Selasa, 14 April 2015

Kan Ku Belai Cintaku




            Namaku Aisha Habeeb, wanita asli keturunan Arab. Aku tinggal di Amerika Serikat bersama keluargaku. Aku lahir di sini dan dibesarkan di sini pula. Sekarang aku tidak sekolah lagi, aku hanya lulusan SMU. Entah kenapa aku merasa tidak berminat lagi untuk melanjutkan ke bangku kuliah, padahal orang tuaku adalah orang berada. Boleh dikatakan papaku termasuk imigran Arab yang berhasil di sini dalam berdagang baju-baju dan peralatan muslim lainnya. Sekarang aku bekerja membantu papaku sebagai kasir di took muslim miliknya “Al-Manaar Book Store.”
            Di lingkunganku, keluargaku cukup terkenal. Pertama karena kami adalah satu-satunya keluarga muslim yang ada di situ. Kedua karena papaku orang baik dan dermawan. Ia selalu membantu para tetangga yang kesusahan, baik secara materi maupun tenaga. Kami cukup akrab satu sama lain. Aku juga akrab dengan anak-anak mereka, salah satunya adalah Cecille, anak perempuan keluarga Llewelyn imigran dari Inggris yang tinggal tepat di sebelah kanan rumahku.
            Cecille adalah seorang anak manis yang ceria berusia 10 tahun. Ia seorang anak yang periang. Aku jarang melihat kesedihan di mata anak itu. Ia sering bermain denganku, karena ia anak tunggal, orang tuanya adalah pekerja keras yang selalu sibuk. Cecille sering sendiri di rumah. Ia sering ditinggal bersama seorang wanita pengasuh berusia 65 tahun. Terkadang aku mengajaknya ke tempat kerjaku. Ia selalu bercerita apa saja padaku, dan aku pun selalu senang mendengarkannya.
            Tetapi, beberapa hari kemudian aku tidak lagi melihat Cecille. Aku heran kemana ia. Aku juga mendengar suara ribut seperti orang bertengkar dari arah rumahnya. Belakangan kuketahui dari Mrs. Sullivan, pengasuh yang bekerja di rumah Cecille bahwa ayahnya telah masuk Islam sebulan yang lalu. Hal ini tentu saja sangat membuatku girang bukan kepalang. Kemudian Mrs. Sullivan mengatakan lagi bahwa hal inilah yang memicu pertengkaran antara orang tua Cecille. Aku masih bingung dan bertanya-tanya dalam hati, tetapi kemudian muncul Mrs. Llewelyn memanggil Mrs. Sullivan. Pandangannya sangat sinis terhadapku. Kemudian ia berlalu pergi masuk ke rumah. Aku jadi semakin bingung.
            Setelah peristiwa itu aku jarang bertemu Cecille. Aku hanya melihatnya sesekali ketika berpapasan di jalan atau ketika ibunya mengantarkannya ke sekolah. Sebagai tetangga tentu saja aku menegur. Tetapi, sepertinya Mrs. Llewelyn berusaha menghindar dariku. Cecille sepertinya ingin membalas sapaanku tetapi dilarang oleh ibunya. Aku melihat ada raut kesedihan di wajahnya. Sesuatu yang baru kali ini kulihat dalam diri Cecille.
            Aku masih tidak mengerti. Satu-satunya hal yang aku tahu adalah semua ini gara-gara ayahnya Cecille masuk Islam. Mungkin Mrs. Llewelyn tidak suka hal ini. Aku tahu ia punya pandangan buruk tentang Islam, apalagi setelah peristiwa peledakan WTC tanggal 11 September silam. Tetapi, aku tidak tahu apa alasan Mr. Llewelyn pindah agama, dan mengapa ia memilih Islam.
            Seminggu kemudian, aku dikejutkan oleh suara tangisan di depan pintu. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ternyata itu Cecille! Aku tak habis pikir apa yang dilakukan anak sebayanya sambil menangis di depan pintuku tengah malam begini. Kulihat matanya sembap karena air mata. Kuajak ia masuk.
            Ia melangkah lesu dengan wajah tertunduk. Aku bertanya apa yang dilakukannya malam hari begini dan apakah orang tuanya tahu kalau ia di sini. Cecille bilang mereka tidak tahu. Ia juga bilang bahwa ia sangat merindukanku. Ibunya selalu melarangnya ke luar rumah kecuali bersamanya. Aku berhenti mendengarkannya sampai sini. Aku terfokus pada kata “bersamanya.” Aku menanyakan maksudnya pada Cecille. Ia hanya boleh pergi ke luar bersama ibunya saja, tidak dengan yang lain, tidak dengan Mrs. Sullivan kecuali dengan izin, dan tidak pula dengan ayahnya.
            Ayahnya menjadi agak berubah kelakuannya sejak ia sering mencuci wajah, begitu Cecille bilang padaku. Aku mengerti maksudnya dengan mencuci wajah. Ibunya tidak suka hal ini, apalagi dengan “masalah kasur,” begitu istilahnya. Cecille tidak mengerti apa itu masalah kasur, tetapi ibunya bilang ini urusan orang tua, anak kecil tidak akan mengerti. Ia sangat sedih dengan hal ini. Tentu saja, dia sudah 10 tahun. Anak seusianya sudah bisa cukup mengerti jika orang tuanya bermasalah.
            Aku sangat sedih mendengarnya. Aku memberinya segelas coklat hangat untuk menenangkan dirinya. Ia bertanya padaku apakah orang tua selalu begini. Aku mencoba menjelaskan padanya bahwa orang tua bertengkar bukan berarti tidak sayang pada anak-anaknya. Sampai kapan pun orang tua akan selalu menyayangi anaknya. Seburuk apa pun mereka, mereka tetap orang tua kita yang selalu menyayangi kita dan berkorban untuk kita.
            Cecille mendengarkanku dengan kepala tertunduk. Ia hanya diam membisu sambil memegang gelasnya, entah ia mengerti atau tidak dengan kata-kataku. Ia berkata bahwa sekarang ayahnya sudah tidak ke gereja lagi tetapi pergi ke tempat dimana terdapat banyak orang yang senang menempelkan dahinya ke lantai seperti yang sering kulakukan. Kalau di rumah juga begitu. Patung Yesus dan salib yang ada di kamar ayahnya juga sudah tidak ada lagi, entah dikemanakan. Ayahnya sekarang pilah pilih soal makanan. Ia sekarang tidak makan daging babi dan anjing lagi. Tetapi ibunya yang Kristen protestan fanatik sangat tidak menyukai hal ini.
            Kukatakan padanya bahwa setiap manusia punya hak untuk memeluk agama apa pun yang diyakininya. Dalam hal ini, ayah Cecille memilih Islam. Kukatakan juga padanya bahwa aku dan keluarganya juga Islam. Kami memiliki, menghormati dan menyembah satu tuhan saja yang sangat menyayangi kami hamba-hamba-Nya. Mungkin ayah Cecille menyukai hal ini. Tetapi, sekali lagi kutegaskan padanya bahwa setiap manusia itu berhak memeluk agama apa pun yang diyakininya. Kita tidak boleh memaksakan agama kita ke orang lain. Agama itu membawa kedamaian bagi pemeluknya, jadi tidak ada alasan untuk menjadikan agama itu sebagai sumber perpecahan.
            Cecille terdiam sesaat mendengar kata-kataku, tetapi kemudian ia bertanya lagi. Osama bin Laden itu orang Islam, tetapi mengapa ia jadi teroris dan menghancurkan kedamaian. Sampai di sini, aku cukup terkejut mendengar pertanyaannya. Aku bingung harus menjawab apa. Apa yang harus kujelaskan dan bagaimana caranya? Aku takut ia akan salah persepsi tentang Islam karena ia masih terlalu muda untuk mengerti hal seperti ini. Aku hanya mengatakan padanya bahwa apa yang dilakukan Osama itu tidak ada hubungannya dengan agama apa pun di muka bumi ini. Ini masalah orang dewasa dan belum saatnya untuk dimengerti oleh anak kecil.
            Cecille sebenarnya anak yang cukup kritis dan penuh rasa ingin tahu, tetapi malam ini ia lebih banyak diam dan hanya sesekali bertanya, tidak seperti biasanya. Kasihan dia, semuda ini sudah harus menghadapi masalah yang cukup berat. Aku mengerti sekali perasaannya. Dia pasti sangat sedih dan tertekan. Tak terasa, sudah hampir jam 3 pagi. Aku memintanya untuk segera pulang. Aku khawatir jika orang tuanya tahu, pasti akan jadi masalah besar. Aku juga berkata jika ada kesempatan ia bisa mampir lagi ke sini.    
            Cecille pulang. Kulihat kali ini ada sedikit senyum di wajahnya. Aku lega, kuharap kata-kataku tadi dapat sedikit meringankan bebannya. Aku juga memberinya sebungkus permen dan kue kering dengan pesan jangan katakan ini pemberianku pada siapa pun, apalagi ibunya. Setelah aku langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat malamku.
            Rupanya kedatangan Cecille ke rumahku tadi malam berbuntut panjang. Kukira sudah selesai setelah kepulangannya dan tak akan menimbulkan masalah. Mrs. Llewelyn pagi ini datang ke rumahku dan marah-marah. Dia menuduhku sebagai tukang hasut yang mempengaruhi anak dan suaminya supaya meninggalkannya. Kontan saja aku dan keluargaku terkejut dengan hal ini. Apalagi dia berteriak dengan keras sehingga mengundang perhatian tetangga yang lain. Kami merasa sangat malu dengan kejadian ini. Apalagi, banyak orang berkumpul di depan rumah kami untuk menyaksikan kejadian ini. Aku mendengar desas-desus di antara mereka, dan parahnya lagi mereka mempercayai Mrs. Llewelyn. Mereka memandang sinis ke arah kami.
            Yang parahnya lagi, sebagian dari mereka mengatakan bahwa kami adalah antek-anteknya Osama bin Laden. Ya Tuhan, apalagi ini? Kenal saja tidak dengan Osama, jadi bagaimana mungkin kami bisa menjadi antek-anteknya. Mereka beranggapan seperti ini karena kami dan Osama adalah sama-sama orang Arab dan beragama Islam. Mereka pikir kami punya hubungan. Seluruh masyarakat di sini menuding kami seperti itu. Sungguh menyakitkan tetapi kami harus bersabar.
Mrs. Llewelyn masih terus memaki-maki kami. Papaku sudah berusaha menjelaskan duduk perkaranya bahwa keluarga kami tidak pernah berniat jahat pada siapa pun termasuk keluarga Llewelyn. Dia juga mengatakan bahwa kami tidak ada hubungan apa pun dengan Osama bin Laden. Masalah aku dan Cecille, mereka memang sudah kenal lama, sejak Cecille masih balita. Cecille memanga sering bermain bersama Aisha dan curhat dengannya. Aisha tidak pernah berniat jahat mempengaruhi Mr. Llewelyn dan Cecille untuk menghancurkan keluarga mereka. Mereka hanya berteman biasa, begitu kata papaku.
Orang-orang hanya mendengarkan papaku saja, entah mereka mau menerima penjelasan ini atau tidak. Tetapi, aku masih bisa mendengar desas-desus di antara mereka. Entah baik atau buruk aku tidak tahu, tetapi yang penting, kami sudah menjelaskan duduk perkaranya yang diwakili oleh papaku. Kami hanya berharap mereka mau mengerti.
Aku melihat pula ke arah rumah keluarga Llewelyn. Di sana ada Cecille, ayahnya, dan Mrs. Sullivan. Aku lihat Cecille tertunduk lesu seperti tidak bergairah. Mrs. Sullivan hanya memandangi kerumunan orang di depan rumah kami lewat jendela. Sementara Mr. Llewelyn, ayah Cecille, berdiri di samping jendela sambil memegangi dahinya. Kulit wajahnya yang putih sekarang tampak memerah. Ia pasti stres dan malu. Yang aku tahu, Mr. Llewelyn orang sangat sopan dan penyabar, berkebalikan dengan istrinya yang cerewet, cepat tersinggung, dan terkadang tidak enak didengar.
Setelah menenangkan istrinya, dia menghampiri kami dan meminta maaf atas kelakuan istrinya ini. Kami kira, masalah sudah selesai. Tapi ternyata, peristiwa hari itu berdampak buruk bagi hubungan kami dengan masyarakat sekitar. Mereka terlalu termakan isu bahwa orang Islam itu teroris. Anak-anak mereka yang dulu akrab denganku sekarang mulai menjauhiku. Mereka, para penduduk, seakan membangun tembok pemisah yang tebal  di antara kami. Kami tidak bisa lagi bertegur sapa dengan mereka. Bahkan kami pun tidak bisa lagi berbelanja di mini market milik Mr. Burton di ujung jalan. Jika ke luar rumah pun, kami harus siap dengan wajah dan pandangan tidak ramah mereka.
Mengenai keluarga Llewelyn, aku masih sering mendengar mereka bertengkar. Aku jadi teringat kata-kata Cecille malam itu tentang “masalah kasur.” Mungkin inilah maksud dari ungkapannya itu. Ayah Cecille sedang ibunya belum. Pasti ayahnya sudah tahu tentang hukum masalah ini. Ibunya masih haram untuk dicampuri. Tetapi bagi Cecille, ini pasti masalah besar dalam kehidupannya. Bagaimana pun juga, seorang anak pasti tidak ingin melihat orang tuanya bermasalah.
Seminggu kemudian, aku melihat tetangga sebelahku itu, yaitu keluarga Llewelyn, sedang sibuk beres-beres. Aku mengintip dari jendela kamarku yang pas berhadapan dengan bagian samping kiri rumah mereka. Mereka akan pindah rumah. Kata mamaku, mereka akan kembali ke Inggris secepatnya. Mereka akan pulang ke kampung mereka sendiri untuk berkumpul dengan keluarganya yang lain.
Malam itu, selepas kami menunaikan shalat magrib berjamaah, terdengar ketukan di pintu. Mama memintaku bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata itu adalah Mr. Llewelyn. Aku mempersilakannya masuk.
Dia datang untuk menemui keluarga kami. Ia sekeluarga akan pulang ke Inggris. Orang tuanya sakit keras dan dia diminta untuk meneruskan usaha percetakan buku milik ayahnya. Ia juga meminta maaf pada kami yang sedalam-dalamnya atas kelakuan istrinya selama ini.
Ia juga mengaku di hadapan kami bahwa setelah menjadi muslim hidupnya terasa lebih tenang. Ia mengenal Islam dari kegemarannya membaca buku-buku sejarah berbagai bangsa termasuk sejarah Islam. Katanya, dia sangat kagum dengan Nabi Muhammad. Sampai kapan pun, tak akan ada yang bisa menandingi beliau. Dia juga kagum dengan Surah Al-Ikhlas, karena surah ini dapat menjawab semua keraguannya tentang tuhan dalam agama lamanya. Pendek kata, dia jatuh cinta dengan Islam.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar