inilah, ya itulah. Bilangin ya sama bos kamu itu, mama nggak punya waktu buat begituan!!!” mama membanting pintu kamarnya. Cinta terdiam.
            Pak Agus itu bos Cinta. Beliau pemilik sebuah toko perlengkapan muslim. Letaknya di sebuah ruko tidak jauh dari rumah Cinta. Beliau juga masih tetangga Cinta yang dulu menawarinya pekerjaan sebagai kasir di tokonya. Cinta senang sekali karena ia memang sedang butuh dana lebih untuk membeli keperluan bayi untuk Refan. Uang dari papanya setiap bulan memang selalu lebih dari cukup. Tetapi Cinta merasa sangat bahagia jika bisa menafkahi Refan dari hasil jerih payahnya sendiri. Untuk ini, Cinta merasa sangat berhutang budi pada Pak Agus. Apalagi, Pak Agus selalu mendukung usahanya untuk membimbing mamanya ke jalan yang benar.
            Azan zuhur berkumandang dari masjid di kampus itu, Universitas At-Tirmidzy, tempat Cinta akan kuliah nanti. Cinta mengajak Refan ke masjid.         Cinta melihat-lihat ke sekelilingnya, mencari-cari tempat duduk. Tiba-tiba ia terkejut. Ia seakan melihat sekilas sosok seseorang yang sangat dikenalnya. Dadanya berdegup kencang. Tapi, antara yakin dan tidak, ia seperti melihat...Ado. Masak sih Ado??? Bukankah dia di Aussie??? Tapi, rasanya mustahil kalau yang dilihatnya tadi adalah Ado, karena gayanya seperti seorang ikhwan, sangat jauh dari gaya Ado yang selama ini dikenalnya.
            Pandangan Cinta tanpa sengaja tertuju lagi ke ikhwan itu yang dikiranya Ado. Dadanya berdegup kencang lagi. Ia perhatikan lagi ikhwan itu dengan baik. Ikhwan itu sedang melangkah dari tempat wudhu ke dalam masjid. Benarkah itu Ado? Tinggi badan memang kurang lebih saja tapi Ado lebih kurus dari ikhwan itu. Rambut? Kalau Ado gaya rambutnya memang agak urakan dan selalu berubah-ubah sesuai tren. Beda dengan ikhwan itu, ia rapi dan rambutnya pendek, juga disisir rapi. Cinta juga melihat di dahi ikhwan itu ada bekas sujudnya yang menghitam dan helaian jenggot agak lebat di dagunya. Satu lagi, ikhwan itu pakai baju koko. Kalau Ado? Mana mau dia. Cinta agak ragu. Sepertinya itu bukan Ado. Tidak mungkin Ado, tidak mungkin! Cinta tersadar dan segera mengalihkan pandangannya. Sementara si ikhwan tersebut, menoleh sebentar ke samping, merasa seperti diperhatikan seseorang, tapi tampaknya tidak ada. Cinta hanya menunduk dan melirik sekilas. ”Kayaknya dia nyadar deh. Semoga dia bukan Ado, semoga bukan!”
Mama bersikap dingin-dingin saja, bahkan tanpa ekspresi sama sekali ketika mendengar berita kelulusan Cinta. Universitas At-Tirmidzy??? Mama mendengus kesal. Mendengar namanya saja mama sudah sinis, apalagi jika melihat penampilan sebagian besar mahasiswanya yang terkesan kuno, kampungan, tidak fashionable, tidak ngetren. ”What an unstyled people!!!” dengusnya. ”Cinta! Ngapain sih kamu gaul sama anak-anak seperti itu! Mau jadi apa kamu?! Lagian, ni baju kedodoran begini! Jangan sok alim kamu, Anak Mama Sayang! Kamu itu sudah tidak gadis lagi, kamu tu dah kotor. Mengerti kamu!!!” mama pergi meninggalkan Cinta dengan kesal. Cinta hanya menunduk. Ia menangis dan di saat-saat seperti ini, andaikan ada seseorang yang menemani dan menasehatinya.
Ini hari pertama Cinta ikut syuro. Kali ini agendanya membahas program kerja anak-anak DKM dan perkenalan anggota baru. Para ikhwan juga berkumpul di tempat sholat pria. Udaranya yang enak menebarkan angin semilir. Hijab di masjid agak terbuka sedikit karena tiupan angin. Tanpa sengaja Cinta menoleh ke arah kumpulan ikhwan. Jantungnya berdegup kencang. Ikhwan yang tempo hari itu! Yang dikiranya mirip Ado!
Syuro selesai. Cinta dan beberapa akhwat senior bertugas mengurusi keputrian. ”Ukhti Cinta, insya Allah keputrian kita akan berjalan mulai bulan depan. Pesertanya lumayan banyak ya, jadi kayaknya kita perlu dokumentasi juga. Untuk ini kita bisa minta bantuan ikhwan. Antum bisa?” Ukhti Mira bertanya. ”Insya Allah. Tapi ana mesti menghubungi akhi siapa ya?” tanya Cinta. ”Siapa saja. Tapi yang sering membantu dalam hal ini biasanya Akhi Ado.”
Deg! Jantung Cinta seperti langsung berhenti berdetak. Nyawanya seakan langsung melayang. Dengan agak lemas dan bibir agak bergetar Cinta memberanikan diri untuk bertanya. Semoga saja bukan ikhwan yang sering dilihatnya mirip Ado itu. ”Ukhti, Akhi Ado itu...yang...mana?” ”Itu orangnya.” Ukhti Mira menunjuk ke arah belakang Cinta. Cinta semakin tergetar. Perlahan ia menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya benar-benar terbelalak ketika melihat sesosok ikhwan sedang membaca buku yang dipanggil Ado itu. Jadi, benar itu Ado yang dulu...? yang pernah...? Masya Allah! Luka lama itu tersobek kembali.
            Seringnya beraktivitas di masjid dan kampus membuat Ado dan Cinta sering bertemu. Biasanya hanya sebatas urusan Dakwah Kampus. Ado juga menyadari anak baru itu adalah Cintanya yang dulu. Dia sudah tahu tentang Cinta dan Refan bahkan sejak setahun yang lalu. Dia juga yang memohon-mohon pada pihak universitas untuk meluluskan Cinta. Dia juga sudah meminta bantuan Ukhti Mira untuk menyampaikan ini pada Cinta, dengan harapan Cinta akan memaafkannya. Di hadapan umum, Ado tampak menjaga sikap dengan Cinta. Terkadang ini membuat Cinta sedih. Selama ini dia berharap setelah Ado tahu tentang Refan, ia akan bertanggung jawab. Cinta tidak berharap dinikahi tetapi hanya nafkah bulanan untuk jundi kecilnya.
            Suatu hari Cinta mengatakan ini pada Ado. Ado hanya menunduk di balik kain hijab di masjid kampus. Masjid tampak agak sepi hari itu. Maklum hari minggu. Hanya ada beberapa ikhwan dan akhwat yang sedang beres-beres di halaman masjid. Mereka baru saja selesai melakukan kajian bulanan. Suasana sepi ini semakin mendukung kesepian Ado. Ado tampak sedang memikirkan sesuatu. Tak lama ia angkat bicara. Kali ini benar-benar membuat Cinta terperangah, kaget tapi juga bahagia. Ado mengkhitbahnya! Tetapi dia juga jujur tentang keadaan dirinya. Dulu setelah lepas dari Cinta, selama di Aussie, ia masih menjadi penganut sejati free sex. Pacarnya di sana sudah tak terhitung, mulai dari gadis baik-baik, pelacur, sampai yang homo, lesbian dan gay pun dia punya. Hingga setahun yang lalu dia berhenti dan benar-benar bertobat setelah AIDS menderanya. Dia kembali ke Indonesia dan mulai bergaul dengan lingkungan yang islami. AIDS-nya sudah parah dan rasanya sebentar lagi Izrail akan menjemputnya. Selama ini dia ragu untuk menghubungi Cinta lagi karena dia tahu Cinta pasti akan marah. Tapi sekarang tekadnya sudah bulat. Di akhir hayatnya, dia ingin memenuhi separuh dien-nya karena Allah. Ia juga ingin bertanggung jawab pada Refan yang selama ini ia abaikan. Dia telah membuat surat wasiat untuk Cinta dan Refan.
            Cinta tak kuat menahan desakan tangis di hatinya. Ado dengan hati-hati menanyakan kembali kesediaan Cinta untuk dinikahinya. Di tengah isakannya Cinta menyatakan kesediaannya, demi Allah, demi cintanya pada Rabb-nya dan jundi kecilnya Refan.
            Di rumah sakit, sebulan kemudian. Suasana malam itu tampak lengang. Hanya ada beberapa perawat jaga yang tampak hilir mudik. Di salah satu ruangannya, tampak Ado terbaring lemas di pembaringan. Banyak selang mengelilingi tubuhnya. Tidak jauh dari situ ada Cinta yang tertidur di sofa. Sudah beberapa hari ini ia menginap di sana menemani sang suami yang sedang menderita.
            Beberapa saat yang lalu mama Ado datang menjenguk. Ado tampak sedih melihat mamanya yang masih hobi mengincar para gigolo. Cinta juga miris melihatnya karena gigolo yang tadi diajak mama Ado ke rumah sakit adalah langganan mamanya juga. Menjelang tidur, Ado masih memikirkan nasib buruk mamanya hingga kantuk menderanya.
            Jam dua dini hari. Ado membangunkan Cinta untuk tahajjud. Usai tahajjud, Ado ingin mengatakan sesuatu pada Cinta. Cinta menggenggam erat tangan Ado. Ya Allah! Dingin sekali tangannya! Apakah...ini sudah saatnya? Udara malam yang dingin, hembusan angin malam dan gemerisik dedaunan semakin membuat keheningan menjadi-jadi.
            ”Cinta...khumairahku...aku tidak akan lama lagi. Nanti kalau aku sudah pergi...jagalah Refan. Bilang padanya...bahwa abi sangat sayang padanya dan jadilah anak yang berbakti pada umi dan agama. Untuk mama...bilang padanya untuk segera bertobat. Ajal bisa datang kapan pun. Dan untukmu Cinta...khumairahku...istriku...maafkan aku yang telah membuatmu menderita selama ini. Jika aku sudah tiada nanti, tetaplah istiqomah di jalan-Nya, jangan pernah berpaling. Kau istri yang sholehah. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di jannah-Nya. Sampaikan pula maafku pada orang tuamu, Bik Dijah, dan semua teman-teman di kampus. Aku menanti kalian semua di jannah-Nya.” Kalimat Ado terhenti sejenak. Cinta merasa saatnya sudah dekat. Isakannya semakin menjadi. Ia mencoba membimbing Ado mengucapkan syahadatain.
            Jam menunjukkan pukul 02.30, ketika Sang Izrail menjemput Ado. Ado pun menyambut kedatangannya dengan wajah tenang dan senyum menyungging di akhir syahadatnya. Cinta masih terisak dan tahu bahwa suaminya telah dijemput. Melihat wajah Ado yang tenang dan tersenyum ia pun bangga bahwa suaminya telah khusnul khotimah. Sekarang ia benar-benar puas walaupun sebagai pengantin baru ia hanya bisa mereguk indahnya bulan madu di rumah sakit. Tapi nanti, akan bulan madu selamanya di jannah-Nya. Insya Allah.

***Selesai***

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar