Menikmati Pesona Tanah Arab
BERTANDANG ke Tanah Arab entah untuk sekadar beribadah atau jalan-jalan, menciptakan sensasi tersendiri. Sebab, alam dan hawa yang berbeda tentunya bisa menjadi pengalaman unik tersendiri untuk dijalani. Tanahnya yang gersang, dipenuhi gunung batu baik besar maupun kecil, menjadi pemandangan biasa di sana.
Jarang sekali tampak pepohonan. Kalau pun ada, hanya berupa pohon-pohon kurus, kering, rantingnya kecil dan daunnya kecil-kecil dengan warna hijau yang suram. Dari jauh tampak seperti gugusan semak belukar, padahal ketika didekati ternyata pohon. Pepohonannya tampak jarang-jarang. Matahari cukup terik walau suhunya antara 25-30 derajat celcius. Kendati begitu, hawa panas tak begitu terasa karena banyak angin, terutama ketika berada di daerah padang pasirnya.
Aku yang bulan lalu berkesempatan ke Saudi Arabia untuk beribadah umrah bersama mama dan acil Maria (dari 16-29 Maret 2014), mengunjungi tiga kota besar di sana, yaitu Jeddah, Madinah dan Mekkah. Perjalanan dari Jakarta melalui Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta ke Jeddah (Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz) sekitar sembilan jam. Perjalanan berlanjut ke Kota Madinah yang ditempuh sekitar lima jam dari Jeddah menggunakan bis.
Pemandangan selama perjalanan sangat tandus, dipenuhi hamparan gunung batu. Banyak pula gunungnya yang dibelah dengan alat-alat berat untuk dibangun sesuatu. Sesekali tampak kawanan unta liar berkeliaran. Tiba di Madinah, disambut dengan hawa yang segar. Walau matahari cukup terik, namun panasnya tak begitu terasa. Bahkan, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan waktu setempat, hawanya masih seperti pukul enam pagi.
Di Madinah, tak susah mencari oleh-oleh karena di sekitar hotel-hotelnya dipenuhi pertokoan. Bahkan, ada juga restoran yang menjual makanan-makanan dari negara tertentu seperti Indonesia, Pakistan dan Turki. Barang-barang yang dijual beragam harganya seperti suvenir, perhiasan, kurma, kismis, kacang Arab, tasbih, jilbab hingga gamis. Untuk suvenir berkisar antara tiga riyal hingga 10 riyal per satuannya, namun ada juga yang sepaket seperti sabun mandi kecil-kecil berbentuk kotak buatan Pakistan yang dihargai 10 riyal. Sementara untuk gamis dihargai antara 50 riyal hingga ratusan riyal. Demikian pula dengan sajadah, antara lima riyal hingga ratusan riyal, tersedia di sana.
Bagi Anda yang senang belanja dengan harga murah bisa mengunjungi pasar murahnya yang ada di sekitar Masjid Nabawi. Harga berbagai suvenir yang dibanderol di sana sekitar lima riyal hingga 10 riyal. Mau makanan khas Timur Tengah dan minuman seperti air mineral dan jus juga banyak tersedia di sana, dibanderol antara satu riyal hingga belasan riyal, tergantung jenis.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Mekkah. Di sini banyak dijual berbagai suvenir murah seperti sajadah, jilbab, tasbih, gelang, kalung, dan sebagainya. Walau ini di Arab Saudi, jangan heran jika kemudian Anda menemukan banyak suvenir khas sana yang ternyata buatan Cina alias made in China. Mulai dari pensil, pena, kotak makanan, gelas, piring, sendok, ikat rambut, peci haji, dan sebagainya berlabel made in China. Namun banyak juga peralatan makan dan perangkat salat yang berlabel made in Pakistan, India, Bangladesh dan Turki, tentunya dengan kualitas dan ciri khas yang berbeda lagi. Semua suvenir yang dijual ini berbeda-beda harganya, mulai dari yang murah yaitu tiga riyal hingga yang mahal berkisar ribuan riyal.
Berkunjung ke pasar-pasar di Tanah Arab, Anda tak akan kesulitan soal bahasa, sebab kebanyakan pedagangnya baik orang Arab asli, pendatang seperti orang India dan Bangladesh rata-rata bisa berbahasa Indonesia. Bahkan ada juga yang mengerti Bahasa Jawa. Ketika Anda lewat, jangan kaget jika kemudian mereka ramai berseru dengan Bahasa Indonesia untuk menawarkan dagangan mereka. "Murah, murah, lima riyal, ayo lihat-lihat. Baju Syahrini, Krisdayanti," seru mereka ketika melihat pengunjung asal Indonesia yang datang.
Para pedagang perhiasan pun tak kalah strategi dalam menawarkan jualan mereka ke para turis asal Indonesia. Nama-nama presiden Indonesia pun mereka tahu dan jualan mereka diberi nama para presiden itu. "Indonesia, Indonesia? Ayo lihat-lihat, ada emas Soeharto, emas Megawati, emas SBY. Jokowi, Jokowi," seru mereka.
Hal yang mengherankan lagi, ada juga di antara mereka yang bisa berbahasa gaul Indonesia. "Kaka, ayo kaka lihat-lihat dulu. Murah-murah, Kaka," kata mereka. Dan ada juga yang bisa berbahasa Jawa seperti matur nuhun.
Di Mekkah juga ada mal bernama Al Shafwah Center. Posisinya tepat di depan Masjidil Haram. Mal ini sekarang bisa dikatakan menjadi ikon baru Kota Mekkah selain Kakbah dan Masjidil Haram, sebab bangunannya gabungan antara mal dan hotel. Lantas, apa yang menjadi sesuatu yang spesialnya dari bangunan ini? Yup, spesial banget karena di atapnya ada menara jam besar menjulang tinggi yang bisa tampak walau dari kejauhan. Namanya Menara Zamzam atau Zamzam Tower. Di malam hari, menara ini tampak sangat indah karena kerlap-kerlip lampunya yang terang dan indah. Di beberapa toko suvenir di sini banyak juga yang menjual cinderamata gantungan kunci berupa Zamzam Tower ini.
Harga barang-barang yang ditawarkan di sini juga beragam, mulai dari tiga riyal hingga ribuan riyal dan tentunya tak bisa ditawar karena sudah harga pas. Pasar-pasar ini selalu ramai bahkan dari sebelum subuh hingga malam tiba. Toko-tokonya hanya tampak sepi di saat waktu salat wajib tiba, karena semuanya harus beribadah. Dan Anda tak perlu heran, di saat waktu salat berjemaah di Masjidil Haram tiba, pasar-pasar ini tidak lagi dipenuhi oleh manusia yang bertransaksi jual beli, melainkan penuh dijejali manusia yang salat. Mereka bisa salat dimana saja seperti di emperan toko atau di jalanan di depan pasar, asal ada tempat kosong saja dengan alas seadanya. Bahkan ada juga yang tak beralas sama sekali. Usai waktu salat, aktifitas jual beli pun kembali ramai.
Membicarakan tentang kota ini, seakan tak ada habisnya. Walau aku cuma sepekan di sana, rasanya ada banyak cerita yang bisa kukisahkan. Maklum, tukang jalan dan penjelajah....hahahahahaaa. Sekarang tentang burung ya. Ya, di kota ini juga di Madinah banyak burung. Aku nggak tahu pasti itu burung apa. Sepertinya burung dara deh. Jumlah mereka banyak banget dan terbang bebas, hinggap dimana saja di bangunan-bangunan di sini. Namun anehnya, mereka kok belum pernah kulihat hinggap di Kakbah ya? atau mungkin pas aku ke sana mereka pas lagi nggak kepengen aja hinggap di Kakbah?? Binatang yang aku lihat nemplok di Kakbah waktu itu hanya beberapa ekor belalang.
Burung-burung itu kerap berkumpul di satu titik, yaitu tanah lapang dekat Masjidil Haram. Di tanahnya tampak banyak makanan burung. Di sore hari, beberapa warga setempat tampak bersantai bersama keluarga mereka. Sesekali mereka tampak memakani burung-burung itu.
Ketika aku dan beberapa teman serombongan berkesempatan menjelajahi Kota Mekkah lebih lama, aku melihat kumpulan burung itu tak hanya ramai di sekitar Masjidil Haram, tetapi juga di tempat-tempat lain seperti taman bermain. Uniknya, taman bermain untuk anak-anak di sini adanya di lahan sempit di bawah jembatan-jembatan flyover. Walau kecil dan sempit namun tampak tertata.
Burung-burung itu juga banyak berkumpul di tempat pemakaman umum Ma'la. Spesialnya, di pekuburan ini ada makam tokoh bersejarah dalam Islam, yaitu Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW. Kuburannya sederhana saja, tampak seperti kuburan orang Arab kebanyakan, yaitu hanya tanah rata yang diberi nisan batu. Penanda spesialnya adalah di sekelilingnya dipagari tembok pendek berwarna putih dan diberi pintu masuk berwarna hijau bagi peziarah. Uniknya lagi, yang boleh berziarah ke sini hanya laki-laki, sementara yang perempuan hanya boleh dari jauh, di luar pagar saja di pinggir jalan.
Terus, kok aku bisa tahu bentuk kuburannya Khadijah?? Lihat dari foto yang dijepret temanku satu rombongan, cowok, makanya dia boleh masuk. Selebihnya, banyak juga kuburan di situ dan itu adalah kuburan umum warga Mekkah.
Terus, ngomongin apa lagi ya??? Oya, tentang Masjidil Haram ya. Masjid ini konon adalah masjid pertama yang dibangun Allah di muka bumi. Yang kedua adalah Masjidil Aqsa di Palestina. Ini kata mamaku ya, entah beliau mendengar kisah dari mana dan aku sendiri belum pernah mendengar atau membaca sejarahnya Masjidil Haram ini. Namun yang jelas, masjid ini benar-benar menakjubkan. Menakjubkan banget karena ada bangunan dan bukit yang sangat bersejarah bagi umat Islam di dalamnya, yaitu Kakbah, Maqam Ibrahim serta bukit Shafa dan Marwah.
Masjid ini sering direnovasi dan diperluas. Hingga aku ke sana, masjid ini masih dalam tahap renovasi. Saking luasnya, pintunya banyak sekali. Ada tiga nama raja Arab Saudi yang aku lihat pelang namanya di sana, yaitu King Fahd, King Abdullah dan King Salman. Nama-nama mereka diabadikan sebagai nama pintu-pintu itu dan menakjubkannya lagi, satu nama saja untuk puluhan bahkan ratusan pintu.Misalnya, pintu King Fahd (King Fahd Gate) ada lebih dari 90 pintu. Jadi, ada King Fahd Gate 1, King Fahd Gate 2, dan seterusnya. Belum lagi pintu-pintu untuk King Abdullah dan King Salman.
Halaman masjid ini sangat luas. Halamannya disambungkan oleh sebuah jembatan kecil menuju Mal Al Shafwah Center. Di beberapa titik halamannya tampak pos-pos tempat penitipan barang-barang berharga milik jemaah seperti perhiasan, laptop, dan sebagainya. Ada penjaganya juga. Di dalamnya ada beberapa lemari penyimpanan berwarna putih dan posnya berdinding kaca. Nama tempatnya Locksafe Lockers.
Toilet??? Ya, tiap tempat ibadah pasti dilengkapi toilet dan khususnya masjid pasti ada tempat berwudhu. Menariknya, toilet di sini juga di Masjid Nabawi di Madinah, berada di ruang bawah tanah. Turun ke sana bisa menggunakan tangga, bisa juga dengan eskalator. Eskalator??? Ya, eskalator. Macam di mal saja ya. Toilet lelaki dan perempuan juga dipisah tempatnya.
Di dalamnya tak hanya berisi puluhan toilet, namun juga tempat berwudhu. Toiletnya pun tampak spesial dan tak ada di Indonesia. Toiletnya jongkok, namun tak seperti di Indonesia yang posisinya ditinggikan, kalau yang di sini, lubangnya rata dengan lantai. Bahkan lubangnya sepertinya tampak langsung ke bawah tanah karena ketika dilihat di bawahnya tampak saluran berdinding batu. Untuk ceboknya pun hanya menggunakan selang kecil yang dihubungkan ke sebuah keran. Toilet seperti ini juga bisa dijumpai di tempat-tempat umum lainnya seperti masjid restoran hingga Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.
Terus, ada alat pembersih halaman masjid, namanya Haram Captor. Alat ini seperti mobil kecil yang di badannya dilengkapi vacuum cleaner, sikat, dan sebagainya. Sesekali, para petugas yang berseragam biru muda tampak mengoperasikan mobil ini untuk membersihkan halaman masjid. Untuk membersihkan bagian dalam masjid, mereka tampak secara manual saja, yaitu menggunakan pel panjang dan botol plastik berisi campuran air dan cairan pembersih lantai.
Mekkah dikenal luas karena air yang sangat bersejarah dan bernilai, yaitu air zamzam. Dan pastinya, mata air zamzam memang aslinya ada di kota ini, tepatnya beberapa meter dari Kakbah, masih di dalam lingkungan Masjidil Haram. Di masa lalu, masih ceritanya mamaku nih, ketika beliau menunaikan ibadah haji pada 1989 lalu, di dekat Kakbah itu ada sumur zamzam. Jemaah bisa bebas mengambil airnya dari keran-keran yang disediakan. Namun sayangnya, banyak yang kemudian memanfaatkan khasiat air itu untuk mandi dan mencuci baju, sementara di situ adalah lingkungan masjid dan airnya kerap dipakai untuk bersuci. Akhirnya, sumur itu ditutup oleh Pemerintah Arab Saudi dan hanya disalurkan melalui keran-keran khusus bagi jemaah yang ingin mengambilnya.
Dan sekarang, di sana banyak terdapat keran serta tempat meminum air zamzam. Di banyak titiknya bahkan dilengkapi beberapa dispenser yang dilengkapi gelas-gelas plastik untuk sekali pakai. Tempat seperti ini juga banyak ditemui di Masjid Nabawi.
Rumah di Atas Gunung Batu
ADA yang unik dari pemandangan kota-kota di Arab Saudi ini, yaitu rumah-rumah tradisional mereka yang dibangun di atas gunung batu. Bentuknya kotak dan tampak gersang. Tak ada desain eksterior macam-macam seperti cat dinding yang berwarna-warni atau bentuk atap bahkan ukiran-ukiran tertentu. Warnanya sama semua, yaitu krem. Hanya tampak lubang-lubang jendela dan pintu-pintu berwarna coklat kusam. Tak ada halaman rumah. Kalau pun ada lahan kosong di sekitar perumahan ini hanyalah berupa padang pasir atau hamparan gunung batu tandus.
Jendela-jendela hotel pun rata-rata tertutup dengan dilengkapi semacam teralis khas mereka berwarna cokelat dan penuh ukiran. Bangunan tradisional mereka rata-rata hampir sama. Bangunan yang bisa dikenali dari jauh dari segi bentuknya hanya masjid, pom bensin dan mal. Bahkan sekolah pun hampir sama rupanya jika tak ada tampak para siswa belajar di kelas dan berkeliaran di sekitarnya.
Kondisi perumahan berbeda tampak di Kota Jeddah. Tak hanya ada perumahan warga di atas gunung, namun juga di pinggir jalan dengan desain yang bermacam-macam. Perumahan di pinggir jalan ini banyak juga yang mewah dan tampak rimbun ditumbuhi berbagai bunga berwarna-warni. "Ini adalah perumahan orang kaya seperti pejabat. Gubernur misalnya, tinggalnya di rumah mewah seperti ini," terang ustad pembimbing rombongan kami, H Arifin.
Jika kebanyakan rumah tradisional warganya berbentuk kotak dan di atas gunung, maka perumahan orang kaya ini memiliki desain yang beragam dan tentunya tampak mewah. Desain atapnya ada yang berupa lingkaran seperti puri-puri bangsawan Eropa, ada yang segitiga dan berundak-undak dan di sekitarnya dipenuhi ukiran berbagai rupa. Halaman mereka tampak rimbun, hijau dan tertata, dilengkapi oleh beberapa mobil mewah yang parkir di halamannya. Di sekeliling rumah dilingkupi pagar-pagar berukir indah dan tinggi dan di depannya berbentuk gerbang.
Nikmatnya Susu Unta
UNTA adalah hewan khas Tanah Arab. Hewan bertubuh tinggi ini berjenis mamalia dan memproduksi susu juga. Peternakannya ada di daerah bernama Hudaibiyah, tak jauh dari batas Kota Mekah. Hudaibiyah adalah sebuah perkampungan tradisional Arab yang dipenuhi hamparan gunung batu dan padang pasir. Daerah padang pasirnya luas, sehingga sangat cocok sebagai tempat peternakan unta. Di beberapa titik di sana, tampak kumpulan unta dari yang kecil hingga dewasa.
Ada juga beberapa pedagang susu unta yang menjajakan susu hewan tersebut. Sebotolnya dijual lima riyal. Rasanya nikmat tentunya bagi Anda penyuka susu hewan murni. Berbeda juga tentunya dengan susu sapi murni yang terasa kental dan anyir, susu unta ini lebih putih, encer dan tak anyir. Apalagi, dijualnya dalam keadaan dingin karena saat dijajakan, botol-botol susunya dimasukkan ke kotak pendingin oleh sang pedagang. Susu ini tak bisa disimpan berlama-lama karena bakal cepat basi. Setelah dibeli kemudian langsung diminum akan lebih bagus lagi.
![]() |
| Foto: Yayu Fathilal. Keterangan: Suasana salat di Masjid Terapung, Jeddah. |
![]() |
| Foto: Yayu Fathilal. Keterangan: Suasana di halaman Masjid Terapung, Jeddah. |
![]() |
| Foto: Yayu Fathilal. Keterangan:Di dalam museum di Kota Mekkah (lupa namanya). Museum ini mengoleksi banyak benda bersejarah seputar Mekkah, Kakbah dan Masjidil Haram. |
![]() |
| Foto: Yayu Fathilal. Keterangan:Gue dong selfie dulu di dalam museum hehehee |
![]() |
| Foto: Yayu Fathilal. Keterangan:Tisu basah yang dibagikan di pesawat atau di hotel gitu ya....lupa hehehee yang jelas berkesan banget karena bertulisan Arab kan jadi ada kenang-kenangan gitu |
![]() |
| Foto: Yayu Fathilal. Keterangan:Gula kemasan kecil atau sachet yang aku dapat sewaktu membeli kopi di sebuah kafe di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah beberapa jam sebelum pulang ke Indonesia. Gula ini diberikan gratis dan pastinya berkesan banget karena bertulisan Arab.....Tanda banget ya kalau pernah ke Arab wkwkwkwkk |
![]() |
| Foto: Yayu Fathilal. Keterangan:Suasana pertokoan di sekitar hotel kami di Madinah. |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar