Selasa, 14 April 2015

Romansa Cinta 2 Negara



Naskah cerpenku yang pernah kuikutkan lomba menulis Indiva akhir 2014 lalu. Nggak menang, cuma finalis. Jadi, kuterbitkan saja sendiri di sini heheheeee. Makanya ni ada kata pengantarnya segala.

Pengantar

Kisah ini sekitar 70% nyata. Terjadi di keluarga saya ratusan tahun lalu. Tokoh utamanya, Kadir dan Rahmah adalah kakek dan nenek buyut saya. Saya tidak pernah mengenal mereka karena ketika saya dilahirkan, mereka sudah meninggal dunia, namun kisah cinta mereka pernah saya dengar dari para sesepuh di keluarga saya seperti tante dan ibu saya sebagai cucu-cucu mereka. Selebihnya, 30%nya adalah fiksi, sekadar untuk memperkuat alur.


 

 Romansa Cinta 2 Negara

RAHMAH termenung di teras rumahnya. Hembusan angin kencang siang itu tak lagi dihiraukannya. Langit mendung dan pepohonan di sekitar rumahnya bergoyang-goyang diterpa angin.

Mak Inah, ibu Rahmah memanggil putrinya itu agar segera masuk ke rumah. Hujan akan segera turun, namun Rahmah tetap diam. Dia tetap larut dalam lamunan dan kegalauannya.

Mak Inah terdiam sejenak. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan putrinya itu. “Sudahlah, Mah. Tak perlu risau. Turutilah apa kata suamimu dan ayah ibumu ini. insya Allah itu baik untukmu dan anak-anakmu,” ujar Mak Inah.

Mata Rahmah berkaca-kaca. Wajahnya sendu. “Tapi Bang Kadir mau pergi jauh ke Malaka, Mak. Rahmah tak sanggup berpisah lama dengannya,” isak Rahmah. Langit bergemuruh. Petir bersahut-sahutan menyambut rinai hujan yang mulai kian deras. Hujan itu mulai membasahi pelataran rumahnya yang berbahan kayu ulin.

“Ayo, Mah. Lebih baik kita bicara di dalam saja. Hujan mulai deras,” ajak Mak Inah. Rahmah menurut.

Mereka kemudian berbicara di ruang tamu. Keadaan rumah sepi. Kedua anak Rahmah, Hasan dan Husin sedang tidur siang. Kebaya Rahmah basah, bukan karena terkena air hujan tapi oleh tetesan air matanya.

Suaminya, Abdul Kadir, merupakan seorang pedagang. Bagi masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan, sungai merupakan jalur transportasi penting. Orang berdagang banyak mengandalkan jalur sungai. Demikian pula suami Rahmah yang sehari-hari berdagang berbagai macam barang mulai dari sayur hingga benda-benda sehari-hari.

Ratusan tahun silam, karena kondisi perpolitikan tak stabil dan penduduk pribumi banyak tertekan akibat penjajahan Belanda, membuat mereka tak leluasa bekerja. Karenanya, banyak sekali orang Banjar yang bermukim di daerah hulu sungai merantau ke Sumatera dan Malaka (Malaysia) sekadar mencari penghidupan yang lebih layak untuk keluarga di kampung. Tak terkecuali bagi kebanyakan warga Kampung Kelua di Kalimantan Selatan seperti Kadir. Dia memutuskan untuk merantau ke Malaka. Baginya, nasibnya dan keluarganya kemungkinan akan lebih baik jika dia mencari nafkah berdagang di sana.

Rahmah memutuskan hendak ikut, namun ditentang keras oleh kedua orangtuanya, Haji Ali dan Mak Inah. “Mah, coba kau pikirkan anak-anakmu yang masih kecil. Kasihan jika mereka dibawa naik jukung (perahu dalam Bahasa Banjar), mengarungi sungai dan lautan berbulan-bulan lamanya ke Malaka situ. Diterpa angin dan hujan. Tidak Rahmah. Lebih baik kau di sini saja bersama abah wan uma. Biarlah suamimu yang merantau ke sana mencari nafkah,” bujuk Mak Inah.

Cukup lama Mak Inah membujuk Rahmah agar setuju dengannya. Akhirnya Rahmah luluh juga karena mempertimbangkan keselamatan kedua anaknya.

Kadir membereskan pakaiannya yang hendak dibawa merantau ke Malaka. Rahmah memandanginya dengan nanar. Hatinya masih tak rela.

“Mah, abang janji, nanti abang akan membawa uang yang banyak untukmu dan anak-anak. Percayalah, Mah. Insya Allah, di sana rejeki kita akan lebih baik,” ucap Kadir.

Besok pagi, dia akan berlayar. Dia akan berlayar memakai jukung, singgah dulu di Bandarmasih (nama lama Kota Banjarmasin). Dari Bandarmasih, dia akan melanjutkan perjalanan ke Malaka.

Rahmah hanya diam. Hatinya masih tak rela bakal berpisah jauh dan lama dengan suaminya.

Pagi menjelang, Kadir sudah bersiap-siap. Ditengoknya istrinya yang tampak murung. Kedua putra kembarnya menatap dalam ke arahnya.

“Abah ni handak kemana gerang (Ayah mau kemana sih)?” tanya Hasan, si sulung. “Abah pabila bulik (ayah kapan pulang)?” sambung adiknya, Husin. Kadir terdiam. Sulit menjelaskan ke anak-anaknya.
“Abah mau ke tempat yang jauh sekali. Abah mau cari duit yang banyak buat Hasan dan Husin. Biar nanti abah bisa beli baju baru yang bagus-bagus buat kalian,” ucap Kadir.  Hasan dan Husin yang masih berusia tiga tahun, belum bisa terlalu mengerti ucapan ayah mereka.

Rahmah memandang suaminya yang sebentar lagi akan pergi jauh. Hatinya masih berat, namun dia harus merelakannya. Demi kehidupan keluarga mereka agar lebih baik lagi.

Di seberang rumah mereka ada sungai dan jukung dan pengayuhnya yang sedang menunggu Kadir. Rahmah memandangi terus suaminya hingga hilang dipandangannya, menjauh dibawa jukung menuju ke hilir sungai, ke Bandarmasih.

Selanjutnya, hari-hari seperti biasa dilalui Rahmah, kedua orangtuanya dan anak-anaknya. Hingga suatu hari, dia dikejutkan oleh kedatangan Kadir yang mendadak.

Dia senang karena sudah bertahun-tahun dia tak berjumpa. Suaminya jarang mengirim kabar. Namun dia heran, di belakang suaminya ada seorang perempuan muda sedang menggendong seorang anak lelaki.

“Abang? Alhamdulillah. Mengapa abang datang tak memberi kabar dulu?” tanya Rahmah. Dia melirik ke arah perempuan di belakang suaminya. Perasaannya tiba-tiba langsung tak keruan. Apalagi ketika Kadir mengenalkan perempuan itu ke dia. Namanya Maryam dan anak kecil yang digendongnya bernama Gazali.

“Ini...,” Kadir harus berhati-hati mengatakannya ke Rahmah. Rahmah makin tak keruan perasaannya.

Malam itu dia sama sekali tak ingin menegur suaminya. Hatinya benar-benar sakit.

 “Abang di sana bertahun-tahun, Mah. Dari pada Abang berzina dan membuat Allah murka karena tak bisa menahan diri, lebih baik Abang menikah lagi,” jelas Kadir. Rahmah yang matanya sembab karena terus menangis, seakan enggan mendengar penjelasan suaminya.

Hari-hari terus berlalu. Rahmah malas bertegur sapa dengan Maryam dan anaknya, Gazali. Hal itu membuat Maryam merasa tak betah. Gazali sering merengek meminta pulang ke Kuala Lumpur, kampung halamannya. Banyak hal sepele yang membuat bocah cilik itu selalu rewel dan mengamuk meminta pulang ke kampungnya. Hal itu makin memperburuk suasana hati Maryam.

Rahmah dan Kadir kerap terlibat pertengkaran. Kadir yang merasa iba dengan Maryam membuatnya jadi sering menghibur Maryam. Hal itu membuat Rahmah cemburu. Tak pelak, pertengkaran mulut sering terjadi di antara mereka. Maryam kian tak betah tinggal serumah dan sekampung dengan istri tua suaminya.

“Bang, Maryam dan Gazali mau pulang saja. Kami rasa tak betah di sini,” ucap Maryam, pada suatu hari. Kadir terkejut mendengarnya. Dia mencoba meyakinkan Maryam untuk tetap tinggal bersamanya. Namun Maryam bergeming. Dia tetap pada pendiriannya.

Tentu saja Rahmah senang. Kadir akhirnya mengalah. Dia memutuskan mengantar Maryam dan si kecil Gazali pulang ke Kuala Lumpur. “Rahmah ikut,” seru Rahmah.

“Mah, kau di sini saja. Jaga anak-anak,” sahut Kadir.
“Dulu abang pergi sendirian, pulang bawa istri muda. Sekarang, Rahmah tak mau lagi terjadi seperti itu. Anak-anak akan ikut juga. Jadi, abang tak perlu khawatir soal mereka,” tegas Rahmah sambil melirik sinis ke Maryam.

Kadir terus berusaha membujuk Rahmah agar tetap tinggal, namun Rahmah tak menghiraukan kata-kata suaminya. Kadir kehabisan kata membujuk Rahmah. Akhirnya, jadilah Rahmah dan kedua anaknya ikut ke Kuala Lumpur.

Tiba di sana, Rahmah kaget karena ternyata rumah orangtua Maryam besar dan mewah. Dia baru mengetahui jika madunya itu anak orang kaya di kampungnya. Maklum, dia jarang berkomunikasi dengannya.

Rumah bergaya Melayu itu besar, banyak perabotan mewah di dalamnya. Satu hal yang membuatnya terkejut adalah perubahan sikap Maryam. Merasa di kampung sendiri, Maryam mulai mengeluarkan tabiat aslinya.

Dia yang selama di Kelua lebih banyak berdiam diri, sekarang sebaliknya. Dia mulai berusaha menguasai Kadir. Dia menuntut Kadir menceraikan Rahmah. “Kalau abang tak ceraikan dia, seluruh keluargaku di sini akan memusuhi abang,” Maryam berucap keras ke Kadir, pada suatu hari.

Kadir bingung hendak berucap apa. Selama ini, ayah Maryam sudah sangat baik kepadanya. Selama dia kehabisan duit di Malaysia, ayah Maryam selalu berbaik hati menolongnya. Ketika menikahi Maryam, dia sudah berjanji akan terus berusaha membahagiakan Maryam dan anak-anak mereka kelak.

Sekarang dia telah kehabisan kata. Entah karena dibakar cemburu atau bagaimana, Maryam banyak berubah sejak dia dibawanya pulang ke Kelua. Dia jadi lebih pendiam dan sekarang malah berani mengancamnya.
 “Maryam, ada apa dengan engkau?” tanya Kadir keheranan.
Maryam menatapnya tajam, diam beberapa detik. Kadir memandangnya tak percaya. Maryam yang dulu dikenalnya sekarang telah berubah. “Kau cemburu, Maryam,” seloroh Kadir.

“Sejak awal Maryam memang sudah tahu abang di kampung telah beristri dan beranak dua. Namun Maryam tak pernah mengira akan seperti ini sakitnya menjadi istri kedua,” kata Maryam.

Suasana hening. Pikiran Kadir kalut. Dia benar-benar bingung harus bertindak apa lagi.
“Aku ingin abang tinggal di sini bersama anak kita,” ucap Maryam kemudian.
Kadir menoleh ke Maryam. “Berarti Rahmah, Hasan dan Husin juga harus menetap di sini,” sahut Kadir.

“Tidak! Aku tak sudi berbagi atap dengan mereka! Mereka harus pulang!” teriak Maryam. Dia lantas beranjak pergi dengan cepat, meninggalkan Kadir yang masih kalut di kamar tidur mereka.
Rahmah yang merasa tinggal menumpang di rumah orangtua Maryam, terpaksa harus rajin bekerja di rumah. Sejak pagi dia sudah harus bangun dan mengerjakan berbagai macam pekerjaan. Sementara Maryam, karena merasa di rumah sendiri, dia lebih banyak bertindak sebagai penguasa rumah.

Orangtua Maryam pun sama. Mereka orang terkaya di kampung itu. Mereka sangat dihormati. Bahkan, jika ayah Maryam berbicara, tak ada yang berani berisik sedikit pun. Semua tiba-tiba senyap, padahal yang bersangkutan baru menampakkan batang hidungnya.

Rahmah acapkali kelelahan, membuat Kadir kerap merasa kasihan kemudian membantu pekerjaannya. Maryam tak senang melihat ini. Pembantu di rumah orangtua Maryam banyak, namun entah mengapa semua pekerjaan seakan diserahkannya ke Rahmah. Rahmah hanya bisa bersabar. Dia sadar, dia hanya menumpang.


Siang itu Rahmah duduk sejenak melepas lelah. Rahmah tampak kurus sekarang. Tubuh mudanya lebih terlihat tua. Kadir merasa kasihan melihatnya. Dia menyesal telah mengizinkan Rahmah ikut kemari. Kadir membelainya sekadar membesarkan hatinya.

Maryam tak sengaja melihatnya. Dia langsung dibakar cemburu. Tanpa pikir panjang dia langsung menuju kamarnya. Tak lama dia keluar dan langsung menghampiri Kadir dan Rahmah yang sedang ngobrol.

Maryam, dengan mata penuh api cemburu, langsung menodongkan sepucuk pistol ke arah Rahmah. Kadir kaget bukan kepalang melihat perbuatan istri mudanya ini. Kadir tak pernah menyangka jika Maryam berani menodongkan pistol yang biasa dipakai ayahnya untuk mengawasi buruh-buruhnya di perkebunan.

Rahmah pun tak kalah terkejutnya. Perbuatan Maryam ini membuat seisi rumah gaduh. Kadir dan Rahmah panik. Apalagi moncong pistol itu dekat sekali dengan Rahmah.

“Abang, aku sudah tak kuat lagi hidup dimadu. Abang selalu memperhatikannya. Sementara aku dan anakku tak engkau hiraukan.”

“Maryam, abang tak bermaksud pilih kasih. Tapi coba kau pikir, di rumah ini banyak sekali pembantu, tetapi mengapa semua pekerjaan dibebankan ke Rahmah. Dia juga seorang istri dan ibu. Dia juga harus mengurus si kembar. Abang sering merasa kasihan padanya. Sebagai suaminya, abang tak tega.”

Maryam masih berdiri mematung, penuh kebencian. Jempol kanannya bersiap menarik pelatuk pistol untuk menembak Rahmah namun dihalangi Kadir. “Abang, biarkan aku menembaknya. Aku benci dia!” teriak Maryam. Dia makin kalap saja.

“Bang, sudahlah. Kalau dia ingin menembak Rahmah, biarkan saja. Rahmah juga tak kuat hidup dimadu. Lebih baik Rahmah mati saja. Tembaklah aku Maryam! Tembak!” seru Rahmah berurai air mata.   

Sekujur tubuh Maryam gemetar. Kedua orangtua Maryam datang. Mereka terkejut melihat aksi Maryam yang nekad.

“Maryam, jangan, Nak! Jangan kau bunuh dia,” seru ayah Maryam. Sementara ibunya tampak ketakutan. “Maryam, kalau kau bunuh dia, kau akan membuat malu ayah. Ayah tuan tanah di sini. Jika kau berbuat tak senonoh, mau ditaruh dimana muka ayah ni!” sambung ayahnya, berusaha menghentikan aksi nekad putri tunggalnya.

Maryam mulai luluh. Dia menurunkan pistolnya dan masih dalam diam penuh getaran kebencian. “Baiklah, dia takkan kubunuh. Aku ingin Bang Kadir putuskan sekarang juga. Abang pilih dia? Atau aku?” desak Maryam. Dia menatap tajam ke arah Kadir, menanti jawaban.

Kadir membalas tatapan Maryam. “Rahmah, kemasi baju-baju kita sekarang juga. Siang ini juga kita balik ke Kelua,” sahut Kadir berkata ke Rahmah namun tatapan matanya masih mengarah ke Maryam. Ucapan Kadir itu seakan isyarat buat Maryam bahwa Kadir lebih memilih Rahmah sebagai istrinya.

Maryam terduduk lemas. Kadir resmi menceraikannya tak lama setelah itu. Dia sekarang menyesali perbuatannya yang terlalu dipengaruhi kecemburuan. Penyesalan terhadap keputusannya dulu yang mau saja menerima pinangan Kadir, padahal dia tahu Kadir telah beristri dan beranak di kampung halamannya juga sering menghantui pikirannya.

Kadir, Rahmah dan kedua anak mereka pulang ke Kelua. Bertahun-tahun berlalu, Kadir dan Rahmah memiliki anak lagi hingga berjumlah 14 orang.

Dua di antara 14 anak mereka yang juga bernama Maryam dan adiknya, Ra’amas, memiliki anak bernama Masitah dan Djantera. Kemudian, Gazali, anak tunggal Kadir dan Maryam pun telah memiliki anak bernama Cik Yah dan Cik Sayang. Di masa remaja mereka, keempat cucu Kadir ini kerap berkirim surat. Walau kakek dan nenek mereka bercerai, namun hubungan kekeluargaan di antara cucu-cucu mereka ini tetap akrab.

Bahkan, Djantera yang senang berdagang pernah mengunjungi rumah mereka di Malaysia puluhan tahun silam. Namun sayang, akibat kondisi perpolitikan Malaysia dan Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno pernah memburuk, hubungan surat menyurat mereka terputus. Hingga pada 2010 lalu, Djantera yang sudah renta, mencoba mencari lagi jejak mereka di Malaysia ketika dia ada kesempatan berkunjung ke sana bersama teman-temannya sesama dosen untuk menghadiri suatu acara. Dia menemukan mereka dan hingga kini, jika ada kesempatan, kami yang di Indonesia dan mereka yang di Malaysia pun saling mengunjungi. (*)

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar