Naskah cerpenku yang pernah kuikutkan lomba menulis Indiva akhir 2014 lalu. Nggak menang, cuma finalis. Jadi, kuterbitkan saja sendiri di sini heheheeee. Makanya ni ada kata pengantarnya segala.
Pengantar
Kisah
ini sekitar 70% nyata. Terjadi di keluarga saya ratusan tahun lalu. Tokoh
utamanya, Kadir dan Rahmah adalah kakek dan nenek buyut saya. Saya tidak pernah
mengenal mereka karena ketika saya dilahirkan, mereka sudah meninggal dunia,
namun kisah cinta mereka pernah saya dengar dari para sesepuh di keluarga saya
seperti tante dan ibu saya sebagai cucu-cucu mereka. Selebihnya, 30%nya adalah
fiksi, sekadar untuk memperkuat alur.
Romansa Cinta 2 Negara
RAHMAH
termenung di teras rumahnya. Hembusan angin kencang siang itu tak lagi
dihiraukannya. Langit mendung dan pepohonan di sekitar rumahnya
bergoyang-goyang diterpa angin.
Mak
Inah, ibu Rahmah memanggil putrinya itu agar segera masuk ke rumah. Hujan akan
segera turun, namun Rahmah tetap diam. Dia tetap larut dalam lamunan dan
kegalauannya.
Mak
Inah terdiam sejenak. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan putrinya itu.
“Sudahlah, Mah. Tak perlu risau. Turutilah apa kata suamimu dan ayah ibumu ini.
insya Allah itu baik untukmu dan anak-anakmu,” ujar Mak Inah.
Mata
Rahmah berkaca-kaca. Wajahnya sendu. “Tapi Bang Kadir mau pergi jauh ke Malaka,
Mak. Rahmah tak sanggup berpisah lama dengannya,” isak Rahmah. Langit
bergemuruh. Petir bersahut-sahutan menyambut rinai hujan yang mulai kian deras.
Hujan itu mulai membasahi pelataran rumahnya yang berbahan kayu ulin.
“Ayo,
Mah. Lebih baik kita bicara di dalam saja. Hujan mulai deras,” ajak Mak Inah.
Rahmah menurut.
Mereka
kemudian berbicara di ruang tamu. Keadaan rumah sepi. Kedua anak Rahmah, Hasan
dan Husin sedang tidur siang. Kebaya Rahmah basah, bukan karena terkena air
hujan tapi oleh tetesan air matanya.
Suaminya,
Abdul Kadir, merupakan seorang pedagang. Bagi masyarakat suku Banjar di
Kalimantan Selatan, sungai merupakan jalur transportasi penting. Orang
berdagang banyak mengandalkan jalur sungai. Demikian pula suami Rahmah yang
sehari-hari berdagang berbagai macam barang mulai dari sayur hingga benda-benda
sehari-hari.
Ratusan
tahun silam, karena kondisi perpolitikan tak stabil dan penduduk pribumi banyak
tertekan akibat penjajahan Belanda, membuat mereka tak leluasa bekerja.
Karenanya, banyak sekali orang Banjar yang bermukim di daerah hulu sungai
merantau ke Sumatera dan Malaka (Malaysia) sekadar mencari penghidupan yang
lebih layak untuk keluarga di kampung. Tak terkecuali bagi kebanyakan warga
Kampung Kelua di Kalimantan Selatan seperti Kadir. Dia memutuskan untuk
merantau ke Malaka. Baginya, nasibnya dan keluarganya kemungkinan akan lebih
baik jika dia mencari nafkah berdagang di sana.
Rahmah
memutuskan hendak ikut, namun ditentang keras oleh kedua orangtuanya, Haji Ali
dan Mak Inah. “Mah, coba kau pikirkan anak-anakmu yang masih kecil. Kasihan
jika mereka dibawa naik jukung (perahu
dalam Bahasa Banjar), mengarungi sungai dan lautan berbulan-bulan lamanya ke
Malaka situ. Diterpa angin dan hujan. Tidak Rahmah. Lebih baik kau di sini saja
bersama abah wan uma. Biarlah suamimu
yang merantau ke sana mencari nafkah,” bujuk Mak Inah.
Cukup
lama Mak Inah membujuk Rahmah agar setuju dengannya. Akhirnya Rahmah luluh juga
karena mempertimbangkan keselamatan kedua anaknya.
Kadir
membereskan pakaiannya yang hendak dibawa merantau ke Malaka. Rahmah
memandanginya dengan nanar. Hatinya masih tak rela.
“Mah,
abang janji, nanti abang akan membawa uang yang banyak untukmu dan anak-anak.
Percayalah, Mah. Insya Allah, di sana rejeki kita akan lebih baik,” ucap Kadir.
Besok
pagi, dia akan berlayar. Dia akan berlayar memakai jukung, singgah dulu di Bandarmasih (nama lama Kota Banjarmasin).
Dari Bandarmasih, dia akan melanjutkan perjalanan ke Malaka.
Rahmah
hanya diam. Hatinya masih tak rela bakal berpisah jauh dan lama dengan
suaminya.
Pagi
menjelang, Kadir sudah bersiap-siap. Ditengoknya istrinya yang tampak murung.
Kedua putra kembarnya menatap dalam ke arahnya.
“Abah ni handak kemana gerang (Ayah mau
kemana sih)?” tanya Hasan, si sulung. “Abah
pabila bulik (ayah kapan pulang)?” sambung adiknya, Husin. Kadir terdiam.
Sulit menjelaskan ke anak-anaknya.
“Abah mau ke tempat yang jauh sekali. Abah mau cari duit yang banyak buat
Hasan dan Husin. Biar nanti abah bisa
beli baju baru yang bagus-bagus buat kalian,” ucap Kadir. Hasan dan Husin yang masih berusia tiga tahun,
belum bisa terlalu mengerti ucapan ayah mereka.
Rahmah
memandang suaminya yang sebentar lagi akan pergi jauh. Hatinya masih berat,
namun dia harus merelakannya. Demi kehidupan keluarga mereka agar lebih baik
lagi.
Di
seberang rumah mereka ada sungai dan jukung
dan pengayuhnya yang sedang menunggu Kadir. Rahmah memandangi terus suaminya
hingga hilang dipandangannya, menjauh dibawa jukung menuju ke hilir sungai, ke Bandarmasih.
Selanjutnya,
hari-hari seperti biasa dilalui Rahmah, kedua orangtuanya dan anak-anaknya.
Hingga suatu hari, dia dikejutkan oleh kedatangan Kadir yang mendadak.
Dia
senang karena sudah bertahun-tahun dia tak berjumpa. Suaminya jarang mengirim
kabar. Namun dia heran, di belakang suaminya ada seorang perempuan muda sedang
menggendong seorang anak lelaki.
“Abang?
Alhamdulillah. Mengapa abang datang tak memberi kabar dulu?” tanya Rahmah. Dia
melirik ke arah perempuan di belakang suaminya. Perasaannya tiba-tiba langsung
tak keruan. Apalagi ketika Kadir mengenalkan perempuan itu ke dia. Namanya
Maryam dan anak kecil yang digendongnya bernama Gazali.
“Ini...,”
Kadir harus berhati-hati mengatakannya ke Rahmah. Rahmah makin tak keruan
perasaannya.
Malam
itu dia sama sekali tak ingin menegur suaminya. Hatinya benar-benar sakit.
“Abang di sana bertahun-tahun, Mah. Dari pada
Abang berzina dan membuat Allah murka karena tak bisa menahan diri, lebih baik
Abang menikah lagi,” jelas Kadir. Rahmah yang matanya sembab karena terus
menangis, seakan enggan mendengar penjelasan suaminya.
Hari-hari
terus berlalu. Rahmah malas bertegur sapa dengan Maryam dan anaknya, Gazali.
Hal itu membuat Maryam merasa tak betah. Gazali sering merengek meminta pulang
ke Kuala Lumpur, kampung halamannya. Banyak hal sepele yang membuat bocah cilik
itu selalu rewel dan mengamuk meminta pulang ke kampungnya. Hal itu makin
memperburuk suasana hati Maryam.
Rahmah
dan Kadir kerap terlibat pertengkaran. Kadir yang merasa iba dengan Maryam
membuatnya jadi sering menghibur Maryam. Hal itu membuat Rahmah cemburu. Tak
pelak, pertengkaran mulut sering terjadi di antara mereka. Maryam kian tak
betah tinggal serumah dan sekampung dengan istri tua suaminya.
“Bang,
Maryam dan Gazali mau pulang saja. Kami rasa tak betah di sini,” ucap Maryam,
pada suatu hari. Kadir terkejut mendengarnya. Dia mencoba meyakinkan Maryam
untuk tetap tinggal bersamanya. Namun Maryam bergeming. Dia tetap pada
pendiriannya.
Tentu
saja Rahmah senang. Kadir akhirnya mengalah. Dia memutuskan mengantar Maryam
dan si kecil Gazali pulang ke Kuala Lumpur. “Rahmah ikut,” seru Rahmah.
“Mah,
kau di sini saja. Jaga anak-anak,” sahut Kadir.
“Dulu
abang pergi sendirian, pulang bawa istri muda. Sekarang, Rahmah tak mau lagi
terjadi seperti itu. Anak-anak akan ikut juga. Jadi, abang tak perlu khawatir
soal mereka,” tegas Rahmah sambil melirik sinis ke Maryam.
Kadir
terus berusaha membujuk Rahmah agar tetap tinggal, namun Rahmah tak
menghiraukan kata-kata suaminya. Kadir kehabisan kata membujuk Rahmah. Akhirnya,
jadilah Rahmah dan kedua anaknya ikut ke Kuala Lumpur.
Tiba
di sana, Rahmah kaget karena ternyata rumah orangtua Maryam besar dan mewah.
Dia baru mengetahui jika madunya itu anak orang kaya di kampungnya. Maklum, dia
jarang berkomunikasi dengannya.
Rumah
bergaya Melayu itu besar, banyak perabotan mewah di dalamnya. Satu hal yang
membuatnya terkejut adalah perubahan sikap Maryam. Merasa di kampung sendiri,
Maryam mulai mengeluarkan tabiat aslinya.
Dia
yang selama di Kelua lebih banyak berdiam diri, sekarang sebaliknya. Dia mulai
berusaha menguasai Kadir. Dia menuntut Kadir menceraikan Rahmah. “Kalau abang
tak ceraikan dia, seluruh keluargaku di sini akan memusuhi abang,” Maryam
berucap keras ke Kadir, pada suatu hari.
Kadir
bingung hendak berucap apa. Selama ini, ayah Maryam sudah sangat baik
kepadanya. Selama dia kehabisan duit di Malaysia, ayah Maryam selalu berbaik
hati menolongnya. Ketika menikahi Maryam, dia sudah berjanji akan terus
berusaha membahagiakan Maryam dan anak-anak mereka kelak.
Sekarang
dia telah kehabisan kata. Entah karena dibakar cemburu atau bagaimana, Maryam
banyak berubah sejak dia dibawanya pulang ke Kelua. Dia jadi lebih pendiam dan
sekarang malah berani mengancamnya.
“Maryam, ada apa dengan engkau?” tanya Kadir
keheranan.
Maryam
menatapnya tajam, diam beberapa detik. Kadir memandangnya tak percaya. Maryam
yang dulu dikenalnya sekarang telah berubah. “Kau cemburu, Maryam,” seloroh
Kadir.
“Sejak
awal Maryam memang sudah tahu abang di kampung telah beristri dan beranak dua.
Namun Maryam tak pernah mengira akan seperti ini sakitnya menjadi istri kedua,”
kata Maryam.
Suasana
hening. Pikiran Kadir kalut. Dia benar-benar bingung harus bertindak apa lagi.
“Aku
ingin abang tinggal di sini bersama anak kita,” ucap Maryam kemudian.
Kadir
menoleh ke Maryam. “Berarti Rahmah, Hasan dan Husin juga harus menetap di
sini,” sahut Kadir.
“Tidak!
Aku tak sudi berbagi atap dengan mereka! Mereka harus pulang!” teriak Maryam.
Dia lantas beranjak pergi dengan cepat, meninggalkan Kadir yang masih kalut di
kamar tidur mereka.
Rahmah
yang merasa tinggal menumpang di rumah orangtua Maryam, terpaksa harus rajin
bekerja di rumah. Sejak pagi dia sudah harus bangun dan mengerjakan berbagai
macam pekerjaan. Sementara Maryam, karena merasa di rumah sendiri, dia lebih
banyak bertindak sebagai penguasa rumah.
Orangtua
Maryam pun sama. Mereka orang terkaya di kampung itu. Mereka sangat dihormati.
Bahkan, jika ayah Maryam berbicara, tak ada yang berani berisik sedikit pun.
Semua tiba-tiba senyap, padahal yang bersangkutan baru menampakkan batang
hidungnya.
Rahmah
acapkali kelelahan, membuat Kadir kerap merasa kasihan kemudian membantu
pekerjaannya. Maryam tak senang melihat ini. Pembantu di rumah orangtua Maryam
banyak, namun entah mengapa semua pekerjaan seakan diserahkannya ke Rahmah.
Rahmah hanya bisa bersabar. Dia sadar, dia hanya menumpang.
Siang
itu Rahmah duduk sejenak melepas lelah. Rahmah tampak kurus sekarang. Tubuh
mudanya lebih terlihat tua. Kadir merasa kasihan melihatnya. Dia menyesal telah
mengizinkan Rahmah ikut kemari. Kadir membelainya sekadar membesarkan hatinya.
Maryam
tak sengaja melihatnya. Dia langsung dibakar cemburu. Tanpa pikir panjang dia
langsung menuju kamarnya. Tak lama dia keluar dan langsung menghampiri Kadir
dan Rahmah yang sedang ngobrol.
Maryam,
dengan mata penuh api cemburu, langsung menodongkan sepucuk pistol ke arah
Rahmah. Kadir kaget bukan kepalang melihat perbuatan istri mudanya ini. Kadir
tak pernah menyangka jika Maryam berani menodongkan pistol yang biasa dipakai
ayahnya untuk mengawasi buruh-buruhnya di perkebunan.
Rahmah
pun tak kalah terkejutnya. Perbuatan Maryam ini membuat seisi rumah gaduh. Kadir
dan Rahmah panik. Apalagi moncong pistol itu dekat sekali dengan Rahmah.
“Abang,
aku sudah tak kuat lagi hidup dimadu. Abang selalu memperhatikannya. Sementara
aku dan anakku tak engkau hiraukan.”
“Maryam,
abang tak bermaksud pilih kasih. Tapi coba kau pikir, di rumah ini banyak
sekali pembantu, tetapi mengapa semua pekerjaan dibebankan ke Rahmah. Dia juga
seorang istri dan ibu. Dia juga harus mengurus si kembar. Abang sering merasa
kasihan padanya. Sebagai suaminya, abang tak tega.”
Maryam
masih berdiri mematung, penuh kebencian. Jempol kanannya bersiap menarik pelatuk
pistol untuk menembak Rahmah namun dihalangi Kadir. “Abang, biarkan aku
menembaknya. Aku benci dia!” teriak Maryam. Dia makin kalap saja.
“Bang,
sudahlah. Kalau dia ingin menembak Rahmah, biarkan saja. Rahmah juga tak kuat hidup
dimadu. Lebih baik Rahmah mati saja. Tembaklah aku Maryam! Tembak!” seru Rahmah
berurai air mata.
Sekujur
tubuh Maryam gemetar. Kedua orangtua Maryam datang. Mereka terkejut melihat
aksi Maryam yang nekad.
“Maryam,
jangan, Nak! Jangan kau bunuh dia,” seru ayah Maryam. Sementara ibunya tampak
ketakutan. “Maryam, kalau kau bunuh dia, kau akan membuat malu ayah. Ayah tuan
tanah di sini. Jika kau berbuat tak senonoh, mau ditaruh dimana muka ayah ni!”
sambung ayahnya, berusaha menghentikan aksi nekad putri tunggalnya.
Maryam
mulai luluh. Dia menurunkan pistolnya dan masih dalam diam penuh getaran
kebencian. “Baiklah, dia takkan kubunuh. Aku ingin Bang Kadir putuskan sekarang
juga. Abang pilih dia? Atau aku?” desak Maryam. Dia menatap tajam ke arah
Kadir, menanti jawaban.
Kadir
membalas tatapan Maryam. “Rahmah, kemasi baju-baju kita sekarang juga. Siang
ini juga kita balik ke Kelua,” sahut Kadir berkata ke Rahmah namun tatapan
matanya masih mengarah ke Maryam. Ucapan Kadir itu seakan isyarat buat Maryam
bahwa Kadir lebih memilih Rahmah sebagai istrinya.
Maryam
terduduk lemas. Kadir resmi menceraikannya tak lama setelah itu. Dia sekarang
menyesali perbuatannya yang terlalu dipengaruhi kecemburuan. Penyesalan terhadap
keputusannya dulu yang mau saja menerima pinangan Kadir, padahal dia tahu Kadir
telah beristri dan beranak di kampung halamannya juga sering menghantui
pikirannya.
Kadir,
Rahmah dan kedua anak mereka pulang ke Kelua. Bertahun-tahun berlalu, Kadir dan
Rahmah memiliki anak lagi hingga berjumlah 14 orang.
Dua
di antara 14 anak mereka yang juga bernama Maryam dan adiknya, Ra’amas, memiliki
anak bernama Masitah dan Djantera. Kemudian, Gazali, anak tunggal Kadir dan
Maryam pun telah memiliki anak bernama Cik Yah dan Cik Sayang. Di masa remaja
mereka, keempat cucu Kadir ini kerap berkirim surat. Walau kakek dan nenek
mereka bercerai, namun hubungan kekeluargaan di antara cucu-cucu mereka ini
tetap akrab.
Bahkan,
Djantera yang senang berdagang pernah mengunjungi rumah mereka di Malaysia
puluhan tahun silam. Namun sayang, akibat kondisi perpolitikan Malaysia dan
Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno pernah memburuk, hubungan
surat menyurat mereka terputus. Hingga pada 2010 lalu, Djantera yang sudah
renta, mencoba mencari lagi jejak mereka di Malaysia ketika dia ada kesempatan
berkunjung ke sana bersama teman-temannya sesama dosen untuk menghadiri suatu
acara. Dia menemukan mereka dan hingga kini, jika ada kesempatan, kami yang di
Indonesia dan mereka yang di Malaysia pun saling mengunjungi. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar