Namaku Aisha Habeeb, wanita asli keturunan Arab. Aku
tinggal di Amerika Serikat bersama keluargaku. Aku lahir di sini dan dibesarkan
di sini pula. Sekarang aku tidak sekolah lagi, aku hanya lulusan SMU. Entah
kenapa aku merasa tidak berminat lagi untuk melanjutkan ke bangku kuliah,
padahal orang tuaku adalah orang berada. Boleh dikatakan papaku termasuk
imigran Arab yang berhasil di sini dalam berdagang baju-baju dan peralatan
muslim lainnya. Sekarang aku bekerja membantu papaku sebagai kasir di took
muslim miliknya “Al-Manaar Book Store.”
Di lingkunganku, keluargaku cukup terkenal. Pertama
karena kami adalah satu-satunya keluarga muslim yang ada di situ. Kedua karena
papaku orang baik dan dermawan. Ia selalu membantu para tetangga yang
kesusahan, baik secara materi maupun tenaga. Kami cukup akrab satu sama lain.
Aku juga akrab dengan anak-anak mereka, salah satunya adalah Cecille, anak
perempuan keluarga Llewelyn imigran dari Inggris yang tinggal tepat di sebelah
kanan rumahku.
Cecille adalah seorang anak manis yang ceria berusia 10
tahun. Ia seorang anak yang periang. Aku jarang melihat kesedihan di mata anak
itu. Ia sering bermain denganku, karena ia anak tunggal, orang tuanya adalah
pekerja keras yang selalu sibuk. Cecille sering sendiri di rumah. Ia sering
ditinggal bersama seorang wanita pengasuh berusia 65 tahun. Terkadang aku
mengajaknya ke tempat kerjaku. Ia selalu bercerita apa saja padaku, dan aku pun
selalu senang mendengarkannya.
Tetapi, beberapa hari kemudian aku tidak lagi melihat
Cecille. Aku heran kemana ia. Aku juga mendengar suara ribut seperti orang bertengkar
dari arah rumahnya. Belakangan kuketahui dari Mrs. Sullivan, pengasuh yang
bekerja di rumah Cecille bahwa ayahnya telah masuk Islam sebulan yang lalu. Hal
ini tentu saja sangat membuatku girang bukan kepalang. Kemudian Mrs. Sullivan
mengatakan lagi bahwa hal inilah yang memicu pertengkaran antara orang tua
Cecille. Aku masih bingung dan bertanya-tanya dalam hati, tetapi kemudian
muncul Mrs. Llewelyn memanggil Mrs. Sullivan. Pandangannya sangat sinis
terhadapku. Kemudian ia berlalu pergi masuk ke rumah. Aku jadi semakin bingung.
Setelah peristiwa itu aku jarang bertemu Cecille. Aku
hanya melihatnya sesekali ketika berpapasan di jalan atau ketika ibunya
mengantarkannya ke sekolah. Sebagai tetangga tentu saja aku menegur. Tetapi,
sepertinya Mrs. Llewelyn berusaha menghindar dariku. Cecille sepertinya ingin
membalas sapaanku tetapi dilarang oleh ibunya. Aku melihat ada raut kesedihan
di wajahnya. Sesuatu yang baru kali ini kulihat dalam diri Cecille.
Aku masih tidak mengerti. Satu-satunya hal yang aku tahu
adalah semua ini gara-gara ayahnya Cecille masuk Islam. Mungkin Mrs. Llewelyn
tidak suka hal ini. Aku tahu ia punya pandangan buruk tentang Islam, apalagi
setelah peristiwa peledakan WTC tanggal 11 September silam. Tetapi, aku tidak
tahu apa alasan Mr. Llewelyn pindah agama, dan mengapa ia memilih Islam.
Seminggu kemudian, aku dikejutkan oleh suara tangisan di
depan pintu. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ternyata itu Cecille! Aku
tak habis pikir apa yang dilakukan anak sebayanya sambil menangis di depan
pintuku tengah malam begini. Kulihat matanya sembap karena air mata. Kuajak ia
masuk.
Ia melangkah lesu dengan wajah tertunduk. Aku bertanya
apa yang dilakukannya malam hari begini dan apakah orang tuanya tahu kalau ia
di sini. Cecille bilang mereka tidak tahu. Ia juga bilang bahwa ia sangat
merindukanku. Ibunya selalu melarangnya ke luar rumah kecuali bersamanya. Aku
berhenti mendengarkannya sampai sini. Aku terfokus pada kata “bersamanya.” Aku
menanyakan maksudnya pada Cecille. Ia hanya boleh pergi ke luar bersama ibunya
saja, tidak dengan yang lain, tidak dengan Mrs. Sullivan kecuali dengan izin,
dan tidak pula dengan ayahnya.
Ayahnya menjadi agak berubah kelakuannya sejak ia sering
mencuci wajah, begitu Cecille bilang padaku. Aku mengerti maksudnya dengan
mencuci wajah. Ibunya tidak suka hal ini, apalagi dengan “masalah kasur,”
begitu istilahnya. Cecille tidak mengerti apa itu masalah kasur, tetapi ibunya
bilang ini urusan orang tua, anak kecil tidak akan mengerti. Ia sangat sedih
dengan hal ini. Tentu saja, dia sudah 10 tahun. Anak seusianya sudah bisa cukup
mengerti jika orang tuanya bermasalah.
Aku sangat sedih mendengarnya. Aku memberinya segelas
coklat hangat untuk menenangkan dirinya. Ia bertanya padaku apakah orang tua
selalu begini. Aku mencoba menjelaskan padanya bahwa orang tua bertengkar bukan
berarti tidak sayang pada anak-anaknya. Sampai kapan pun orang tua akan selalu
menyayangi anaknya. Seburuk apa pun mereka, mereka tetap orang tua kita yang
selalu menyayangi kita dan berkorban untuk kita.
Cecille mendengarkanku dengan kepala tertunduk. Ia hanya
diam membisu sambil memegang gelasnya, entah ia mengerti atau tidak dengan kata-kataku.
Ia berkata bahwa sekarang ayahnya sudah tidak ke gereja lagi tetapi pergi ke
tempat dimana terdapat banyak orang yang senang menempelkan dahinya ke lantai
seperti yang sering kulakukan. Kalau di rumah juga begitu. Patung Yesus dan
salib yang ada di kamar ayahnya juga sudah tidak ada lagi, entah dikemanakan. Ayahnya
sekarang pilah pilih soal makanan. Ia sekarang tidak makan daging babi dan
anjing lagi. Tetapi ibunya yang Kristen protestan fanatik sangat tidak menyukai
hal ini.
Kukatakan padanya bahwa setiap manusia punya hak untuk
memeluk agama apa pun yang diyakininya. Dalam hal ini, ayah Cecille memilih
Islam. Kukatakan juga padanya bahwa aku dan keluarganya juga Islam. Kami
memiliki, menghormati dan menyembah satu tuhan saja yang sangat menyayangi kami
hamba-hamba-Nya. Mungkin ayah Cecille menyukai hal ini. Tetapi, sekali lagi
kutegaskan padanya bahwa setiap manusia itu berhak memeluk agama apa pun yang
diyakininya. Kita tidak boleh memaksakan agama kita ke orang lain. Agama itu
membawa kedamaian bagi pemeluknya, jadi tidak ada alasan untuk menjadikan agama
itu sebagai sumber perpecahan.
Cecille terdiam sesaat mendengar kata-kataku, tetapi
kemudian ia bertanya lagi. Osama bin Laden itu orang Islam, tetapi mengapa ia
jadi teroris dan menghancurkan kedamaian. Sampai di sini, aku cukup terkejut
mendengar pertanyaannya. Aku bingung harus menjawab apa. Apa yang harus
kujelaskan dan bagaimana caranya? Aku takut ia akan salah persepsi tentang
Islam karena ia masih terlalu muda untuk mengerti hal seperti ini. Aku hanya
mengatakan padanya bahwa apa yang dilakukan Osama itu tidak ada hubungannya
dengan agama apa pun di muka bumi ini. Ini masalah orang dewasa dan belum
saatnya untuk dimengerti oleh anak kecil.
Cecille sebenarnya anak yang cukup kritis dan penuh rasa
ingin tahu, tetapi malam ini ia lebih banyak diam dan hanya sesekali bertanya,
tidak seperti biasanya. Kasihan dia, semuda ini sudah harus menghadapi masalah
yang cukup berat. Aku mengerti sekali perasaannya. Dia pasti sangat sedih dan
tertekan. Tak terasa, sudah hampir jam 3 pagi. Aku memintanya untuk segera
pulang. Aku khawatir jika orang tuanya tahu, pasti akan jadi masalah besar. Aku
juga berkata jika ada kesempatan ia bisa mampir lagi ke sini.
Cecille pulang. Kulihat kali ini ada sedikit senyum di
wajahnya. Aku lega, kuharap kata-kataku tadi dapat sedikit meringankan
bebannya. Aku juga memberinya sebungkus permen dan kue kering dengan pesan
jangan katakan ini pemberianku pada siapa pun, apalagi ibunya. Setelah aku
langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat malamku.
Rupanya kedatangan Cecille ke rumahku tadi malam
berbuntut panjang. Kukira sudah selesai setelah kepulangannya dan tak akan
menimbulkan masalah. Mrs. Llewelyn pagi ini datang ke rumahku dan marah-marah.
Dia menuduhku sebagai tukang hasut yang mempengaruhi anak dan suaminya supaya
meninggalkannya. Kontan saja aku dan keluargaku terkejut dengan hal ini.
Apalagi dia berteriak dengan keras sehingga mengundang perhatian tetangga yang
lain. Kami merasa sangat malu dengan kejadian ini. Apalagi, banyak orang
berkumpul di depan rumah kami untuk menyaksikan kejadian ini. Aku mendengar
desas-desus di antara mereka, dan parahnya lagi mereka mempercayai Mrs.
Llewelyn. Mereka memandang sinis ke arah kami.
Yang parahnya lagi, sebagian dari mereka mengatakan bahwa
kami adalah antek-anteknya Osama bin Laden. Ya Tuhan, apalagi ini? Kenal saja
tidak dengan Osama, jadi bagaimana mungkin kami bisa menjadi antek-anteknya.
Mereka beranggapan seperti ini karena kami dan Osama adalah sama-sama orang
Arab dan beragama Islam. Mereka pikir kami punya hubungan. Seluruh masyarakat
di sini menuding kami seperti itu. Sungguh menyakitkan tetapi kami harus
bersabar.
Mrs.
Llewelyn masih terus memaki-maki kami. Papaku sudah berusaha menjelaskan duduk
perkaranya bahwa keluarga kami tidak pernah berniat jahat pada siapa pun
termasuk keluarga Llewelyn. Dia juga mengatakan bahwa kami tidak ada hubungan
apa pun dengan Osama bin Laden. Masalah aku dan Cecille, mereka memang sudah
kenal lama, sejak Cecille masih balita. Cecille memanga sering bermain bersama
Aisha dan curhat dengannya. Aisha tidak pernah berniat jahat mempengaruhi Mr. Llewelyn
dan Cecille untuk menghancurkan keluarga mereka. Mereka hanya berteman biasa,
begitu kata papaku.
Orang-orang
hanya mendengarkan papaku saja, entah mereka mau menerima penjelasan ini atau
tidak. Tetapi, aku masih bisa mendengar desas-desus di antara mereka. Entah
baik atau buruk aku tidak tahu, tetapi yang penting, kami sudah menjelaskan
duduk perkaranya yang diwakili oleh papaku. Kami hanya berharap mereka mau
mengerti.
Aku
melihat pula ke arah rumah keluarga Llewelyn. Di sana ada Cecille, ayahnya, dan
Mrs. Sullivan. Aku lihat Cecille tertunduk lesu seperti tidak bergairah. Mrs.
Sullivan hanya memandangi kerumunan orang di depan rumah kami lewat jendela. Sementara
Mr. Llewelyn, ayah Cecille, berdiri di samping jendela sambil memegangi
dahinya. Kulit wajahnya yang putih sekarang tampak memerah. Ia pasti stres dan
malu. Yang aku tahu, Mr. Llewelyn orang sangat sopan dan penyabar, berkebalikan
dengan istrinya yang cerewet, cepat tersinggung, dan terkadang tidak enak
didengar.
Setelah
menenangkan istrinya, dia menghampiri kami dan meminta maaf atas kelakuan
istrinya ini. Kami kira, masalah sudah selesai. Tapi ternyata, peristiwa hari
itu berdampak buruk bagi hubungan kami dengan masyarakat sekitar. Mereka
terlalu termakan isu bahwa orang Islam itu teroris. Anak-anak mereka yang dulu
akrab denganku sekarang mulai menjauhiku. Mereka, para penduduk, seakan
membangun tembok pemisah yang tebal di
antara kami. Kami tidak bisa lagi bertegur sapa dengan mereka. Bahkan kami pun
tidak bisa lagi berbelanja di mini market milik Mr. Burton di ujung jalan. Jika
ke luar rumah pun, kami harus siap dengan wajah dan pandangan tidak ramah
mereka.
Mengenai
keluarga Llewelyn, aku masih sering mendengar mereka bertengkar. Aku jadi
teringat kata-kata Cecille malam itu tentang “masalah kasur.” Mungkin inilah
maksud dari ungkapannya itu. Ayah Cecille sedang ibunya belum. Pasti ayahnya sudah
tahu tentang hukum masalah ini. Ibunya masih haram untuk dicampuri. Tetapi bagi
Cecille, ini pasti masalah besar dalam kehidupannya. Bagaimana pun juga,
seorang anak pasti tidak ingin melihat orang tuanya bermasalah.
Seminggu
kemudian, aku melihat tetangga sebelahku itu, yaitu keluarga Llewelyn, sedang
sibuk beres-beres. Aku mengintip dari jendela kamarku yang pas berhadapan
dengan bagian samping kiri rumah mereka. Mereka akan pindah rumah. Kata mamaku,
mereka akan kembali ke Inggris secepatnya. Mereka akan pulang ke kampung mereka
sendiri untuk berkumpul dengan keluarganya yang lain.
Malam
itu, selepas kami menunaikan shalat magrib berjamaah, terdengar ketukan di
pintu. Mama memintaku bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
Ternyata itu adalah Mr. Llewelyn. Aku mempersilakannya masuk.
Dia
datang untuk menemui keluarga kami. Ia sekeluarga akan pulang ke Inggris. Orang
tuanya sakit keras dan dia diminta untuk meneruskan usaha percetakan buku milik
ayahnya. Ia juga meminta maaf pada kami yang sedalam-dalamnya atas kelakuan
istrinya selama ini.
Ia
juga mengaku di hadapan kami bahwa setelah menjadi muslim hidupnya terasa lebih
tenang. Ia mengenal Islam dari kegemarannya membaca buku-buku sejarah berbagai
bangsa termasuk sejarah Islam. Katanya, dia sangat kagum dengan Nabi Muhammad.
Sampai kapan pun, tak akan ada yang bisa menandingi beliau. Dia juga kagum
dengan Surah Al-Ikhlas, karena surah ini dapat menjawab semua keraguannya
tentang tuhan dalam agama lamanya. Pendek kata, dia jatuh cinta dengan Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar