Selasa, 14 April 2015

Rinai-Rinai Kasih




DESTA membanting pintu keras-keras. Bantingan yang sangat menyengat dada
Irma istrinya hingga mampu memiriskan tirai-tirai tipis air matanya.
Pertengkaran dahsyat itu sungguh tak terelakkan lagi. Malam itu Desta
memilih bersama kekasih gelapnya saja, si Indah.
Irma, istri Desta itu adalah perempuan yang baru lima tahun lalu
dinikahinya. Usia Irma masih muda, 25 tahun. Wajahnya juga cantik,
didukung pula oleh postur tubuh yang semampai. Keluarganya kaya. Dia
anak kedua dan bungsu. Hanya satu kekurangannya, gagu. Itu pula yang
membuat Desta merasa tidak nyaman didampingi Irma. Dia lebih suka
punya istri normal, dia sering tidak mengerti perkataan Irma.
Lain Irma lain pula Mira. Saudara kembar Irma yang lebih tua 10 menit
darinya itu memang tergolong aneh. Bagaimana tidak aneh? Tiga tahun
belakangan ini dia tahu suaminya berselingkuh dengan seorang
perempuan bernama Rita, tetapi dia santai saja. Malah dia mendukung
dan memfasilitasi kencan suaminya dan Rita. Menurutnya, suami
selingkuh itu ibarat anak kecil yang terus merengek meminta mainan.
Kalau tidak dituruti dia akan terus teringat lalu berusaha mencari
cara supaya mainan itu bisa didapat, salah satunya dengan cara
sembunyi-sembunyi suapay tidak ketahuan. Jadi, orang tua si anak
itupun harus memberikan apa yang dia mau. Nanti kalau dapat dan
merasa puas dia juga akan berhenti sendiri. Nah, seorang suami yang
berselingkuh juga seperti itu. Si istri juga harus bijak menuruti mau
suami ini sampai dia puas, nanti juga stop sendiri. Seperti itulah
pemikiran Mira tentang perselingkuhan suaminya.
“Kita memang harus sabar, Ma. Coba kamu ingat-ingat lagi apa alasan kamu
menikahi Desta dulu dan kenapa pula Desta mau sama kamu?” Tanya
Mira pada Irma siang itu di rumah Irma. Irma hanya cemberut sambil
menyeletuk gagu, matanya masih sembap. “Kamu enak saja ngomong
begitu! Yang jelas aku tidak bisa secuek dan seaneh kamu menghadapi
Arfin.”
“Aku memang orangnya cuek, santai, easy going, EGP. Tapi sebenarnya
aku juga tidak rela suamiku ada main dengan perempuan lain. Yang
jelas kita berdua hanya berbeda cara dalam menghadapi kelakuan
suami-suami kita. Irma, kalau kita bawa sakit hati terus, menangis
terus, kapan kita bisa berpikir jernihuntuk mencari solusinya? Kau
boleh saja berpikir caraku menghadapi perselingkuhan Arfin itu aneh,
tapi buatku itulah cara yang ampuh. Setidaknya, Arfin masih
menghormatiku ketika dia jujur bahwa dia mau kencan dengan Rita.”
Irma mulai memikirkan kata-kata Mira tadi. Alasannya menikahi Desta adalah
karena dia merasa Desta adalah pria yang cocok untuknya. Desta yang
lebih dewasa dan rasa-rasanya mampu mengerti dan menerima Irma apa
adanya. Desta tidak pernah mempermasalahkan kegaguan Irma. Sedangkan
Desta, katanya dia mau menikahi Irma karena Irma yang baik hati dan
sederhana.
Irma terus mengingat-ingat hal itu. Dia meneliti satu-satu, apa ada yang
salah? Rasa-rasanya tidak. Masalah keturunan juga tidak karena Irma
telah memberi Desta dua orang putra, kembar, sehat dan normal. Tapi
secara fisik Irma memngakui Indah memang lebih cantik dan seksi.
Malam terus merangkak, Irma hanya sendirian menunggu Desta. Dia tidak
tahu apakah Desta mau pulang atau tidak malam ini. Sementara jiwanya
masih gundah mengingat kata-kata Mira tadi. Ia masih coba meraba-raba
kesalahan dalam fondasi rumah tangganya. Ditunggu sampai subuh
ternyata Desta tidak pulang juga.
* * *
“Mas, udah siap belum? Parfumnya jangan lupa ya. Ingat, Mas, cewek paling
senang sama cowok wangi.” Mira mengingatkan suaminya yang sedang
bersiap-siap. Malam ini dia akan melamar Rita. Sementara Mira
menunggu berdebar-debar. Dia ingin tahu, Arfin lebih ganteng mana
ketika dia melamar Mira dulu atau ketika melamar Rita sekarang.
Hatinya berat dan sebenarnya tidak rela, tetapi dia harus bersabar.
Menangis, marah-marah dan cemburu rasanya tidak ada gunanya
menghadapi kenakalan suaminya itu.
Ternyata dugaannya benar. Arfin jauh lebih rapi dan ganteng dari pada ketika
melamar Mira dulu. Mira tercengang sedih. Arfin sepertinya menangkap
gamang batin Mira itu. “Mira?” Tanya Arfin. Mira menghela nafas.
“Cepat berangkat, Mas. Nanti Rita kelamaan menunggu, kasihan.”
Arfin menatap istrinya dalam-dalam. “Mir, kamu benar-benar nggak
apa-apa aku kencan sama Rita?” Ada sebersit rasa bersalah di dada
Arfin. Mira mengangguk sambil tersenyum. “Nggak apa-apa, Mas. Rita
itu perempuan yang baik, pantas buat Mas Arfin.” Di balik
senyumnya, ia berusaha sekuat tenaga menepis cemburunya. Arfin
beranjak pergi. Di hatinya ada sedikit ragu untuk melamar Rita. Ia
malu pada kesabaran dan kesetiaan Mira selama ini. Mana ada istri
yang dengan sabar mau membantu dan memfasilitasi kencan suaminya
dengan wanita lain.
Arfin berangkat dengan kijang Inova-nya. Sejuta rasa berat masih
menggelayuti hatinya mengingat raut wajah dan pancaran mata Mira yang
sepertinya menyimpan kegalauan yang dalam. Ia menghembuskan nafasnya
kuat-kuat dan melirik sekilas ke sebuah kotak kecil cincin berlian di
depannya. Mira memilihnya beberapa hari yang lalu untuk melamar Rita
malam ini. 
Arfin menjemput Rita di rumahnya. Mereka jalan-jalan ke SOGO dan makan
malam di sebuah kafe bernuansa romantis. Rita tampak bahagia. Berbeda
dengan Arfin. Ia tampak ragu mengutarakan niatnya untuk melamar Rita.
Cincin itu masih disimpannya di saku celananya. Akhirnya tidak jadi.
Hati kecilnya menjerit-jerit tidak tega pada Mira.
Ketika mau mengambil dompet untuk membayar, kotak cincin itu tak sengaja
jatuh. “Mas, itu punya siapa?” Rita sudah berbinar-binar dan
berharap-harap bahwa Arfin akan melamarnya saat itu dan cincin itu
akan jadi miliknya. Arfin tampak gugup. “Oh, itu…punya…Mira.
Dia pesan cincin di toko emas dan tadi sebelum jemput kamu aku
ambilkan dulu.” Wajah Rita memerah. Nafasnya kembang kempis menahan
cemburu. Selanjutnya, selama perjalanan pulang Rita terus mengomel
karena cemburu pada Mira. 
* * *
Irma malam itu tampak gamang. Ia sudah tidak kuat lagi hidup berumah
tangga dengan Desta. Ia juga sering merasa terhina alasan Desta
berselingkuh karena Irma gagu. Selama dua tahun pacaran dulu, mereka
baik-baik saja, komunikasi tidak masalah. Ia tidak pernah meminta
dilahirkan sebagai manusia gagu. Akhirnya keputusan Irma sudah final.
Cerai!
Sidang perceraian Irma dan Desta sudah digelar. Ini sudah kali kedua.
Sidang berjalan alot karena Desta tidak mau bercerai. Alasannya
karena dia menyesal dan masih mencintai Irma. Tetapi Irma yang sudah
tidak tahan lagi bersikeras untuk bercerai.
Mira merasa kasihan melihat nasib saudaranya itu. Nasib mereka berdua sama
: dikhianati suami. Tetapi bedanya Irma lebih gamang dari Mira.
Selama persidangan Mira terus berusaha mendampingi adiknya itu.
Sidang berlangsung selama beberapa kali dengan keputusan akhir : perceraian
batal. Desta meminta maaf pada Irma dan mengaku khilaf. Dia juga
berjanji akan menjadi suami yang baik dan akan memutuskan Indah hari
itu juga. Akhirnya Irma luluh dan mau rujuk dengan Desta.
Hawa bahagia memang sedang menyelimuti aura rumah tangga Irma dan Desta. Sementara Mira harus kembali bersabar menyiapkan tetek bengek kencan
Arfin dan Rita nanti malam, termasuk booking restauran untuk
candle light dinner
mereka. Hatinya hancur sekali. Tetapi
kesabaran memang butuh pengorbanan.
Mira meng-sms Irma.
“Ma, gimana Desta? Kalian baik-baik aja, kan? Arfin lagi sama Rita malam
ini.”
“Kami baik-baik aja. Desta sudah ada perubahan. Kok kamu bisa sesabar itu
sih Mira menghadapi suamimu?”
“Aku memang sering sakit hati karena Arfin. Tapi kesabaran memang kudu dalam
hal ini. Doakan saja ya kami juga baik-baik.”
“Ya sudah, semoga Arfin cepat sadar. Kamu memang sabar seperti almarhumah
bunda kita.”
Derum mobil Arfin terdengar jelas di luar. Arfin pulang agak cepat dari
biasanya dia kencan dengan Rita.
“Mir, aku mau ngomong sama kamu.”
“Apa, Mas? Oya, tadi gimana makan malamnya? Restaurannya oke, kan?”
Arfin menunduk dalam. Mira menangkap kesan seperti ada yang tidak beres
dengan Arfin. Atau Rita?
“Mir, aku sebenarnya malu sama kamu. Kamu sangat sabar dan selalu baik
padaku walau kau tahu aku selingkuh sama Rita. Kau malah membantuku
dalam banyak hal supaya aku dan Rita semakin akrab. Aku bukan suami
yang baik untukmu ya, Mir. Tapi setidaknya aku masih bisa membalas
kesabaran dan kebaikanmu  dengan memutuskan Rita malam ini dan
berjanji akan jadi suami yang baik untukmu.” Mira sungguh tidak
percaya apa yang baru saja didengarnya, Arfin dan Rita putus? Ya
Tuhan, rasanya tak sia-sia kesabarannya selama ini.
Tak lama HP Mira berdering. Sms dari Irma.
“Mira, ternyata Desta bohong! Aku tadi menemukan foto dan surat nikah Desta dan Indah. Mereka baru menikah bulan lalu.”
Arfin juga membaca sms itu. Mira sungguh tak percaya. Ternyata tangis Desta
itu hanya air mata buaya. Mira sungguh marah dan merutuki Desta
habis-habisan. Arfin tidak berkutik. Mira melirik curiga pada Arfin,
jangan-jangan…Arfin langsung faham kecurigaan istrinya itu. “Tidak
Mira, tidak! Aku tidak seperti Desta. Sumpah, Mir, demi Allah! Aku
benar-benar sadar! Sumpah, sayang. Sumpah!”
Arfin menunduk. Seperti malu-malu kucing. Tak lama ia beranjak ke kamar dan mengambil kotak cincin berlian yang tempo hari dipilihkan Mira untuk
melamar Rita. Ia belum bilang ke Mira bahwa ia tidak jadi melamar
Rita. Cincin itu dibawanya pulang dan selalu disimpannya di tas
kerjanya.
Dengan malu-malu ia berikan cincin itu ke Mira yang tampak terperangah. “Ini buat kamu saja, Mir. Waktu itu aku tidak jadi melamar Rita. Kami putus. Aku…lebih cinta padamu, Mir.” Mira terdiam tanpa kata. Matanya berkaca-kaca
penuh haru. Hatinya berbunga-bunga dan dibiarkannya saja jemari Arfin
memasangkan cincin itu dengan lembut di jari manisnya.
Selesai


Tidak ada komentar:

Posting Komentar